list

Selamat Jalan Sang Penasehat

Facebook
Twitter
WhatsApp

SAYA masih bergelut dengan aktifitas jurnalistik. Azan Dzuhur rasanya belum lama berkumandang, baru sekedar kepala berita yang saya tuliskan. Biasanya satu berita saya rampungkan, kemudian bergegas shalat.

Ada sebuah pesan WA yang mengejutkan saya dari Ketua PWI Lampung Wirahadikususmah, yang masuk dalam sebuah WA Group, masuk pukul 13.26 wib. Tertulis di sana, Innalilahi wa Innailaihirojiun. Tokoh pers Lampung H. Bambang Eka Wijaya Bin Panggih menghembuskan napas terakhir di Rumah Sakit Umum Daerah Abdoel Moeloek (RSUDM) Bandar Lampung, Senin (13/3) pukul 13.25 WIB.

“Informasi ini benar atau tidak?” tulis Wira, yang kemudian langsung dijawab oleh Pemred Sumatera Pos Elkana Rio Adil “Benar!”

Saya dak kuasa lagi membalas pesan tersebut, hanya sebuah emot ucapan belasungkawa saya kirimkan. Terbayang senyum khas sosok yang ramah, penyabar, ngemong, berdedikasi tinggi, cerdas, aktif, dan masih banyak sifat baik lainnya yang sulit diuraikan satu persatu. Dia telah pergi.

Ya, saya memang tidak begitu dekat dengan mendiang Pak Bambang (begitu saya menyapanya). Tapi kartu Kopetensi Wartawan Madya yang saya kantongi sejak tahun 2011, keluar atas penilaian beliau sebagai penguji.

“Kamu masih muda. Teruslah berkembang,” pesan Pak Bambang kepada saya saat itu.

UKW : Bambang Eka Wijaya saat menguji saya (Ariyadi Ahmad) dalam Uji Kopetensi Wartawan di Balai Warrawan H Solfian Achmad, Oktober 2011.

 

Sejumlah ucapan duka terus berdatangan dari para kolega. Salah satunya dari Wakil Ketua Komisi III DPRD Lampung H Noverisman Subing.

Nover menuturkan penyesalan mendalam, lantaran tak sempat menjenguk almarhum ketika dirawat di sebuah rumah sakit.

“Almarhum Mas Bambang meninggal dalam usia 76 tahun setelah sempat dirawat akibat komplikasi penyakit yang diderita selama dua tahun terakhir. Maafkan saya mas. Saya bersaksi, bahwa Mas Bambang adalah orang baik,” kata pria yang akrab disapa Kanjeng itu.

Menurut Kanjeng, hingga ahir hayatnya Pak Bambang masih tercatat sebagai Pemimpin Umum Lampung Post. Pak Bambang disemayamkan di rumah duka Jalan Dahlia Nomor 1 Perumahan Bataranila, Hajimena, Lampung Selatan.

“Perkenalan saya dengan Mas Bambang terjadi sekitar tahun 1993, saat beliau dipercaya Surya Paloh pemilik Media Indonesia grup untuk menjadi Pemimpin Redaksi Lampung Post. Sementara saya sendiri sudah meninggalkan Lampung Post tahun 1991 karena diterima menjadi Koresponden Koran Sore Harian Umum Suara Pembaruan Jakarta,” tutur Kanjeng.

Diskusi dirinya dengan Pak Bambang kian masif, lanjut Kanjeng, manakala puluhan karyawan dan wartawan Lampung Post hengkang dan mendirikan Koran Trans.

“Saat itu saya masih melihat raut ketegaran di wajah Mas Bambang meskipun saya tahu dalam hatinya ‘bergemuruh’ apalagi Lampung Post harus menghentikan penerbitanya sehari atau dua hari,” kisah Kanjeng.

Sejak saat itulah, tambah Kanjeng, hubungan antara dirinya dan Pak Bambang makin dekat. Terlebih ketika dirinya menjadi Wakil Bupati Lampung Timur 2005-2010.

“Saat itu, saya tidak segan-segan meminta saran kepada beliau (Pak Bambang) tentang banyak hal. Bahkan sesama penasehat PWI Lampung beberapa periode kami pun terus berdiskusi untuk kepentingan organisasi wartawan tertua dan terbesar di negeri ini,” ungkapnya.

Komunikasi terahir antara dirinya dengan Sang Penasehat itu, jelas Kanjeng, ketika pria kelahiran Pematang Siantar, Sumatra Utara 6 Oktober 1946 dirawat di salah satu rumah sakit.

“Ya, saya sangat menyesal tidak bisa menjenguk beliau saat berada di rumah sakit beberapa waktu lalu. Maafkan saya ya Mas. Saya bersaksi bahwa Mas Bambang orang baik, kepada siapa saja,” sesalnya.

Pak Bambang mengawali karir sebagai jurnalis, korektor dan reporter Waspada Teruna Group di Medan. Ia kemudian pindah ke Harian Sinar Indonesia Baru yang juga terbit di Medan tahun 1970-1985 dan akhirnya bergabung ke Harian Prioritas, Jakarta, tahun 1985-1988, sebagai redaktur pelaksana.

Dewan Penasehat PWI Lampung itu pernah menjadi Pemimpin Redaksi Bintang Sport dan Film, Medan, tahun 1988-1990 hingga akhirnya bergabung dengan Media Indonesia 1990-1993. Tahun 1993, ia menjadi pemimpin Redaksi Lampung Post.

Pak Bambang merupakan Inspirator bagi juenalis muda seperti saya. Beliau Jurnalis Senior yang tidak berhenti berkarya dan terus belajar. Hingga ahir hayatnya, beliau merupakan sosok jurnalis yang masih tetap aktif menulis di rublik Buras Lampung Post. (***)

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terkait

Copyright © pembaruan.id
All right reserved