list

Di Wilayah Biaya Politik Tinggi, Komunitas Ini yang Peduli

Facebook
Twitter
WhatsApp

Oleh : Ariyadi Ahmad

KOMUNITAS Umbul Teduh dalam season kelas mingguan Kafe Pintar Pemilu secara mengejutkan mendeklarasikan perang terhadap politik uang.

Ya, mengejutkan memang, di wilayah yang dikenal dengan biaya politik tinggi itu, sekelompok pemuda dengan tegas mengatakan eliminasi politik uang terlebih pada pemilih pemula.

Kafe Pintar Pemilu menggunakan dua pendekatan untuk memerangi hal tersebut, yakni pendekatan hukum dan agama.

Sepadan dengan tema yang diusung “Mengeliminasi Politik Uang pada Pemilih Muda Melalui Pendekatan Hukum dan Agama”.

Sedikitnya empat lembaga meracik wacana perangi politik uang itu bersama Umbul Teduh, diantaranya Pusat Studi Konstitusi dan Kepemiluan IAIN Metro, Bawaslu Kota Metro, KPU Kota Metro serta Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Komisriat Jurai Siwo Metro.



Kafe Pintar Pemilu lahir dengan spirit mewadahi (isi kepala) kaum muda terkait kepemiluan. Kegiatan tersebut, menurut pengelola sebagai pendobrak agar kajian menyoal pemilu di lingkungan kafe di Kota Metro tidak menjadi hal yang tabu. Tentu dengan melibatkan elemen elemen yang menjadi wasilah terwujudnya Pemilu sehat dan aktif.

Sebagai pembuka peracikan perang politik uang, Pembina Pusat Studi Konstitusi dan Kepemiluan IAIN Metro Syarifuddin menyampaikan, kajian yang dibahas pihaknya tersebut sedikit banyaknya berawal dari penelitian pada tahun 2022, yang ia lakukan bersama Fatihatul Khoiriyah (saat itu Ketua Bawaslu Lampung).

Saat itu, kata Syarifuddin,
hasil penelitian yang silakukan pihaknya sudah dikonferensikan di Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung.

Menurut Syarifudin, dari penelitian yang dilakikan pihaknya, politik uang yang menyentuh anak muda harus segera ditangani.



“Bisa saja anak muda akan menolak. Sebab anak muda memiliki daya tawar, terlebih target politisi jaei ini adalah pemilih muda yang mencapai 52 persen. Dengan angka tersebut pemilih muda bisa benar benar menjadi navigator dalam pemilu,” kata dia.

Di tempat yang sama, Komisioner KPU Kota Metro, Toni Wijaya menyatakan, bukti suatu negara demokratis adalah dengan adanya Pemilu.

“Dengan tujuan Pemilu sebagai sarana kedaulatan rakyat dan melakukan pergantian personal pemerintahan secara damai, aman dan tertib, lalu Politik uang adalah politik yang digunakan untuk mempengaruhi terhadap pilihan dalam Pemilu,” kata dia.

94 persen money politik itu, lanjut Toni, ada di Kota Metro. Karenanya, harus ada upaya yang dilakukan, sebagaimana yang diinisiasi Umbul Teduh.



“Ketik kita dalam kegelapan, kondisi tersebut jangan kemudin menjaadikan alasan untuk menyerah. Terus melakukan usaha untuk memperbaiki dengan menghidupkan cahaya disetip sudut agar menjadi lebih terang, dengan demikian harapan untuk menghilangkan money politik dapat diatasi,” tutur Toni.

Di sisi regulasi, Staf Bawaslu Kota Metro, Riki Ardianto menyampaikan regulasi yang mengatur dalam Pemilu 2024 menyoal permasalahan pelanggarannya tidak akan berbeda karena aturan mainnya sama antara Undang Undang Pemilu dan Pemilihan Pemilihan .

“Tagline bawaslu hari ini mengutamakan pencegahan. Maka menjadi penting keterlibatan kita sebagai pemilih pemula atau pun pemimpin di dalam internal kelompoknya untuk terus menyuarakan perjuangan pesang terhadap politik uang,” tegas dia.

Berbeda dengan tiga pembicara sebelumnya, Majelis Pembina Saka Adyasta Pemilu Provinsi Lampung, Arif Suhaimi memperkenalkan lembaganya yang lahir atas prakarsa Umbul Teduh dan Bawaslu.



“Ya, Saka Adiysta Pemilu yang dimotori oleh teman teman pramuka untuk membantu berkontribusi terhadap bangsa ini melalui kepemiluan,” kata dia.

Saka Adyasta Pemilu, lanjutnya, akan terus dikembangkan ke kabupaten/kota lainnya untuk terus dapat menyuarakan melek Pemilu.

Saka Adyasta Pemilu, jelas mantan aktivis pergerakan ini, memiliki proram unggulan, yaitu daya kritis masyarakat terhadap Pemilu dan keterlibatan masyarakat terhadap Pemilu.

‘Hingga pada akhirnya akan tidak ada lagi masyarakat yang tidak mengenal pemilu,” tegasnya.



Arif mengajak semua elemen untuk terus bergandengan tangan melakukan pergerakan. Selain pemilih pemuda juga peserta Pemilu itu sendiri, agar mampu memahami kepemiluan secara kaffah, dalam rangka meminimalisasi dan mengeliminasi politik uang.

Menurut Arif, yang dapat menjadi kontribusi, konsentrasi wacana terkait pentingnya keluarga yang bisa menjembatani, apa saja yang menjadi kepentingan. Pendekatan pemahamannya ada dua macam, yaitu memahami tergantung orang tua dan atau sebaliknya, orang tua dan keluarganya ikut apa kata yang muda.

“Kesetaraan gender menjadi metode yang penting untuk meminimlisir jalannya politik uang. Tidak lagi pemuda namun juga pemudi menjadi stracing dengan konsep mubaadalah, menjadi actor dalam mengambil andil peran terdepan,” tuturnya.

Di ahir sesi, Umbul Teduh menandatangani komitmen bersama dengan stakeholder PSKK, Bawaslu dan KPU Kota Metro untuk terus menjalankan Kafe Pintar Pemilu.



“Anak anak muda lebih rasional ketimbang orang tua nya. Lalu Pengaruh tafsir mubaadalah akan banyak kami tuangkan dalam tulisan tulisan,” ujar Arif.

Selain itu, tambahnya, keluarga menjadi sentrum perubahan itu. Kesalingan yang dibangun dengan keterlibatan banyak pihak untuk dapat terus merangkul keluarga keluarga dengan berkesalingan dalam banyak hal, termasuk soal melek politik bersih ini.

Satu satunya narasumber perempuan dalam kegiatan itu, Peneliti Pusat Studi Konstitusi dan Kepemiluan IAIN Metro, Sri Furyani mengawali opininya dengan mengatakan, dalam sebuah penelitian 2019 perempun memiliki jumlah yang besar yaitu 51 persen dari 150 juta orang pemilih dan itu adalah perempuan.

“Kemudian pemilih perempuan yang memilih politik uang jumlahnya adalah sekitar 60 persen, dengan rentan usia 30 tahun keatas,” kata dia.

Alasan yang dikemukan saat menerimanya politik uang, kata Sri, dengan sebab tidak tahu, namun ada yang tahu tapi tetap diambil, atau sudah tahu aturan politik uang namun diam saja tidak melapor.



“Faktor lainnya adalah banyaknya pemicu ekonomi dengan kebutuhan yang semakin meningkat namun pemasukan yang kurang,” jelas dia.

Pemahaman regulasi dan edukasi terkait politik uang, jelas Sri, kepada perempuan sangat diperlukan agar tidak terjadi halalnya politik uang tersebut.

“Lantas bagaimana dengan tahun 2024? apakah perempun masih rawan menjadi sasaran politik uang. Jawabanny adalah iya. 50 persen perempuan masih menjadi kontributor politik uang. Hal ini dapat dilakukan melalui keluarga dengan gertok tular. Gerakan perempuan melawan politik uang melalui pendekata keluarga,” tuturnya.

Penutup, Ketua Komisariat PMII Jurai Siwo Metro, Yoga Firmansyah menyatakan, politik adalah keniscayaan. Dengan fenomena yang hari ini marak terjadi banyak yang tergiring wacana publik, dengan grfik yang terus meningkat.

“Masalah yang dihadapi kelompok muda adalah ketidaksetabilan ekonomi. Bukti yang sesuai dengan sebelumnya yang hari ini melakukan ketidaksesuaian dulunya juga seperti kita,” kata Yoga.



Generasi muda, tambah dia, mudah jenuh, yang ahirnya membuat pemuda pasif dalam kontribusinya pada isu Pemilu.

“Fase frustasi akhirnya mejadi realitas di kalangan muda hari ini dalam menyikapi problematika dan banyaknya realita yang terjadi. Namun ada masanya datang pada generasi yang menempati pada fase puncak kesadaran. Dimana ia sudah dalam kesadaran yang klimaks terkait kesadaran Pemilu yang terjadi disekelilingnya,” tutupnya. (***)

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terkait

Copyright © pembaruan.id
All right reserved