PEMBARUAN.ID – Di tengah gegap gempita debat Pilgub Lampung, ada satu nama yang luput dari perbincangan: Kota Baru. Proyek ambisius ini, yang digagas oleh Gubernur Lampung terdahulu Sjachroedin ZP, seakan tenggelam dalam arus pembahasan tentang infrastruktur dan ekonomi yang memenuhi panggung debat di Hotel Novotel Bandarlampung, Minggu (13/10/2024) malam itu.
Kota Baru bukan sekadar proyek infrastruktur biasa. Bagi sebagian orang, ini adalah simbol dari visi besar—menciptakan pusat pemerintahan dan permukiman yang ramah lingkungan, sebuah oasis modern yang ditata untuk menjawab tantangan masa depan.
Namun, malam itu, Kota Baru hanya hadir dalam ingatan mereka yang tahu sejarah panjang dan janji-janji besar yang pernah diutarakan.
Di balik layar, Arinal Djunaidi, calon gubernur nomor urut satu, memiliki pandangannya sendiri.
“Kota Baru adalah cita-cita, tapi ada hal lain yang harus lebih dulu diselesaikan,” ujarnya pelan, seolah-olah menakar beban kata-katanya sendiri.
Ia mengakui bahwa pembangunan Kota Baru adalah tanggung jawab besar, namun ia juga meletakkan prioritas pada masalah yang dianggapnya lebih mendesak.
“Saat saya mulai menjabat, kita masih punya hutang yang harus dibereskan. Alhamdulillah, selesai di tahun 2022. Dan setelah itu, pandemi datang. Prioritas kita terpaksa bergeser,” lanjutnya dengan mata yang menyiratkan kelelahan, mungkin juga kelegaan.
Setiap kata yang ia ucapkan seakan menggambarkan perjalanan panjang di balik kebijakan yang harus diambil. Bagi Arinal, membangun Kota Baru bukan hanya soal rencana, tapi soal strategi.
“APBD saja tidak cukup. Harus ada investor yang mau ikut terlibat,” ujarnya.
Baginya, membangun Kota Baru bukan sekadar meletakkan batu demi batu, tetapi membangun kepercayaan investor. Jalan-jalan menuju kompleks pemerintahan pun, katanya, sudah diperbaiki—sebuah langkah kecil, namun penting, yang menandakan komitmen terhadap proyek ini.
“Kalau nanti dipercaya lagi, saya akan cari investor. Kita permudah investasi di sini. Kota Baru bisa seperti BSD atau Alam Sutera, menjadi kawasan modern yang menarik,” katanya, dengan nada optimis, seolah mengukuhkan janjinya pada mereka yang masih menyimpan harapan pada Kota Baru.
Mimpi Kota Baru belum sepenuhnya pudar. Di balik sorotan lampu panggung debat yang kini telah redup, janji dan harapan itu masih hidup—tergantung pada bagaimana kepemimpinan selanjutnya akan melangkah.
Bagi Arinal, ini bukan sekadar retorika. Ini tentang bagaimana mewujudkan impian yang tertunda, sambil memastikan pijakan tetap kuat di tengah realitas yang ada. (sandika/red)














