PEMBARUAN.ID — Usai menjalani sidang pembuktian di Pengadilan Negeri Kepanjen, Kabupaten Malang, Senin (04/05/2026) sore, Ketua Umum DPP Gerakan Masyarakat Perangi Korupsi (GMPK), Abdul Aziz, menyempatkan diri bersua dengan sejumlah aktivis di sebuah kafe tak jauh dari Kantor Bupati Malang.
Pertemuan santai itu menjadi ruang diskusi yang mengalir dari obrolan ringan hingga isu serius: penguatan komitmen pemberantasan korupsi.
Dalam suasana akrab ditemani racikan jamu bakar “Tani Madjoe”, para aktivis dari berbagai latar belakang tampak larut dalam perbincangan. Hadir di antaranya Kiai Abdullah Sam (Pengasuh Pesantren Rakyat sekaligus Ketua ISNU Malang), Fuad Ali (Mandataris Pendirian GMPK Kabupaten Malang), Gus Muhammad Hidir, Emma Luthia Ekakiantaty, Memet Yudi Hermanto, Ahmad Rifai, Nahri, hingga Asep Suriamam.
Diskusi awalnya bergulir pada nilai-nilai pengabdian kepada orang tua. Abdul Aziz menekankan bahwa keberhasilan seseorang tak lepas dari bakti kepada ibu. “Setiap anak lahir dari rahim seorang ibu. Setinggi apa pun jabatan dan harta, kewajiban merawat orang tua tidak bisa ditawar,” ujarnya.
Pandangan itu diamini Kiai Abdullah Sam yang mengaku terinspirasi oleh ketelatenan Abdul Aziz dalam merawat ibundanya yang telah lama sakit. Menurutnya, keteladanan tersebut menjadi alasan moral bagi banyak aktivis untuk bergabung dan berkontribusi dalam gerakan sosial.
Seiring waktu, perbincangan beralih pada isu pemberantasan korupsi di Malang Raya. Para aktivis sepakat bahwa integritas menjadi fondasi utama dalam setiap gerakan. Gus Muhammad Hidir menegaskan pentingnya konsistensi dalam memperjuangkan nilai, meski tidak selalu mendapat dukungan semua pihak.
“Kita ingin berbuat sekecil apa pun untuk masyarakat. Soal ada yang suka atau tidak, itu hal biasa. Yang penting nilai yang kita bawa tetap terjaga,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Memet Yudi Hermanto yang mengingatkan agar GMPK tetap menjaga marwah sebagai organisasi yang berkomitmen terhadap gerakan antikorupsi. Ia menegaskan, meski tidak menawarkan keuntungan materi, organisasi ini memiliki misi besar dalam membangun kesadaran publik.
Dukungan juga datang dari kalangan keluarga aktivis. Emma Luthia Ekakiantaty menyebut langkah suaminya bergabung dengan GMPK sebagai bentuk perjuangan yang bernilai ibadah. “Ini bukan sekadar gerakan sosial, tapi juga ladang amal,” katanya.
Sementara itu, Ahmad Rifai dan Nahri menekankan pentingnya kerja kolektif dalam mendorong perubahan. Mereka optimistis, dengan kebersamaan dan saling menguatkan, gerakan pemberantasan korupsi dapat memberi dampak nyata bagi tata kelola pemerintahan yang lebih bersih.
Diskusi yang berlangsung hingga malam hari itu mempererat silaturahmi antaraktivis. Dalam suasana guyub dan penuh kehangatan, pertemuan ditutup dengan komitmen bersama untuk terus mengawal gerakan antikorupsi di Malang Raya.
Menjelang pukul 21.30 WIB, Abdul Aziz pamit undur diri. “Kita lanjutkan di kesempatan berikutnya. Salam untuk keluarga di rumah,” ujarnya, menutup pertemuan yang sarat makna tersebut. (***/red)














