iklan
SOSOK

Mengenang Kebersamaan di Tanah Suci, Yai Munzir dan Keteladanan

×

Mengenang Kebersamaan di Tanah Suci, Yai Munzir dan Keteladanan

Share this article

Oleh: Ahmad Basuki
Ketua Komisi II DPRD Lampung

KABAR itu datang seperti angin yang tak pernah kita undang, tetapi tiba-tiba sudah berada di dalam dada. Singkat, berantai, dan dingin: Yai Munzir telah berpulang.

Saya terdiam cukup lama. Bukan karena tidak percaya, melainkan karena ingatan saya segera berlari jauh—ke sebuah ruang sederhana di Tanah Suci, ke satu kamar yang pernah kami tempati bersama. Di sanalah, tanpa banyak kata, saya belajar tentang arti menjadi manusia.

Kami tidak berasal dari generasi yang sama. Nama beliau lebih dulu hidup dalam cerita—dituturkan dari satu kader ke kader lain, dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya. Tentang keteguhan yang tak goyah, kesederhanaan yang tak dibuat-buat, dan keikhlasan yang tidak pernah mencari panggung.

Hingga suatu hari, Allah mempertemukan kami. Bukan di forum besar, bukan dalam seremoni, tetapi dalam kebersamaan yang sangat biasa: satu kamar hotel di Tanah Suci.

Pertemuan itu, bagi saya, adalah anugerah. Yai Munzir tidak datang dengan aura tokoh besar. Tidak ada tanda-tanda yang membuat orang harus menoleh dua kali. Ia tampak seperti kebanyakan jemaah lain—tenang, sederhana, dan nyaris tak ingin dikenali. Namun justru di situlah letak kekuatannya.

Saya mulai memahami siapa beliau bukan dari pengakuan, melainkan dari kebiasaan. Ia bangun lebih awal, seringkali sebelum yang lain terjaga. Langkahnya pelan, tapi pasti, menuju masjid. Tidak tergesa, tidak pula ingin dilihat. Ia membantu jemaah lansia dengan cara yang nyaris tak terlihat—seolah-olah itu bukan kebaikan, melainkan sesuatu yang memang seharusnya dilakukan.

Ia tidak banyak bicara. Tetapi ketika berbicara, kata-katanya seperti air jernih: sederhana, namun mengendap lama di dalam hati.

Tidak pernah saya mendengar beliau menyebut jabatan. Tidak pula bercerita tentang pencapaian. Bahkan untuk dikenang pun, rasanya ia tidak pernah berniat.

Suatu malam, dalam percakapan yang nyaris tanpa beban, beliau berkata pelan,
“Jangan kejar dikenal orang… kejarlah agar kita tidak kehilangan nilai.”

Kalimat itu, saat itu, terasa seperti nasihat biasa. Namun hari ini, ketika beliau telah tiada, kalimat itu menjelma gema—mengisi ruang-ruang kosong yang ditinggalkannya.

Kebersamaan kami memang singkat. Hanya hitungan hari dalam satu kamar di Tanah Suci. Tetapi justru dalam kesingkatan itu, saya menemukan sesuatu yang tidak selalu bisa didapat dalam waktu panjang: keteladanan yang hidup.

Hari ini saya sadar, yang saya kehilangan bukan sekadar seorang senior. Saya kehilangan seorang penunjuk arah—yang tidak pernah merasa sedang menunjukkan jalan.

Yai Munzir mungkin tidak meninggalkan nama yang bergemuruh. Tetapi ia meninggalkan sesuatu yang jauh lebih abadi: jejak akhlak, kesahajaan sikap, dan keikhlasan yang nyaris sunyi.

Dan barangkali, memang seperti itulah orang-orang besar memilih jalannya—tidak ramai di dunia, tetapi penuh di hadapan-Nya.

Selamat jalan, Yai.
Terima kasih atas pelajaran yang tak pernah kau ucapkan sebagai pelajaran.

Kami yang ditinggalkan hanya mampu berdoa:
semoga Allah menerima seluruh amal ibadahmu, melapangkan kuburmu, dan menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.

Dan semoga kami—yang pernah bersamamu, meski sebentar—mampu menjaga nilai yang engkau wariskan, walau kami tahu, tak akan pernah benar-benar mampu menggantikanmu.

Alfatihah


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *