DI tengah riuh rendah deru mesin pembangunan di Lampung Selatan, Institut Teknologi Sumatera (Itera) berdiri tegak menyongsong masa depan. Namun, bagi seorang pemuda bernama Verlantra Aldivaro Mirda Subing, teknologi bukanlah satu-satunya instrumen untuk menaklukkan dunia.
Ada sesuatu yang bergejolak di balik tatapan mata dingin pemuda yang sejak kecil mengidolakan Korp Pasukan Khusus (Kopasus) TNI itu, yakni Darah Pergerakan.
Aldi, begitu ia karib disapa. Mahasiswa semester satu ini hadir dengan aura yang berbeda. Alumnus SMAN 9 Bandar Lampung tersebut membawa persona yang tenang, irit bicara, namun tajam dalam berpikir.
Aura “dingin” itu seolah menjadi pelindung bagi api semangat yang ia warisi dari sang ayah, Noverisman Subing—sosok politisi ulung sekaligus wartawan senior yang namanya sudah malang melintang di Bumi Ruwa Jurai.
Menembus Kebekuan
Jumat hingga Minggu (11/01/2026), di Gedung KNPI Lampung, pemandangan kontras terlihat di antara puluhan mahasiswa berseragam hitam-putih. Di tengah prosesi Masa Penerimaan Anggota Baru (Mapaba) PMII yang digelar Rayon Hukum Komisariat Malahayati, Aldi berdiri tegak.
Ia tidak sekadar hadir untuk menggugurkan kewajiban administratif. Beberapa kali tangannya mengudara, memecah kesunyian ruangan dengan pertanyaan-pertanyaan yang bernas.
“Saya ingin tahu lebih dalam apa itu PMII. Organisasi ini yang membesarkan ayah saya,” ucap pemuda kelahiran 2006 ini dengan nada bicara yang mantap saat berbincang dengan penulis di sela Mapaba.
Bagi Aldi, PMII bukan sekadar akronim. Ia adalah kepingan memori tentang kejayaan ayahnya, tentang nilai-nilai yang membentuk karakter keluarganya. Ia ingin menyusuri jejak kaki sang ayah, namun dengan sepatunya sendiri.
Menantang Arus di Kampus Teknologi
Pilihan Aldi tergolong berani. Di Itera, organisasi ekstra kampus—termasuk PMII—seringkali harus bergerak dalam senyap, tumbuh di bawah radar di tengah ketatnya kurikulum teknologi. Namun, hambatan itu justru menjadi bahan bakar bagi rasa penasarannya.
“Justru karena PMII belum ada di Itera, membuat rasa penasaran saya menjadi-jadi,” ujarnya lugas.
Ia sadar betul tantangan menjadi “pembuka jalan” bukanlah perkara mudah. Namun, ia tidak gentar. Aldi memilih untuk tumbuh dan besar bersama organisasi yang dibidani oleh para cendikiawan muda Nahdlatul Ulama (NU) ini.
Baginya, teknologi tanpa landasan ideologi adalah alat tanpa ruh. Dan di PMII, ia mencari ruh tersebut—untuk menyeimbangkan antara kecanggihan kognitif di kampus dan kepekaan sosial di lapangan.
Aldi Subing mungkin adalah sosok yang dingin secara lahiriah, namun di dadanya, api biru PMII baru saja disulut. Dan sejarah, biasanya ditulis oleh mereka yang berani menyalakan api di tempat yang paling gelap sekalipun.
Tabik














