Pakar Sebut Kemungkinan Golkar di Akar Rumput Masih Setia Pada Arinal
PEMBARUAN.ID – Dukungan yang diberikan oleh lima partai non-parlemen kepada pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Lampung, Arinal Djunaidi-Sutono (Ardjuno), terasa seperti percikan kecil yang memantik api besar.
Bukan hanya sekadar dukungan politik, ini lebih dari sekadar pergeseran koalisi—ini adalah sebuah pesan. Pesan bahwa, dalam panggung demokrasi yang semakin kompleks, partai-partai non-parlemen juga memainkan peran yang tak boleh diremehkan.
Pada bulan Agustus lalu, Komisi Pemilihan Umum (KPU) resmi menetapkan pasangan calon ini, dan tak lama setelah itu, dukungan dari lima partai—Partai Gelora Indonesia, Partai Garuda, PBB, Partai Perindo, dan Partai Hanura—mengalir. Seolah-olah ada kekuatan yang perlahan bangkit di luar radar dominasi partai-partai besar.
Pakar Politik dari Universitas Lampung, Prof. Hamzah menyebut dukungan ini sebagai upaya untuk membentuk “Koalisi Rakyat.” Sebuah perlawanan halus, namun tegas, terhadap dominasi politik yang kerap hanya berputar di lingkaran elite.
“Secara normatif, dukungan ini memang tidak memengaruhi pencalonan mereka, tetapi ini lebih dari sekadar formalitas,” ucapnya.
Di balik dukungan ini, tersimpan energi moral yang mengalir, mungkin tidak terlihat dari luar, namun terasa kuat di bawah permukaan.
“Ini menjadi mesin baru bagi pasangan Arinal-Sutono. Mesin yang mungkin tidak sekuat partai-partai besar, tapi cukup untuk membuat mereka berdiri dengan percaya diri menghadapi rival-rival politik,” tambah Prof. Hamzah dengan nada penuh keyakinan.
Dukungan dari partai non-parlemen, kata Hamzah, tak sekadar angka atau formalitas. Ini adalah cerminan kecerdasan politik rakyat.
“Kita tidak bisa memandang dukungan ini sebelah mata. Basis pendukung mereka ada, tersebar di berbagai daerah di Provinsi Lampung. Mungkin mereka tidak lolos parlemen, tapi bukan berarti mereka tidak punya pengaruh,” ujarnya.
Ada kesan bahwa kekuatan ini, walau kecil, bisa menjadi bola salju yang terus membesar.
“Ini alarm bagi partai-partai besar. Walaupun sejarah nasional belum mencatat keberhasilan besar dari koalisi partai non-parlemen, siapa yang tahu apa yang akan terjadi ke depan?” tanyanya retoris.
Namun, di balik optimisme ini, Prof. Hamzah juga mengingatkan soal pemilih akar rumput Golkar yang mungkin tetap setia pada Arinal.
“Di depan layar, para kader struktural partai mungkin akan menunjukkan dukungan sesuai garis partai, tapi siapa yang bisa memastikan apa yang terjadi di balik layar?”
Pada akhirnya, politik adalah permainan penuh kejutan. Dan dalam permainan ini, dukungan yang mungkin terlihat kecil bisa menjadi kekuatan yang tak terduga.
“Ini seperti pertandingan yang belum selesai. Siapa yang akan keluar sebagai pemenang? Hanya waktu yang akan menjawab,” tutupnya. (***)














