iklan
PERISTIWA

Tangis di Sabah Balau: Rumah Runtuh, Harapan Luruh

×

Tangis di Sabah Balau: Rumah Runtuh, Harapan Luruh

Share this article

LANGIT di Sabah Balau muram sejak pagi, Rabu (12/02/2025). Awan-awan menggantung rendah, seakan tahu bahwa hari itu akan ada kisah pahit yang tertulis di tanah. Di bawahnya, warga berdiri berhadapan dengan barisan aparat.

Mata mereka penuh tanya, penuh amarah, tapi lebih dari itu, penuh ketakutan yang coba mereka sembunyikan.

Mereka bukan hanya berdiri di atas tanah. Mereka berdiri di atas puluhan tahun kehidupan. Di atas rumah yang mereka bangun dengan keringat, di atas kenangan yang tertanam di setiap sudut tembok.

Tapi bagi mereka yang datang dengan perintah penggusuran, tempat ini hanya sebatas aset. Sesuatu yang bisa diambil kapan saja, tanpa perlu memikirkan hati yang terluka.

Lalu dentuman pertama terdengar. Ekskavator mulai merobohkan satu per satu bangunan yang selama ini mereka sebut rumah. Jeritan bercampur dengan suara benda-benda yang jatuh dan debu yang berhamburan di udara.

Seorang ibu berusaha menarik anaknya yang menangis ketakutan. Seorang lansia terduduk lemas, napasnya memburu, butuh oksigen yang entah datang atau tidak. Seorang perempuan hamil tersungkur di tanah, pingsan, tubuhnya tak lagi kuat menahan ketakutan dan kelelahan.

Penggusuran Tak Mengenal Belas Kasihan

Di antara kekacauan itu, seorang warga terluka di bagian bibir akibat pukulan seseorang yang berpakaian sipil. Seorang lainnya mengaku kepalanya dibenturkan ke tanah oleh aparat.

Perempuan hamil yang pingsan akhirnya dibawa ke rumah sakit—bukan dengan rasa tanggung jawab, tapi sekadar menghindari tatapan publik. Bahkan setelah itu, ia ditinggalkan begitu saja.

“Atas dasar itu, kami mengutuk segala bentuk kekerasan terhadap warga dan menuntut Pemprov Lampung untuk bertanggung jawab,” ujar Sumaindra Jarwadi, Direktur LBH Bandar Lampung sekaligus perwakilan Koalisi Masyarakat Sipil Lampung.

Penggusuran ini terjadi dengan dalih penertiban aset lahan milik Pemprov Lampung. Namun, warga bertanya, sejak kapan tanah yang mereka tinggali puluhan tahun ini bukan milik mereka? Tanah yang selama lebih dari dua dekade dibiarkan tanpa kejelasan oleh pemerintah, kini tiba-tiba diklaim dan dirampas.

Tak ada putusan pengadilan yang mengesahkan penggusuran ini. Tak ada kepastian hukum yang melindungi mereka. Yang ada hanya kenyataan pahit: bahwa di negeri ini, rumah yang telah lama berdiri bisa seketika dihancurkan, dan manusia yang menghuni bisa seketika diusir tanpa jawaban.

Dan seperti luka-luka lain di negeri ini, besok kita mungkin akan lupa.
Tapi bagi mereka yang kehilangan rumah, luka ini tak akan sembuh begitu saja.

Sebab rumah bukan sekadar bangunan. Rumah adalah kenangan, harapan, dan kehidupan.
Dan hari itu, harapan mereka ikut terkubur bersama puing-puing yang berserakan di tanah Sabah Balau. (***)

Pewarta: Sandika Wijaya
Editor: Ariyadi Ahmad


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *