(Tanggapan tulisan Sahabat Aras)
Oleh: Dr H Wahyu Iryana
Penulis Akademisi UIN Raden Intan Lampung, Pengurus ADP
TULISAN Aras Prabowo tentang “Nasaruddin Umar Penerus Cita-Cita Paus Fransiskus” yang dimuat di Media Times Indonesia baru-baru ini mengusung narasi yang menggugah sekaligus kontroversial. Ya walau dalam posisi ucapan berduka, namun dalam tulisan tersebut, Prof. Dr. Nasaruddin Umar, MA., Imam Besar Masjid Istiqlal dan tokoh Islam moderat Indonesia, disebut sebagai “Paus-nya dunia Islam”. Meski disebutkan bukan dalam arti struktural, tetapi dalam semangat, analogi ini tetap mengandung potensi kekeliruan dalam memahami relasi antara semangat kemanusiaan dan prinsip teologis Islam. Narasi tersebut layak ditanggapi secara serius dan kritis.
Dalam pandangan Islam, penghormatan kepada tokoh lintas agama dan apresiasi atas perjuangan kemanusiaan merupakan bagian dari adab bermasyarakat global. Namun Islam juga mengajarkan batas tegas antara prinsip humanisme universal dan keimanan partikular. Kesetaraan dalam nilai-nilai kemanusiaan tidak serta-merta menjadikan semua agama atau tokohnya sejajar dalam kebenaran iman menurut ajaran Islam.
Menelaah Konsep Kepausan dan Spiritualitas Islam
Paus Fransiskus adalah pemimpin tertinggi umat Katolik dunia. Dalam Gereja Katolik, ia dipandang sebagai penerus takhta Santo Petrus dan memiliki otoritas spiritual serta institusional yang besar. Kiprah Paus Fransiskus dalam membela kaum miskin, mendorong dialog antaragama, serta memperjuangkan perdamaian dunia memang layak diapresiasi. Ia bahkan menjadi figur moral global yang sering dijadikan rujukan oleh tokoh lintas agama dan negara.
Namun, dalam Islam tidak ada konsep “kepausan”. Tidak ada satu pun manusia setelah Nabi Muhammad SAW yang memiliki otoritas spiritual tertinggi yang mengikat seluruh umat. Islam adalah agama yang berbasis wahyu dan ijtihad. Pemimpin agama dalam Islam adalah ulama, bukan imam suci yang ma’shum (bebas dari dosa).
Menyebut Prof. Nasaruddin Umar sebagai “Paus-nya Dunia Islam” berpotensi memunculkan pengertian keliru, seolah-olah dalam Islam juga terdapat struktur otoritas keagamaan sentralistik seperti dalam Gereja Katolik. Ini tentu tidak sejalan dengan prinsip kesetaraan dalam Islam, yang menegaskan bahwa semua Muslim adalah bersaudara, dan tidak ada kelebihan satu atas yang lain kecuali dalam takwa (QS. Al-Hujurat: 13).
Kesetaraan Humanis dan Kesadaran Iman
Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan. Konsep rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam) menjadi dasar dari ajaran sosial Islam. Dalam hadis Nabi Muhammad SAW diriwayatkan: “Sayangilah yang di bumi, maka yang di langit akan menyayangimu” (HR. Tirmidzi). Ajaran ini menekankan kasih sayang universal yang bersifat lintas iman dan kebangsaan.
Namun, dalam soal akidah dan iman, Islam memiliki posisi yang jelas. QS. Ali Imran: 19 menegaskan: “Sesungguhnya agama (yang diridhai) di sisi Allah adalah Islam.” Ini bukan bentuk intoleransi, melainkan ketegasan teologis yang menjadi hak setiap agama.
Kesetaraan dalam hal kemanusiaan (human dignity) bukan berarti semua agama sama benar (relativisme). Kita bisa bekerja sama dengan siapa pun dalam hal kebaikan dan kemanusiaan (ta’āwun ‘ala al-birr), tetapi tidak boleh mencampuradukkan iman dan relativisme akidah.
Dialog antaragama tidak dimaksudkan untuk mencari titik temu dalam kebenaran iman, melainkan membangun kehidupan damai dan harmonis dalam keberbedaan. Dalam konteks ini, Prof. Nasaruddin Umar memang layak diapresiasi sebagai tokoh dialog antariman, tetapi bukan sebagai simbol religiusitas tunggal dalam Islam.
Keteladanan Nabi Muhammad SAW dan Tokoh Perdamaian
Dalam Islam, Nabi Muhammad SAW adalah teladan utama dalam hal membangun perdamaian. Rasulullah dikenal sebagai tokoh yang menghindari kekerasan dan senantiasa mengedepankan musyawarah. Piagam Madinah (Constitution of Medina) adalah bukti historis bahwa Islam sudah mengenal konsep pluralisme sosial dan hak-hak minoritas sejak abad ke-7.
Dalam sejarah Islam klasik dan modern, banyak ulama dan pemimpin Muslim yang menjadi duta damai tanpa kehilangan identitas keislaman mereka. Syaikh Ahmad Al-Tayyeb dari Al-Azhar, misalnya, tetap menjunjung tinggi akidah Islam sambil menjalin hubungan baik dengan tokoh lintas agama, termasuk Paus Fransiskus. Namun, tak satu pun menyebut beliau sebagai “Paus-nya Islam.”
Penyematan label semacam itu, meski mungkin dimaksudkan sebagai pujian, dapat menjadi bumerang yang mengacaukan peta pemahaman umat Islam tentang otoritas keagamaan. Islam adalah agama yang menjaga keseimbangan antara penghargaan kepada manusia dan ketundukan kepada Tuhan semata.
Menjaga Perdamaian Tanpa Menanggalkan Akidah
Upaya mewujudkan perdamaian dunia adalah bagian dari misi Islam. Namun, menjaga perdamaian tidak harus dengan cara menyamakan semua agama atau menyetarakan tokoh-tokohnya dalam posisi spiritual. Perdamaian dalam Islam dibangun di atas fondasi keadilan, penghargaan terhadap perbedaan, dan komitmen terhadap nilai-nilai luhur yang bersumber dari wahyu.
Dalam deklarasi Abu Dhabi 2019, “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Bersama,” Paus Fransiskus dan Syaikh Al-Azhar Ahmad Al-Tayyeb menandatangani dokumen penting yang menekankan kerja sama lintas iman. Namun, dalam dokumen itu, masing-masing tokoh tetap berdiri sebagai representasi dari agama masing-masing, bukan sebagai simbol hibrida antariman.
Prof. Nasaruddin Umar, dalam berbagai pidato dan tulisan, juga menekankan pentingnya menjaga keimanan di tengah upaya membangun perdamaian. Dalam pidatonya di UIII (2023), beliau menyatakan bahwa moderasi tidak berarti mengaburkan identitas keagamaan, melainkan memperkuatnya dengan cara yang inklusif dan damai.
Antara Karisma dan Kultus Tokoh
Pujian terhadap tokoh agama memang penting, terutama bagi generasi muda yang haus akan figur inspiratif. Namun, kultus terhadap tokoh dapat berbahaya jika mengaburkan batas ajaran. Islam tidak mengenal kultus individu, karena semua manusia—sebaik apa pun amalnya—tetap makhluk Allah yang tidak luput dari kekurangan.
Paus Fransiskus pun dalam konteks iman Islam tidak berada di posisi yang harus diikuti. Ia adalah manusia biasa, bukan nabi, bukan wali, bukan teladan iman dalam Islam. Ia bisa menjadi mitra damai, tetapi tidak bisa menjadi panutan akidah.
Begitu pula Prof. Nasaruddin Umar, setinggi apa pun kontribusinya dalam ranah kebangsaan dan kemanusiaan, tetap harus dilihat dalam kerangka ilmuwan dan ulama, bukan sebagai representasi tunggal iman Islam. Bahkan beliau sendiri kemungkinan besar tidak menghendaki penyematan gelar semacam itu.
Damai, tapi Jelas dalam Iman
Kita hidup di dunia yang penuh kompleksitas, dengan benturan identitas dan ideologi yang makin tajam. Dalam situasi seperti ini, Islam hadir sebagai agama yang mendorong perdamaian, keadilan, dan dialog lintas iman. Namun, semua itu harus dilakukan tanpa mengorbankan prinsip-prinsip dasar keimanan.
Kita harus membedakan antara pujian atas upaya perdamaian dan penempatan spiritual tokoh-tokoh agama. Islam memuliakan tokoh-tokoh damai, tapi hanya kepada Allah dan Rasul-Nya tempat kita menaruh iman dan taat mutlak.
Jangan sampai karena ingin tampil toleran, kita mengaburkan makna iman. Jangan pula karena ingin damai, kita menyamakan semua jalan ke Tuhan. Islam adalah jalan damai, tapi juga jalan yang jelas.
Kita ucapkan terima kasih kepada Paus Fransiskus atas kerja kerasnya membangun perdamaian dunia. Kita hormati Prof. Nasaruddin Umar sebagai tokoh intelektual dan ulama yang membawa Islam dalam wajah rahmat. Tapi mari kita jaga batas: kesetaraan dalam kemanusiaan bukan berarti kesetaraan dalam keimanan.
Biarlah Islam tetap Islam, dengan kehormatannya sendiri. Biarlah tokoh-tokohnya tetap jadi inspirasi, tanpa harus disamakan atau disilangkan dengan struktur agama lain.
Sumber Bacaan:
- Al-Qur’an: QS. Ali Imran: 19, QS. Al-Hujurat: 13
- Hadis: HR. Tirmidzi, HR. Ahmad
- Abu Dhabi Declaration 2019: “Human Fraternity for World Peace and Living Together”
- Pidato Prof. Nasaruddin Umar di UIII, 2023
- Situs resmi Masjid Istiqlal dan berbagai sumber media nasional
Wallahu’alam














