PEMBARUAN.ID – Pers bukan sekadar alat pencatat sejarah—ia adalah bagian dari perjuangan bangsa, dan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), sejak didirikan pada 9 Februari 1946 di Surakarta, telah menjadi penjaga bara semangat itu. Hari kelahirannya kini kita kenang sebagai Hari Pers Nasional (HPN), pengingat bahwa pers adalah tiang penyangga demokrasi, sekaligus suara nurani publik.
Di tanah Lampung, bara itu mulai menyala jauh sebelum provinsi ini resmi berdiri. Awal 1950-an, di Telukbetung, semangat intelektual dan kemerdekaan berkumpul dalam sosok-sosok muda pelajar dan aktivis. Mereka mendirikan Persatuan Pelajar Wartawan Indonesia (PPWI), dipelopori oleh Ismet Ismail dan Anang Hoesin—sebuah langkah awal menuju kemerdekaan berpikir di bumi Sai Bumi Ruwa Jurai.
Namun sejarah tak selalu mudah. PPWI kemudian terpecah. Muncullah IPWI dan Yaperda, dua organisasi yang mencoba menyatukan langkah, tapi tak mampu mengatasi sekat dualisme. Di tengah kegamangan itu, Residen Lampung Raden Muhammad mengambil keputusan berani: menyerahkan tanah dan bangunan seluas 720 meter persegi di Durianpayung, Tanjungkarang, untuk Balai Wartawan. Tempat ini menjadi simpul baru para pewarta untuk berkumpul, berembuk, dan bersatu.
Lewat pertemuan yang digagas Zainal Abidin Daud dan dipimpin Paridjo Hardjo, terbentuklah Pewarta Lampung—organisasi tunggal wartawan di Lampung. Tapi sejarah kembali diuji. Tahun 1965, bangsa ini diguncang tragedi nasional: Gerakan 30 September (Gestapu).
Ketika bahaya ideologi ekstrem mengintai, wartawan Lampung tidak tinggal diam. Mereka berpihak. Bersama TNI, mereka turun ke jalan, menduduki kantor PKI-SOBSI, menghapus simbol-simbol yang hendak mencabik persatuan bangsa.
Mereka tak hanya menulis berita—mereka menoreh sejarah. Bahkan, sebagai lambang solidaritas, mereka mendaki Gunung Rajabasa dan menamai sebuah kawasan di pesisirnya sebagai Pantai Wartawan. Sebuah nama, sebuah simbol, meski kini status hukumnya tak mudah diklaim, semangatnya tetap melekat di hati.
Lalu, pada akhir Desember 1965, berdirilah secara resmi PWI Perwakilan Lampung. Sebuah fase awal dari langkah panjang menuju kemandirian. Dan pada 29 Mei 1970, melalui SK No. 018/P.P/1970, PWI Pusat mengesahkan status PWI Cabang Lampung. Inilah momen kebangkitan. Inilah awal dari 55 tahun perjalanan yang membara.
Sejak saat itu, tongkat estafet berpindah dari generasi ke generasi—dari mereka yang bukan hanya jurnalis, tetapi penjaga marwah pers.
Solfian Akhmad (1970–1972 & 1974–1990), ketua pertama sekaligus pendiri Harian Lampung Post, dikenal sebagai Mullah Pers Lampung—julukan dari Rosihan Anwar untuk dedikasinya yang luar biasa.
Muhaimin Kohar (1972–1974), tak hanya menulis, tapi bertempur bersama RPKAD—pejuang sejati yang menjadikan jurnalistik sebagai ladang pengabdian.
Martubi Makki (1990–1994), pemimpin yang mengharumkan nama Lampung dengan sukses menjadi tuan rumah Kongres PWI XIX dan Porwanas V tahun 1993, dibuka langsung oleh Presiden Soeharto.
Agus Soelaeman (1994–1998), simbol ketegasan dan integritas. Ia bersih-bersih anggota, menjaga PWI dari oknum tak bertanggung jawab.
Harun Muda Indrajaya (1998–2002), teladan wartawan sejati yang tetap menulis meski sakit. Kesetiaan pada pena, hingga hembusan terakhir.
Akhmad Rio Teguh (2002–2010), melanjutkan semangat sang ayah, Solfian. Ia memperluas PWI hingga ke delapan kabupaten/kota.
Supriyadi Alfian (2011–2021), membawa PWI Lampung ke era modern. Ia menggelar 24 Uji Kompetensi Wartawan (UKW), membentuk Sekolah Jurnalisme Indonesia (SJI), dan merenovasi Balai Wartawan menjadi gedung megah dan representatif.
Kini, estafet itu berada di tangan Wirahadikusumah (2021–2026), yang menjadikan pendidikan dan etika sebagai fokus utama. Ia membuka ruang kolaborasi dengan sekolah dan kampus, membentuk wartawan masa depan yang tidak hanya tajam menulis, tapi juga berjiwa luhur dan berdaya saing global.
55 tahun sudah, PWI Lampung tak pernah padam. Dari percikan perjuangan, menjadi kobaran profesionalisme.
Dari idealisme, menjelma aksi nyata.
Ini bukan sekadar catatan sejarah.
Ini adalah perjalanan jiwa—sebuah ikrar panjang untuk menjaga marwah pers,
menyuarakan kebenaran, dan mewartakan cahaya di tengah zaman yang kian kompleks.
Dan selama bara itu masih menyala,
PWI Lampung akan terus berdiri—tegak, bersuara, dan menjaga nurani bangsa. (tim/red)














