iklan
SOSOK

Selamat Jalan, Mentor Pers Lampung

×

Selamat Jalan, Mentor Pers Lampung

Share this article

MALAM itu tidak ada yang terasa ganjil. Langit seperti biasa. Telepon genggam masih berbunyi. Percakapan berjalan normal. Dunia tidak memberi aba-aba apa pun bahwa satu kursi di ruang redaksi akan segera kosong.

Lalu kabar itu datang — pelan, tapi memutus banyak kalimat sekaligus.

Syamsul Bahri Nasution, Pemimpin Redaksi Lampung TV, berpulang Minggu malam, 15 Februari 2026 sekitar pukul 22.30 WIB.
Mendadak. Tanpa tanda kurung pembuka. Tanpa paragraf pengantar.

Padahal sehari sebelumnya ia masih menulis tentang jalan dan beton di Probolinggo — tentang sesuatu yang kokoh, sesuatu yang panjang umur. Ironisnya, manusia yang menuliskannya justru lebih cepat selesai dari kalimatnya.

Ia sempat dibawa ke Rumah Sakit Urip Sumoharjo. Tetapi barangkali tubuh punya redaksi sendiri. Dan redaksi itu memutuskan edisi terakhir harus tayang malam itu juga.

Jenazah disemayamkan di rumah duka kawasan Terminal Rajabasa, Bandarlampung. Orang-orang datang. Tidak banyak bicara. Karena kehilangan selalu membuat bahasa terasa berlebihan.

“Baru dua hari lalu kami teleponan,” kata seorang sahabat. Kalimat pendek. Tapi cukup panjang untuk memuat rasa tidak percaya.

Wartawan yang Tidak Pernah Selesai Mengajar

Ia anggota Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) sejak 1984. Puluhan tahun — angka yang bagi wartawan lebih mirip umur sebuah liputan daripada umur manusia.

Pernah memimpin Lampung Post (1990–1999).
Pernah menjadi manajer di MNC Group (2008–2011). Tetapi jabatan hanyalah kartu nama. Yang lebih diingat orang justru cara ia menegur.

Ia tidak memarahi.
Ia mengulang pertanyaan.

“Kenapa judulmu bikin orang lelah?”
“Kenapa kamu sudah menghakimi sebelum fakta selesai bicara?”
“Kenapa kamu buru-buru?”

Tiga kata yang selalu ia rawat: angle, etika, teliti. Bukan teori — kebiasaan berpikir.

Ia percaya berita bisa melukai. Maka wartawan harus lebih hati-hati daripada dokter bedah.

Mimpi yang Belum Sempat Menjadi Gedung

Ada satu rencana: sekolah jurnalistik.
Gedungnya belum berdiri. Mungkin karena ia lebih dulu membangun manusia.

Banyak wartawan di Lampung tiba-tiba sadar:
yang mereka praktikkan selama ini ternyata adalah kurikulum diam-diam dari seorang mentor.

Ia tidak pernah benar-benar membuka kelas.
Tapi banyak yang lulus.

Kini ruang redaksi tetap menyala.
Keyboard masih berbunyi.
Judul tetap dicari.

Hanya saja, tidak ada lagi seseorang yang menatap dari belakang lalu berkata pelan:
“Coba kamu pikir lagi.”

Selamat jalan, Bang Syamsul.
Tulisanmu berhenti, tetapi cara kami menulis tidak akan pernah sama lagi. (***)


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *