Oleh: Wahyu Iryana
(Direktur Pusat Studi Sejarah Islam Lampung)
PEMBARUAN.ID – Desa Sukadana di Lampung Timur adalah ruang hidup tempat sejarah, spiritualitas, dan perjuangan bertemu dalam jejak yang dapat dilihat, disentuh, serta diverifikasi melalui sumber primer. Sukadana bukan hanya titik pemukiman, melainkan pusat memori historis Lampung yang menyimpan bukti material dan narasi lisan mengenai KH Ahmad Hanafiah, ulama-pejuang kelahiran 27 Desember 1905 yang ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 2023. Penetapan itu bukan karena kisah turun-temurun semata, tetapi berdasarkan dokumen primer: arsip negara, catatan perjuangan, situs fisik, manuskrip keluarga, serta dokumentasi lapangan tim peneliti dari UIN Raden Intan Lampung.
Rumah kelahiran KH Ahmad Hanafiah di Sukadana menjadi awal jejak sejarah yang paling otentik. Struktur kayu tua berciri arsitektur Lampung kuno itu tercatat dalam dokumentasi resmi pengusulan Pahlawan Nasional sejak 2021. Di salah satu ruangnya terdapat naskah pengajaran fikih dasar berupa manuskrip tipis yang ditulis dengan tinta hitam artefak yang telah difoto, diinventarisasi, dan dicatat dalam laporan penelitian primer. Manuskrip tersebut menguatkan bahwa pendidikan awal Hanafiah bukan sekadar cerita keluarga, tetapi memiliki bukti material yang terjaga.
Jejak pendidikan beliau dapat ditelusuri melalui arsip HIS Sukadana, yang direproduksi oleh Museum Negeri Lampung. Arsip itu menunjukkan nama lengkap beliau sebagai murid pribumi pada masa pemerintahan kolonial. Setelah itu, sumber primer berupa papan jadwal pengajian di Pesantren Istishodiyah yang ditemukan dalam kondisi rapuh di bangunan lama pesantren menunjukkan peran intelektual beliau pada awal 1930-an. Temuan lapangan ini memberi konteks nyata bagaimana Sukadana pernah menjadi pusat pembelajaran Islam di Lampung Timur.
Sejarah intelektual KH Ahmad Hanafiah tidak berhenti di sini. Wawancara lisan dengan keluarga besar, terutama cucu-cucu beliau, memperlihatkan keberadaan ijazah sanad yang masih disimpan dalam map tua. Dokumen itu berisi daftar guru beliau di Kelantan dan Masjidil Haram, disertai tanda tangan ulama yang menjadi otoritas keilmuan pada jamannya. Bukti inilah yang menunjukkan bahwa perjalanan intelektual beliau bersumber dari jaringan internasional ulama Nusantara.
Narasi perjuangan KH Ahmad Hanafiah juga dikuatkan oleh arsip primer. Dokumen Front Kemarung 1947 dan laporan pertempuran di Lampung Timur yang direproduksi dari arsip daerah menunjukkan nama beliau dalam struktur komando lokal. Selain itu, penelitian lapangan menemukan pondasi barak kecil yang pernah digunakan latihan Laskar Hizbullah, yang secara konsisten diceritakan kembali oleh para saksi hidup termasuk dua mantan anggota Hizbullah yang diwawancarai pada 2022. Jejak material ini menegaskan bahwa peran perjuangan KH Ahmad Hanafiah bukan hasil romantisasi, melainkan bagian dari data sejarah yang dapat diverifikasi.
Masjid Tua Sukadana juga menyimpan lapisan sejarah penting. Pada salah satu tiang kayunya terdapat catatan beraksara Arab Melayu berisi jadwal pengajian mingguan dan maklumat kampung. Kajian bahan kayu menunjukkan usia papan tersebut mencakup periode 1930–1940-an. Catatan seperti ini membuktikan bahwa masjid berfungsi sebagai pusat konsolidasi sosial, dakwah, dan penguatan jaringan masyarakat di bawah kepemimpinan KH Ahmad Hanafiah. Di dekatnya, makam keluarga dengan nisan bergaya aksara Melayu-Jawi menjadi bukti genealogis yang menegaskan kontinuitas tradisi keilmuan keluarga Hanafiah dari generasi ke generasi.
Dengan kekuatan bukti primer ini, pengembangan Sukadana sebagai desa wisata heritage bukan sekadar gagasan kreatif, melainkan langkah ilmiah untuk menjaga warisan yang sudah nyata dan otentik. Pendekatan pelestarian tidak perlu diarahkan pada proyek besar, tetapi pada perlindungan situs, dokumentasi berkelanjutan, dan penyediaan interpretasi sejarah yang akurat. Museum mini KH Ahmad Hanafiah dapat dibangun dekat rumah kelahiran, memuat replika naskah, salinan arsip pengusulan pahlawan nasional, peta perjalanan intelektual, dan foto artefak yang disimpan di Museum Negeri Lampung. Koleksi ini tidak memindahkan benda asli, tetapi tetap menghadirkan pengalaman edukatif yang kaya.
Digitalisasi sederhana seperti QR code pada setiap situs akan memberikan narasi interaktif yang merujuk pada data primer. Generasi muda pesantren dapat dilatih menjadi pemandu wisata sejarah berbasis riset, sehingga cerita yang disampaikan bukan dongeng bebas, tetapi sejarah yang teruji. Buku biografi akademik dan biografi populer yang telah diterbitkan menjadi panduan naratif bagi pengunjung, sekolah, dan wisatawan. Dengan demikian, Sukadana menjadi ruang belajar sejarah berbasis bukti, bukan sekadar destinasi visual.
Pendekatan berbasis sumber primer memberi Sukadana posisi istimewa sebagai laboratorium sejarah hidup. Pengunjung dapat mengikuti alur hidup KH Ahmad Hanafiah secara kronologis: dari rumah kelahiran, masa studi di pesantren, perjalanan ke luar negeri, peran dakwah di masjid, perjuangan militernya, hingga ketenangan makam keluarga. Semua itu dapat dipahami melalui data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pada akhirnya, revitalisasi Sukadana sebagai desa wisata heritage bukan hanya menjaga memori masa lalu, tetapi membangun masa depan yang berlandaskan pengetahuan, kebanggaan lokal, dan spiritualitas. Masyarakat tetap menjadi pelaku utama, bukan sekadar dekorasi wisata. Dengan pendekatan rasional, partisipatif, dan berbasis bukti primer, Sukadana dapat menjadi model nasional bagaimana warisan ulama, pendidikan pesantren, dan perjuangan kemerdekaan dapat dihidupkan kembali secara elegan dan berkelanjutan tanpa kehilangan keaslian sejarahnya.
Tabik














