iklan
SOSOK

Ganjar 2.0

×

Ganjar 2.0

Share this article

SIANG itu, di ruang pertemuan yang dinginnya dikalahkan oleh hangatnya tawa, belasan pengurus PWI Lampung duduk melingkar bersama Gubernur Rahmat Mirzani Djausal.

Meja penuh gelas minuman yang sudah setengah dingin, dan obrolan yang tak kalah panas dari bara semangat di dada para wartawan.

Seperti biasa, kalau wartawan bertemu pejabat, topik bisa melompat dari urusan publik sampai ke urusan nasi uduk.

Namun kali ini ada yang menarik. Setiap kali pembicaraan mengarah ke kinerja Dinas Komunikasi dan Informatika, Gubernur selalu menimpali dengan senyum geli dan sebuah istilah baru:

“Sekarang Bang Ganjar ini sudah 2.0, bukan 1.0 lagi,” katanya sambil melempar senyum ke arah Kadiskominfo, Ganjar Jationo, yang duduk di sudut dengan tawa malu-malu tapi bangga.

Kalimat itu disambut tawa riuh. Namun di balik gurauan gubernur, terselip makna serius — semacam pengakuan atas transformasi.

Mungkun, disadarinya jika dulu komunikasi pemerintah itu satu arah. Pemerintah bicara, rakyat mendengar. Tapi sekarang, dengan segala platform digital, media sosial, dan keterbukaan informasi, rakyat pun bisa menegur, menasihati, bahkan memarahi pemerintah lewat layar ponsel.

Nah, di situlah Ganjar Jationo muncul sebagai “versi 2.0”. Tak lagi sekadar pejabat yang menyalurkan informasi, tapi juga mendengarkan, merespons, dan menyesuaikan diri dengan irama zaman yang serba cepat.

Dari sistem pelayanan digital hingga cara pemerintah berdialog dengan masyarakat — semua disentuh oleh tangan dingin Sang Kadis yang sudah “upgrade” itu.

“Kalau dulu Kominfo itu urusannya cuma ngetik dan kirim rilis, sekarang sudah pakai drone, pakai AI,” seloroh seorang wartawan tua di pojok ruangan.

“Jangan-jangan sebentar lagi jumpa pers pakai hologram.”

Ganjar cuma mengangkat alis, antara menahan senyum dan menimbang ide gila itu di kepalanya.

Begitulah gaya Lampung sore itu — santai tapi penuh makna. Di tengah obrolan ringan, terselip kesadaran bahwa birokrasi pun harus belajar beradaptasi.

Bahwa kehumasan pemerintah tidak lagi bisa sekaku formulir, tapi harus sehangat percakapan warung kopi.

Dan mungkin, kalau Mahbub Djunaidi betul-betul hadir sore itu, ia akan menutup catatannya dengan kalimat seperti ini:

“Ganjar 2.0 bukan sekadar pejabat versi baru. Ia adalah simbol bahwa pemerintahan pun bisa berevolusi — asal mau menyalakan akal dan menyiapkan hati untuk mendengar.”

Tabik…


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *