Oleh: Arif Suhaimi
Alumni PMII Lampung
SEJARAH selalu bergerak dalam gelombang panjang. Ada masa di mana ia tampak tenang, tetapi ada pula fase ketika ia bergejolak dan melahirkan perubahan besar. Nahdlatul Ulama (NU), yang kini memasuki usia seabad, lahir justru pada fase gelombang itu—ketika dunia Islam, kolonialisme, dan kesadaran kebangsaan saling berkelindan dan berkecamuk.
Di titik itulah Hadratussyech KH Hasyim Asy’ari bersama para kiai seperti KH Abdul Wahab Chasbullah tidak sekadar mendirikan organisasi. Mereka sedang merumuskan arah sejarah. NU lahir bukan untuk sesaat, melainkan untuk menjawab tantangan zaman dengan pijakan nilai yang kokoh: Ahlussunnah wal Jamaah, tradisi keilmuan, dan keberpihakan pada umat.
Yang menarik, energi utama dari kelahiran NU justru datang dari kaum muda. Tashwirul Afkar menjadi ruang dialektika, Nahdlatul Wathan menggerakkan nasionalisme, dan Nahdlatut Tujjar menopang kemandirian ekonomi. Kaum muda saat itu tidak sekadar menjadi pelengkap, tetapi motor penggerak. Mereka berpikir, bergerak, dan berani mengambil posisi dalam sejarah.
Bandingkan dengan hari ini. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), yang kini telah berusia 66 tahun, sejatinya adalah rahim dari kader-kader muda NU. Ia dibangun dengan semangat yang sama: melahirkan intelektual berwatak, bukan sekadar aktivis seremonial. PMII pernah menjadi kawah candradimuka—tempat di mana gagasan ditempa, nalar diasah, dan karakter dibentuk.
Namun dalam kenyataan kekinian, kita dihadapkan pada situasi yang tidak sepenuhnya ideal. Tradisi intelektual yang dahulu menjadi ruh, mulai tergeser oleh pragmatisme yang kian menguat. Diskusi digantikan rutinitas, dialektika digeser oleh kepentingan. Kaderisasi, yang semestinya menjadi proses pendewasaan, tak jarang menyempit menjadi formalitas.
Di sinilah letak perbandingan yang tak terhindarkan. Para kiai pendiri NU membangun gerakan dengan kesabaran intelektual,keberanian moral juga kekuatan spiritual.Mereka tidak tergoda hasil instan. Mereka bekerja dalam sunyi, tetapi dampaknya melampaui zaman. Sementara sebagian kaum muda hari ini justru hidup dalam percepatan: ingin cepat dikenal, cepat berada di posisi, dan cepat diakui.
Ini bukan sekadar perbedaan generasi. Ini soal orientasi.
Jika para pendiri NU menjadikan nilai “kejuangan” sebagai kompas, maka sebagian gerakan muda hari ini berisiko menjadikan momentum sebagai tujuan. Akibatnya, arah menjadi kabur. Kader mudah berpindah dari satu panggung ke panggung lain tanpa pijakan yang jelas. Dalam istilah sederhana: bergerak, tetapi tidak selalu tahu ke mana.
Padahal sejarah mengajarkan bahwa kekuatan NU tidak pernah bertumpu pada kekuasaan formal, melainkan pada kekuatan spiritual, kedalaman moral juga kekokohan kultur dan intelektual . Keputusan kembali ke Khittah 1926 adalah penegasan bahwa NU harus tetap menjadi penuntun, bukan sekadar pemain.
Pertanyaannya, apakah kesadaran itu masih hidup dalam tubuh kader mudanya?
Kini kita berada di persis satu abad NU—sebuah fase yang oleh banyak pemikir disebut sebagai titik siklus besar. Dalam rentang seratus tahun, sering kali terjadi apa yang bisa disebut sebagai “evolusi sejarah”: perubahan arah yang menentukan wajah masa depan.
Mudahnya omong, jika seratus tahun yng lalu, di tengah kecamuk geopolitik global yang luar biasa saat itu,1926 NU dilahirkan lalu 1945 NU berhasil membidani kelahiran Republik Indonesia, maka kira kira pertanyannya, di 2026 sampainya 2045.
Apa yang bisa PMII perjuangkan di tengah kecamuk zaman yang tidak kalah gawat dahsyatnya ini?Apa yang PMII pikirkan? apa yang harus PMII lakukan? apakah kaum muda NU, pasti di dalamnya PMII,hari ini akan terlibat dan menjadi pelaku dari evolusi itu, atau justru sekadar penonton yang larut dalam arus sejarah.
Sekadar jaringan—besar secara struktur, tetapi tipis secara spiritual,moral juga intelektual.Debu zaman yang diterbangkan angin,terpuruk dan terpojok di kolong sejarah sebagai pecundang yang mengenaskan.
Selamat atas terselenggaranya Halal Bihalal dalam balutan Hajatan Akbar lintas generasi PMII Lampung, semoga menjadi momentum mempererat sanad perjuangan, menyambung nilai, dan meneguhkan arah gerakan ke depan. (***/red)














