iklan
HEADLINEKOMUNITASPENDIDIKANPERISTIWA

DialoKlasika Chapter 1: Menggugat Sistem, Membangun Pendidikan Alternatif yang Merdeka

×

DialoKlasika Chapter 1: Menggugat Sistem, Membangun Pendidikan Alternatif yang Merdeka

Share this article

PEMBARUAN.ID – Rumah Ideologi Klasika, Sabtu (03/07/2024) menjadi saksi dari sebuah diskusi penting yang diselenggarakan oleh Kelompok Studi Kader (Klasika).

Dengan mengusung tema “Merayakan Kemerdekaan Belajar, Masih Pentingkah Pendidikan Alternatif?”, DialoKlasika chapter I menghadirkan tiga sosok inspiratif: Bustami Zainudin, anggota DPD RI sekaligus Ketua IKA FKIP Unila; Juwendra Asdiansyah, yang juga jurnalis senior Lampung; dan Ahmad Mufid, Direktur Klasika.

Bustami Zainudin membuka diskusi dengan pandangan tajam tentang urgensi pendidikan alternatif di era sekarang.

“Pendidikan formal saat ini terlalu seragam, membuat peserta didik seperti cetakan massal yang sama. Ini tentu tidak bisa memecahkan banyak masalah di masyarakat,” katanya.

Ia menjelaskan bagaimana pemerintah sudah berusaha mendukung pendidikan alternatif melalui program Kurikulum Merdeka Belajar yang diluncurkan sejak 2022.

“Kurikulum ini diharapkan mampu membuat peserta didik berpikir out of the box, merdeka dalam berpikir, berinovasi, dan berkreasi.”

Bustami menggambarkan pendidikan alternatif sebagai berbagai moda transportasi menuju satu tujuan.

“Ibarat mengunjungi suatu tempat, kita bisa menggunakan transportasi darat, air, dan udara. Meski banyak cara, tujuannya sama. Begitu juga pendidikan, untuk menghasilkan peserta didik yang cakap dan berkualitas, kita butuh berbagai pendekatan,” jelasnya.

Juwendra Asdiansyah melanjutkan dengan analisis kritis terhadap kondisi pendidikan saat ini.

“Pendidikan formal terjebak dalam materialisme institusional. Semua orang bisa mengakses pendidikan, tapi esensinya mengalami degradasi nilai. Pendidikan tidak lagi menciptakan kapasitas, keterampilan, atau soft skills,” ujarnya.

Ia menyoroti fenomena banyaknya sarjana yang tidak memiliki kapasitas yang memadai, berbeda dengan zaman dahulu. “Sarjana semakin banyak, namun orang pintar semakin sedikit. Misalnya, seseorang yang mendapatkan gelar profesor atau doktor hukum belum tentu menguasai ilmunya. Gelarnya tinggi, kapasitasnya kosong.”

Menurut Juwendra, pendidikan alternatif seperti komunitas belajar dan organisasi masyarakat sangat dibutuhkan sebagai penyeimbang pendidikan formal yang semakin materialistik.

“Pendidikan alternatif adalah counter terhadap pendidikan formal yang makin kehilangan esensinya,” tegasnya.

Ahmad Mufid menambahkan perspektif tentang bagaimana pendidikan telah menjadi materialistik dan mengkerdilkan proses serta karya yang seharusnya menjadi inti dari pendidikan.

“Esensi pendidikan adalah proses dan penciptaan karya,” kata Mufid.

Ia mengingatkan, pendidikan pada masa pra-kemerdekaan dan Orde Baru hadir untuk melawan penjajah dan kekuasaan otoriter. “Hari ini, musuh kita bukan penjajah atau pemerintahan otoriter, tapi sistem pendidikan kapitalistik yang menjauhkan kita dari kecerdasan intelektual.”

Mufid melanjutkan dengan mengutip pemikiran filsuf Yunani Kuno tentang pendidikan sebagai upaya menumbuhkan potensi manusia dan kemerdekaan berpikir.

Ia menegaskan, masalah mendasar bangsa Indonesia bukan hanya kemiskinan, kesejahteraan, krisis ekonomi, atau krisis nilai dalam politik, tetapi juga problem epistemologi atau cara berpikir.

“Masalah ini bisa diatasi dengan membuka ruang dialog seluas-luasnya. Dialog bukan hanya pertukaran informasi, tapi juga pertukaran pengetahuan untuk mengatasi cara berpikir masyarakat,” pungkasnya.

Di tengah suasana hangat dan penuh harapan di Rumah Ideologi Klasika, Diskusi ini bukan hanya sekedar dialog, melainkan sebuah langkah kecil menuju perubahan besar dalam dunia pendidikan Indonesia.

Dengan semangat dan pemikiran yang tajam dari para pembicara, harapan baru untuk masa depan pendidikan alternatif semakin terang. (sandika/red)


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *