iklan
AgamaSUDUT PANDANG

Masjid Raya Al Bakri: Cahaya Baru Islam Rahmatan lil ‘Alamin di Lampung

×

Masjid Raya Al Bakri: Cahaya Baru Islam Rahmatan lil ‘Alamin di Lampung

Share this article

Oleh: Rudy Irawan
Dosen Prodi Pendidikan Agama Islam, FTK UIN Raden Intan

PERESMIAN Masjid Raya Al Bakri Lampung oleh Menteri Agama RI siang tadi bukan hanya menambah daftar bangunan megah di provinsi ini. Lebih dari itu, ia menghadirkan simbol baru dalam perjalanan spiritual dan sosial masyarakat Lampung.

Kehadiran masjid ini tidak semestinya dipandang sebatas arsitektur menawan, melainkan harus ditempatkan dalam konteks yang lebih luas: sebagai pusat cahaya, ilmu, dan harmoni.

Pertanyaan pun mengemuka: apakah Masjid Raya Al Bakri akan sekadar menjadi monumen kebanggaan, atau benar-benar hidup sebagai pusat Islam rahmatan lil ‘alamin yang menebar kasih sayang dan kedamaian bagi semua?

Masjid dan Sejarah Peradaban Islam

Sejak awal peradaban Islam, masjid memegang peranan sentral. Rasulullah ﷺ ketika hijrah ke Madinah mendirikan Masjid Quba dan Masjid Nabawi. Keduanya tidak hanya difungsikan untuk shalat berjamaah, tetapi juga sebagai pusat pendidikan, musyawarah, hingga pengelolaan strategi dakwah dan pembangunan masyarakat.

Di Nusantara, masjid pun menjalankan peran serupa. Masjid Agung Demak, Masjid Menara Kudus, hingga Masjid Baiturrahman Aceh bukan sekadar rumah ibadah, tetapi juga pusat lahirnya kebudayaan Islam Nusantara yang ramah, santun, dan penuh toleransi.

Sejarah ini menjadi pengingat: Masjid Raya Al Bakri tidak boleh berhenti pada kemegahan fisik. Ia harus menjadi pusat peradaban, tempat masyarakat menemukan jawaban atas kebutuhan spiritual, intelektual, dan sosial mereka. Sebagaimana ditegaskan Al-Qur’an:

“Hanyalah yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan tidak takut kecuali kepada Allah. Maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan yang mendapat petunjuk.” (QS. At-Taubah: 18)

Ayat ini menegaskan bahwa membangun masjid hanyalah langkah awal. Tantangan sesungguhnya adalah menghidupkannya dengan ibadah, ilmu, dan amal kebajikan.

Lebih dari Tempat Ibadah

Dengan kapasitas besar dan fasilitas modern, Masjid Raya Al Bakri semestinya menampung beragam kegiatan yang relevan dengan kebutuhan umat. Shalat berjamaah memang fungsi dasarnya, tetapi masjid juga bisa menjadi pusat dakwah yang menebarkan pesan damai, lembaga pendidikan Islam moderat, serta ruang pemberdayaan ekonomi umat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Tempat yang paling dicintai Allah adalah masjid-masjid.” (HR. Muslim)

Jika demikian, masjid harus dihidupkan dengan aktivitas yang bermanfaat bagi umat: kajian literasi digital Islami, pelatihan keterampilan untuk generasi muda, hingga koperasi syariah yang menopang ekonomi jamaah. Masjid tidak boleh eksklusif, melainkan harus terbuka bagi siapa pun yang ingin belajar, berdialog, dan berkontribusi.

Masjid dan Harmoni Sosial

Lampung adalah provinsi dengan keragaman etnis, budaya, dan agama. Masyarakat Jawa, Lampung, Sunda, Bali, Batak, Tionghoa, hingga komunitas lintas iman hidup berdampingan di sini. Keberagaman ini adalah anugerah sekaligus tantangan.

Dalam konteks ini, Masjid Raya Al Bakri memiliki peran strategis. Melalui dakwah sejuk, program dialog lintas iman, serta kegiatan sosial yang inklusif, masjid bisa menjadi garda depan dalam merawat kerukunan. Dengan demikian, masjid tidak hanya melayani umat Islam, tetapi juga memberi kontribusi nyata bagi terciptanya Lampung yang damai dan toleran.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.” (HR. Ahmad)

Hadis ini menegaskan: masjid pun harus membawa manfaat, tidak hanya bagi jamaahnya, melainkan juga bagi masyarakat luas, termasuk mereka yang berbeda keyakinan.

Tantangan Pengelolaan

Namun, membangun masjid megah jauh lebih mudah daripada menjaganya tetap hidup. Banyak masjid di Indonesia tampak indah dari luar, tetapi miskin aktivitas bermakna di dalam. Tantangan inilah yang harus diantisipasi sejak awal.

Pengelolaan Masjid Raya Al Bakri membutuhkan manajemen profesional, visi yang jelas, serta sinergi antara takmir, pemerintah daerah, tokoh agama, dan masyarakat. Prinsip good governance —transparansi, akuntabilitas, dan partisipasi jamaah—harus menjadi landasan.

Selain itu, program masjid perlu menjangkau semua lapisan: anak-anak, remaja, pemuda, hingga orang tua. Dengan pendekatan lintas generasi, masjid akan selalu relevan sepanjang zaman.

Masjid sebagai Cahaya Rahmatan lil ‘Alamin

Islam rahmatan lil ‘alamin bukan sekadar slogan. Ia adalah panggilan untuk menghadirkan rahmat, kedamaian, dan kasih sayang dalam kehidupan nyata. Masjid adalah instrumen utama untuk mewujudkannya.

Jika Masjid Raya Al Bakri mampu menjalankan fungsi itu, ia akan benar-benar menjadi cahaya yang menyinari Lampung. Cahaya itu bukan hanya terpancar dari lampu-lampu megah interiornya, melainkan dari aktivitas dakwah, pendidikan, dan sosial yang membawa manfaat nyata.

Masjid ini dapat menjadi rumah ilmu, rumah persaudaraan, rumah dialog, dan rumah solusi. Dengan demikian, ia akan mewujudkan Islam sebagai rahmat bagi semesta.

Peresmian Masjid Raya Al Bakri harus dimaknai lebih dari seremoni. Ia adalah momentum untuk menghidupkan kembali fungsi hakiki masjid sebagai pusat ibadah, ilmu, persaudaraan, dan pemberdayaan umat. Tantangannya memang besar, tetapi peluang yang terbentang jauh lebih luas.

Dengan manajemen yang baik, visi yang jelas, serta partisipasi aktif masyarakat, Masjid Raya Al Bakri dapat menjadi cahaya baru Lampung. Cahaya yang tidak hanya berkilau dalam arsitektur, tetapi juga bersinar dalam ilmu, persaudaraan, dan kepedulian. Inilah wajah Islam rahmatan lil ‘alamin yang sesungguhnya: teduh, menyejukkan, dan memberi manfaat bagi semua.

Tabik


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *