Protes Peserta Diserahkan ke KPU Pusat
PEMBARUAN.ID – Tim Seleksi (Timsel) rekrutmen calon anggota KPU Lampung tampak memilih untuk ‘buang badan’ ketika disorot terkait protes tiga peserta perempuan yang tidak lolos ke tahap 14 besar.
Protes yang mengarah pada dugaan kurangnya afirmasi 30 persen keterwakilan perempuan, tampaknya akan diserahkan begitu saja ke KPU Pusat.
Moelyono, anggota Timsel KPU Lampung, mengakui bahwa pihaknya menerima protes tersebut sebagai hal yang wajar. Namun, ia dengan cepat melemparkan tanggung jawab kepada KPU RI.
“Wajar saja kalau ada protes. Kalau saya perempuan, mungkin saya juga akan protes,” ucapnya saat dikonfirmasi, Kamis (19/09/2024).
Saat ditanya soal langkah konkret Timsel terhadap keluhan ini, Moelyono justru mengalihkan beban.
“Ya, terkait dengan protes itu, kami akan laporkan kepada KPU RI,” ungkapnya.
Ia mengisyaratkan bahwa permasalahan ini di luar kewenangan mereka dan akan menjadi urusan KPU Pusat.
Moelyono menegaskan, seleksi telah dilakukan sesuai regulasi. Namun, terkait dengan afirmasi perempuan yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017, ia mengatakan persoalan ini memerlukan kajian lebih lanjut.
“Masalah afirmasi 30 persen ini perlu didiskusikan kepastian hukumnya,” ujarnya, sembari menegaskan bahwa tugas Timsel telah selesai.
Sebelumnya, peserta perempuan yang melayangkan protes, termasuk Ika Kartika, merasa kecewa dengan hasil seleksi yang menurut mereka kurang memperhatikan keterwakilan perempuan.
Awalnya, Ika dan dua peserta perempuan lainnya menerima keputusan bahwa mereka tidak lolos 14 besar. Namun, pernyataan Moelyono yang menyebut tim medis hanya merekomendasikan satu peserta perempuan dari lima, menjadi pemicu keresahan.
“Pernyataan itu seolah menyebut kami tidak sehat, dan ini bisa merugikan kami di masa depan. Apalagi dua peserta lainnya masih mengikuti seleksi KPU kabupaten/kota,” ungkap Ika.
Menurutnya, narasi tersebut bisa menciptakan persepsi negatif yang membahayakan reputasi mereka di kemudian hari.
Namun, ketika disodori tudingan tersebut, Moelyono sekali lagi memilih untuk menjaga jarak.
“Kami tidak paham bahasa medis, kami hanya mengacu pada rekomendasi yang diberikan,” ujarnya singkat.
Di tengah situasi ini, Timsel tampak melempar tanggung jawab ke pihak KPU Pusat, seolah urusan afirmasi perempuan dan protes peserta bukan lagi dalam kendali mereka.
Sementara itu, pertanyaan besar terkait keterwakilan perempuan dalam proses seleksi anggota KPU Lampung masih menggantung tanpa jawaban yang pasti. (sandika)














