PEMBARUAN.ID – Di bawah angit Kalimantan Selatan yang berselimut mendung, langkah Tim Beregu Bulu Tangkis PWI Lampung terasa berat. Di setiap ayunan raket, ada perjuangan yang terpancar dari wajah-wajah mereka—Edwin, Piter, Mawardi—semua berjuang dengan segenap tenaga.
Namun, takdir berkata lain. Medali perunggu menjadi akhir dari perjalanan mereka di ajang Porwanas 2024 di kategori ini.
Di tengah lapangan yang seolah menjadi saksi bisu, Edwin F harus mengakui keunggulan lawannya, Apid Rosyidin dari Jawa Barat, dengan skor yang tak memberikan ruang bagi harapan.
Dua set berturut-turut, 7-21 dan 8-21, seolah menutup babak itu dengan cepat. Harapan yang sempat memercik, perlahan meredup. Namun, bukan berarti semangat mereka padam.
Nasib serupa menimpa Piter dan Mawardi saat menghadapi ganda putra Jawa Barat, Kusnu Sujarwadi dan Tatang W. Meski mereka berusaha memberikan perlawanan terbaik, skor 11-21 dan 17-21 menandai akhir dari mimpi mereka di kategori beregu.
Sakit memang, namun dari rasa sakit itulah, mereka belajar. Medali perunggu mungkin bukan yang mereka impikan, namun itu tetaplah lambang perjuangan yang patut dihargai.
Perjuangan belum berakhir. Jumat, 22 Agustus 2024, di atas lapangan yang sama, semangat baru akan lahir. Rinaldo dan Pieter, dua nama yang mewakili usia 27-39 tahun, akan berhadapan dengan tim tangguh dari Jawa Timur.
Di usia yang lebih matang, Agung dan Mawardi tak gentar menghadapi tantangan baru dari Kalimantan Tengah. Mereka tahu, setiap langkah ke depan adalah kesempatan untuk menebus kekecewaan dan membuktikan bahwa mereka masih memiliki nyala api yang tak mudah padam.
Langit mungkin masih mendung, namun dalam diri mereka, ada tekad yang terus menyala, ada mimpi yang masih menggantung di atas sana, menanti untuk dijemput.
Porwanas 2024 mungkin menyisakan luka, tapi di balik setiap luka, ada kekuatan yang siap membawa mereka terbang lebih tinggi di kesempatan berikutnya. 1000l kontingen PWI Lampung menggantungkan harapan pada mereka di olahraga Badminton ini. (***)














