DIA bukan sosok yang mencuri perhatian. Bukan nama yang menghiasi headline, dia jauh dari lensa kamera para pemburu berita, apalagi menjadi tokoh utama sebuah berita. Tapi, di balik layar dunia jurnalistik, dia adalah legenda.
Pak Trimo. Atau, seperti yang biasa kami panggil, Mbah Trimo. Penjaga balai wartawan, pelayan kopi senja, dan pelipur lelah di tengah rutinitas kami. Dia adalah simbol ketulusan yang tak pernah meminta sorotan, namun meninggalkan jejak mendalam di hati semua yang mengenalnya.

Kini, kabar duka itu hadir. Mbah Trimo telah pergi. Pria murah senyum itu telah berpulang, meninggalkan balai wartawan yang ia jaga dengan sepenuh hati. Mungkin tak mengejutkan, mengingat beberapa pekan terakhir tubuh tuanya semakin lemah, hingga akhirnya ia diboyong ke kediaman anaknya di Tanggamus. Tapi tetap saja, kehilangan ini terasa begitu sunyi.
Hingga usianya menjelang 90-an—atau bahkan lebih—Mbah Trimo hampir tak pernah mengeluh. Ia selalu ada untuk kami, wartawan yang sering bertemu dengannya di Warta Kopi.
Sebagian besar dari kami pernah merasakan sentuhan kebaikannya, entah lewat secangkir kopi hangat, senyum yang menguatkan, atau sekadar sapaan sederhana yang membuat malam-malam kerja terasa lebih ringan.
Dan kini, Mbah Trimo kembali. Bukan ke balai wartawan, bukan ke meja kopi tempat kami sering bercengkerama, tapi ke keabadian. Ia meninggalkan kami dengan berjuta kenangan. Tentang kesederhanaan, tentang keikhlasan, dan tentang hidup yang berarti bukan karena gemerlap, tapi karena hati.
Selamat jalan, Mbah Trimo. Legenda sejati tak pernah benar-benar hilang. Namamu akan terus kami sebut, ceritamu akan terus kami kenang. Di setiap sudut balai wartawan, di setiap tegukan kopi, di setiap cerita yang kami tuliskan, engkau akan selalu ada.
Khususon Ila Arwahi Trimo Sukamto Bin Santani, Alfatihah….
(***)














