PEMBARUAN.ID – Indonesia sebagai sebuah bangsa tak pernah lahir dari keheningan sejarah. Ia ditempa oleh gelombang perubahan, dicetak oleh keberanian untuk melawan, dan ditulis oleh tangan-tangan rakyat yang tak sudi tunduk pada ketidakadilan. Salah satu tonggak penting dalam perjalanan itu adalah Reformasi 1998—sebuah momentum yang lahir dari nyali kolektif, namun kini kian redup dalam ingatan generasi baru.
Melawan arus pelupaan itu, Kelompok Studi Kader (Klasika) Lampung menggelar acara Nonton Bareng dan Diskusi bertajuk “Merawat Ingatan, Menyalakan Perlawanan: Tiga Babak Revolusi Dunia”. Sebuah upaya sadar untuk menghidupkan kembali kesadaran sejarah dan mempertemukan generasi muda dengan api perubahan yang pernah membakar dunia.
Acara ini terbagi ke dalam tiga sesi, masing-masing menghadirkan film dokumenter revolusi besar dunia: Revolusi Kuba 1959, Revolusi Iran 1979, dan Reformasi Indonesia 1998. Sebuah rangkaian narasi global tentang keberanian rakyat melawan tirani.
Dalam sambutannya, Chepry Chairuman Hutabarat, Pendiri Klasika, menegaskan bahwa agenda ini bukan sekadar pemutaran film, tetapi bentuk nyata perlawanan terhadap lupa.
“Hari ini, sangat jarang yang memperingati Reformasi 1998. Padahal momen itu adalah titik balik sejarah di mana mahasiswa, intelektual, dan masyarakat sipil bersatu melawan pemerintahan otoriter,” tegas Chepry.
Ia menambahkan, dokumentasi tiga babak revolusi dunia ini menunjukkan bahwa perubahan sosial tidak pernah datang secara tiba-tiba. Ia adalah hasil benturan kekuatan, pertarungan ekonomi-politik global, dan perjuangan panjang rakyat yang sadar.
Mengutip pemikiran Tan Malaka, Chepry menekankan dua syarat terjadinya perubahan sosial: pertama, syarat objektif, yakni ketika rakyat secara luas hidup dalam ketertindasan; dan kedua, syarat subjektif, yaitu hadirnya kepemimpinan nasional yang berani menggerakkan perubahan.
Sementara itu, Ahmad Mufid, Direktur Klasika, menjelaskan bahwa pemilihan film-film revolusi ini bukan tanpa alasan. “Revolusi Kuba adalah contoh bagaimana masyarakat sipil merebut kekuasaan dari rejim penindas.
Revolusi Iran memperlihatkan kekuatan masyarakat Islam melawan otoritarianisme. Dan Reformasi Indonesia adalah bukti bahwa mahasiswa bisa menjadi lokomotif sejarah,” jelasnya.
Menurut Mufid, Reformasi 1998 bukan sekadar kenangan, tapi warisan tanggung jawab. “Itu adalah saat di mana mahasiswa turun ke jalan, meneriakkan perubahan, dan menjadi penggerak sosial. Maka, mengingatnya adalah bagian dari menjaga nyala semangat itu tetap hidup.”
Tak heran, forum ini disambut hangat oleh mahasiswa lintas kampus: dari BEM UIN Raden Intan Lampung, mahasiswa Universitas Lampung, mahasiswa asal Patani Selatan Thailand, hingga sejumlah organisasi ekstra kampus. Sebuah solidaritas lintas identitas, dalam semangat yang sama: menolak lupa.
Acara ini pun ditutup dengan semarak penampilan Orkes Ba’da Isya, grup musik mahasiswa yang menyulut semangat lewat lagu-lagu perlawanan. Nada dan narasi berpadu, menghidupkan kembali bara reformasi yang tak boleh padam. (red)














