PEMBARUAN.ID – Pilihan Gus Syaihul Ulum Suhadak, salah satu tokoh pesantren Walisongo Wates, Lampung Tengah, bersama para Gus dari berbagai daerah, untuk mendukung Rahmat Mirzani Djausal (RMD) dan Jihan Nurlela sebagai pasangan Cagub-Cawagub Lampung, bukanlah tanpa alasan. Jawabannya sederhana namun bermakna mendalam: karena pemuda adalah harapan bangsa.
Dalam tradisi Islam, pemuda selalu menjadi pilar penting. Pepatah Syubbanul yaum rijalul ghad menegaskan bahwa “pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.” Ungkapan ini lebih dari sekadar slogan; ia adalah prinsip hidup yang diajarkan dalam kitab Idhotun Nasyi’in karya Mustafa Al-Ghalayaini, yang hingga kini menjadi pedoman di pesantren-pesantren salafiyah.
“Di tangan pemuda, harapan umat dan kemajuan bangsa ini digantungkan,” ujar Gus Syaihul dengan nada penuh optimisme.
Santri dalam Jiwa RMD-Jihan
Ketika berbicara tentang RMD Jihan, Gus Syaihul tidak hanya memuji kapasitasnya sebagai pemuda, tetapi juga kepribadiannya yang mencerminkan akhlak seorang santri sejati.
“Saya menyaksikan sendiri, tanpa pencitraan, dia memiliki gestur santri yang kuat,” ungkap Gus Syaihul. “Tawadhu. Ketika bertemu dan bersalaman dengan kami para Gus, ada rasa tulus dan hormat yang luar biasa. Itu bukan sekadar formalitas politik, tetapi mencerminkan penghormatan mendalam kepada tradisi pesantren.”
Meskipun RMD Jihan tidak memiliki latar belakang pendidikan di pesantren, Gus Syaihul menilai bahwa akhlaknya yang santun dan rendah hati sudah cukup untuk mengintegrasikan dirinya ke dalam nilai-nilai kultur santri.
Keterbukaan pada Nasihat
Salah satu kelebihan RMD Jihan yang diakui Gus Syaihul adalah keterbukaannya terhadap nasihat. “Insyaallah, jika nanti terpilih, beliau siap menerima masukan dari para kiai dan gus. Bukan untuk memaksakan kehendak, tetapi memastikan beliau mendapatkan sudut pandang terbaik dalam setiap keputusan,” jelasnya.
Bagi Gus Syaihul, sikap ini menjadi indikator penting bahwa RMD Jihan bukan hanya sekadar calon pemimpin muda, tetapi juga pemimpin yang siap belajar.
“Tugas kita adalah memberikan nasihat yang benar sesuai syariat, tanpa harus membuat beliau kehilangan otonominya sebagai pemimpin,” tambahnya.
Pemimpin yang Berakar pada Budaya Lokal
Di tangan seorang pemuda seperti RMD Jihan, Gus Syaihul melihat harapan besar untuk membawa perubahan yang sesuai dengan nilai-nilai pesantren, tanpa menghilangkan akar budaya lokal.
“Syubbanul yaum rijalul ghad,” tuturnya penuh harap. “Pemuda hari ini adalah pemimpin masa depan.”
Pilihan para Gus bukan hanya dukungan politik, tetapi simbol keyakinan bahwa RMD Jihan adalah representasi ideal pemimpin muda yang mampu menjembatani tradisi dan modernitas. Di tangan RMD Jihan, mereka melihat harapan baru bagi masyarakat. (***)














