iklan
SUDUT PANDANG

Sisi Lain Kampanye: Antara Motor dan Helikopter, Narasi Pilkada Lampung

×

Sisi Lain Kampanye: Antara Motor dan Helikopter, Narasi Pilkada Lampung

Share this article

PILKADA serentak 27 November 2024 kian mendekat. Di tengah dinamika politik yang semakin panas, dua pasangan calon Gubernur Lampung tampil dengan gaya kampanye yang mencuri perhatian.

Dalam setiap langkahnya, mereka tak hanya menyampaikan visi dan misi, tetapi juga menunjukkan pendekatan yang sangat berbeda—termasuk dalam pemilihan moda transportasi.

Pasangan calon nomor 1, Arinal Djunaidi-Sutono, yang kerap disebut “Ardjuno”, memilih jalur darat sebagai strategi kampanye mereka. Arinal, Gubernur petahana, tampak membumi dengan menggunakan sepeda motor untuk mencapai wilayah pelosok yang sulit diakses kendaraan roda empat.

Gaya ini memberi kesan kedekatan, seolah menyapa rakyat dari titik terdekat kehidupan mereka. Sepeda motor menjadi simbol “membelah jalan rakyat”, menggambarkan seorang pemimpin yang siap melewati tantangan apa pun untuk mendengar aspirasi.

Berbeda dengan itu, pasangan nomor 2, Rahmat Mirzani Djausal-Jihan Nurlela, menggunakan helikopter sebagai moda transportasi kampanye. Lewat udara, mereka melintasi bentang luas Provinsi Lampung.

Dalam sebuah video yang sempat viral sebelum diturunkan, Mirza terlihat turun dari helikopter di salah satu titik kampanye. Narasinya sederhana, Lampung itu luas, dan efisiensi waktu menjadi alasan utama.

Namun, gaya kampanye ini menyulut perbincangan. Helikopter, simbol kemewahan bagi sebagian masyarakat, memunculkan diskusi etis. Dengan tarif sewa yang mencapai Rp28 juta per jam, tak sedikit yang bertanya-tanya: apakah cara ini sesuai dengan sensitivitas rakyat? Di sisi lain, teknologi dan kenyamanan menjadi wujud modernitas yang bisa saja diartikan sebagai efisiensi seorang pemimpin.

Meski kontras, kedua gaya kampanye ini sama-sama menyampaikan pesan tersirat. Arinal membawa cerita tentang kedekatan, menyusuri jalan penuh debu, menembus medan rakyat. Sementara Mirza menawarkan pendekatan strategis: fokus pada efektivitas dan mencerminkan visi besar pembangunan yang ingin dicapai.

Sebagai masyarakat, kita dihadapkan pada pilihan: seorang pemimpin yang menyapa dari dekat atau seorang pemimpin yang menyapa dari ketinggian? Pilihan itu kembali kepada kita. Yang jelas, di balik perbedaan ini, esensi demokrasi tetap sama: memilih pemimpin yang mampu membawa perubahan nyata.

Menuju 27 November 2024, Lampung akan menuliskan babak baru dalam sejarah demokrasinya. Semoga kita semua bisa menjaga kedamaian, kebijaksanaan, dan integritas dalam memilih pemimpin yang terbaik.

Sebab, demokrasi sejatinya bukan hanya tentang siapa yang terpilih, tetapi bagaimana proses itu berjalan dengan adil dan bermartabat. (***)


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *