Jejak Monumental Anak Kampung di Kancah Politik Lampung
DINI hari, Kamis (10/10/2024) ketika kota masih terlelap, kabar duka menyebar perlahan namun pasti. Mas Tris, panggilan akrab bagi H. Eddy Sutrisno bin Muhammad Ngisa, telah berpulang ke pangkuan Ilahi.
Di usia senja, sosok yang pernah menjabat Walikota Bandarlampung periode 2005 – 2010 itu berpulang setelah lama berjuang melawan sakit. Berita kepergiannya terus mengalir di grup WhatsApp, meninggalkan rasa kehilangan yang mendalam di hati masyarakat Lampung.
Mas Tris, bagi banyak orang, bukan sekadar pemimpin. Ia adalah potret perjuangan anak kampung yang gigih mendaki puncak politik.
Dengan brewok yang menjadi ciri khasnya, ia menyusuri jalan dari Ketua AMPI Kecamatan Natar hingga menduduki posisi strategis sebagai Ketua DPD I AMPI Lampung di era 1980-an.
Jalannya tak mudah. Namun, ia selalu punya keberanian untuk melangkah, bahkan ketika jalan terlihat suram. Bersama tokoh seperti Indra ZA Pagaram dan Binana Sitepu, Mas Tris membentuk barisan kuat yang membawa napas baru di kancah politik pemuda dan Golkar di Lampung.
Pada suatu saat di tahun 1997, dalam proses penyusunan daftar calon anggota DPRD Lampung, Mas Tris menunjukkan sisi humanisnya. Di tengah atmosfer politik yang panas, ia memperjuangkan rekannya, memastikan mereka mendapat nomor kecil dalam daftar, bukan sekadar “nomor sepatu”—istilah yang merujuk pada urutan besar yang nyaris mustahil membawa kemenangan.
Mas Tris paham, dalam politik, dukungan itu lebih dari sekadar suara; itu adalah kepercayaan dan persaudaraan.
Tapi Mas Tris bukan hanya soal politik. Ia juga menaruh perhatian pada dunia pendidikan. Lewat Yayasan Swadipa di Natar, ia membangun jembatan bagi generasi muda untuk meraih pendidikan yang lebih baik. Begitu pula di bidang olahraga, ia senantiasa hadir sebagai pendukung yang tulus.
Sebagai seorang jurnalis yang pernah berinteraksi dengannya, saya mengenal Mas Tris sebagai sosok rendah hati yang tak segan berbagi ilmu. Ia seringkali menyisipkan pelajaran dalam percakapannya—tentang kehidupan, tentang arti ketulusan, dan tentang bagaimana menghargai setiap momen yang kita miliki.
Dan kini, Mas Tris telah pergi. Sosoknya mungkin tiada, tetapi jejaknya takkan terhapus. Setiap langkahnya, setiap perjuangannya, adalah cerita yang akan terus hidup dalam kenangan. Selamat jalan, Mas Tris. Di tanah Lampung ini, engkau tetap menjadi sosok yang abadi. (***)














