iklan
SUDUT PANDANG

Sebuah Monolog di Kursi Kyai

×

Sebuah Monolog di Kursi Kyai

Share this article

Oleh: Ariyadi Ahmad
Bekas Seorang Santri

DUDUK adalah sebuah seni, dan ia, yang kini dipanggil Gus Latief, merasa belum menguasai seni itu sepenuhnya. Bukan duduk di warung kopi, bukan pula duduk bersila saat nderes di sudut langgar yang temaram. Ini adalah duduk di kursi. Sebuah kursi jati tua, warisan dari Almarhum Kyai Abdul Manaf, gurunya. Kursi ini bukan sekadar perabot. Kursi ini adalah singgasana yang tak memiliki mahkota, namun memancarkan aura beban yang jauh lebih berat dari emas permata.

Dulu, saat ia masih Latief, santri njingglik yang hobinya tidur di dekat jendela musala, kursi ini tampak agung dan menenangkan. Kursi ini seolah menjadi mercusuar yang memancarkan ketenangan absolut.

Sekarang, setelah takdir mendudukkannya di sana—sebagai penerus, sebagai penerima estafet kepemimpinan pesantren kecil di lereng bukit, kursi itu terasa panas. Ia tidak sedang duduk di atas alas empuk, melainkan di atas hamparan duri tanggung jawab.

Di hadapannya terbentang lautan wajah. Wajah-wajah muda, kusam oleh jadwal padat, namun menyala oleh cita-cita sederhana: menjadi manusia yang berguna.

Mata mereka menatapnya dengan perpaduan khas santri, sedikit takut, penuh hormat yang mutlak, dan rasa ingin tahu yang tak terucapkan. Mereka menunggunya bicara. Mereka menunggunya memberi petunjuk, memberi cahaya—sesuatu yang ia sendiri rasakan makin sulit ia temukan belakangan ini.

Ia menarik napas panjang. Udara di ruangan itu berbau kapur tulis, debu kitab kuning, dan keringat perjuangan. Aroma yang akrab, namun kini terasa asing.

Kilas Balik Sang Muta’allim

Latief bukanlah santri sembarangan. Ia adalah produk terbaik dari tempaan Kyai Manaf. Jika adab adalah mata uang di pesantren ini, Latief adalah saudagar kaya raya.

Ia mengingat malam-malam tanpa tidur. Saat lampu petromak hanya menerangi sehelai halaman kitab yang kusam. Ia mengingat bagaimana ia harus menahan lapar, menahan rindu, dan menahan godaan duniawi yang datang dalam bentuk poster biduan dangdut di pasar desa. Semua itu ia hadapi dengan satu mantra yang tertanam sejak hari pertama ia mencium tangan Kyai Manaf: Sami’na Wa Atha’na.

Sami’na Wa Atha’na. Mereka dengar, dan mereka taat. Bukan hanya taat pada perintah shalat lima waktu atau puasa sunnah. Itu terlalu mudah. Ketaatan yang sejati adalah ketaatan pada hal-hal yang tidak masuk akal.

Ia pernah disuruh Kyai Manaf membersihkan sumur tua yang sudah tidak terpakai selama tujuh hari berturut-turut, di bawah terik matahari, tanpa penjelasan. Latief melakukannya. Ia tidak bertanya. Ia hanya taat. Setelah hari ketujuh, Kyai Manaf hanya tersenyum dan berkata, “Sumur itu kotoran fisik, Latief. Tapi, keraguan dan pertanyaanmu adalah kotoran batin. Sudah bersih keduanya. Sekarang kau bisa faham.”

Itulah yang ia pelajari. Keberkahan ilmu, yang membuat seseorang faham, bukan didapat dari kecerdasan otak, melainkan dari kedalaman hati yang tunduk total.

Ia adalah master dalam urusan ketaatan. Ia bahkan hafal letak robekan di Kitab Ta’limul Muta’allim edisi cetak Beirut yang dimiliki Kyai Manaf.

Ta’limul Muta’allim Thariq At-Ta’allum. Kitab tentang cara menjadi murid yang berhasil. Kitab yang ia jadikan bantal, selimut, dan cermin.

Ia bukan hanya membaca bab demi bab tentang adab kepada guru (Haqqul Ustadz) atau bab menjauhi maksiat saat menuntut ilmu (Fi Ijtinabil Ma’ashi), tapi ia menghidupi setiap kalimatnya.

Ia tahu betul, ketika ia duduk di kursi ini sekarang, ia telah menamatkan babak “Menjadi Murid” dengan nilai sempurna.

Kedatangan Sang Faqih Birokrat

Suara deru mobil dinas memecah kesunyian sore di pekarangan pesantren. Sebuah Toyota sedan hitam mengilap, simbol kekuasaan dan birokrasi, berhenti tepat di depan kediamannya.

Dari balik kaca gelap, keluarlah Faqihudin, kawan lamanya, yang kini menjabat eselon tiga di Kementerian Agama.

Faqihudin, atau yang biasa disapa Faqih, adalah antitesis dari Latief. Faqih cerdas, kritis, dan pandai berorganisasi. Ia memilih jalur formal, menembus birokrasi, dan berjuang mengubah sistem dari dalam—setidaknya itu yang selalu ia klaim.

Mereka berpelukan. Aroma parfum mahal Faqih berbenturan dengan aroma asap dupa dan tembakau lokal milik Latief. Mereka duduk di teras. Faqih mengeluarkan sebatang rokok kretek impor, sementara Latief menyulut sigaret lokalnya yang murahan.

“Gus Latief, kau tampak lelah,” Faqih memulai, nadanya khas pejabat yang merasa tahu segalanya.

“Mengurus pesantren di zaman digital ini memang penuh tantangan. Para santri sekarang, sulit diatur. Mereka terlalu banyak input dari luar. Soal adab, ketaatan… Ah, Gus, itu sudah barang langka.”
Faqih mulai bercerita panjang lebar tentang seminar manajemen pendidikan yang ia hadiri di Jakarta.

Tentang kurikulum berbasis kompetensi, tentang target luaran (output) yang terukur, dan tentang pentingnya modernisasi metode pengajaran agar relevan.

Latief diam, mendengarkan. Ia hanya menyesap kopinya, pahit, tanpa gula. Kopi yang ia pesan khusus, hitam pekat, sepekat kegelisahannya.

“Kau harus tegas, Gus. Gunakan pendekatan persuasif, namun jangan lupakan unsur disiplin. Kita harus mendidik mereka agar memahami betapa sakralnya hubungan guru dan murid. Ajarkan mereka lagi tentang adab, Gus. Adab itu fondasi. Kalau sudah ada adab, ketaatan itu pasti ikut,” Faqih mengakhiri ceramahnya dengan nada klimaks yang biasanya ia gunakan saat memimpin rapat.

Pada titik inilah, Latief merasa harus menginterupsi. Bukan dengan kemarahan, tapi dengan senyum sinis yang hanya ia dan almarhum Kyai Manaf yang tahu maknanya.

Latief meletakkan cangkir kopinya. Bunyinya klunting, tajam dan singkat, memecah kesombongan narasi Faqih.

“Kawan Faqih,” Latief memulai, suaranya tenang, namun memiliki daya gravitasi yang membuat Faqih terdiam.

“Jangan buang-buang ludahmu dengan menasihati aku tentang adab seorang murid.”

Matanya menatap Faqih, namun pandangannya menembus ke masa lalu, ke dinding-dinding pesantren yang menyaksikan seluruh perjuangannya.

“Aku tahu persis batas-batas mana yang boleh dan tidak boleh dilangkahi. Aku tahu kapan harus berdiri, kapan harus menunduk, dan kapan harus menyembunyikan dahaga di depan guru. Sebab,” ia menekankan kata itu, “entah sudah berapa kali aku khatamkan Kitab Ta’limul Muta’allim Thariq At-Ta’allum yang dikarang Syaikh Burhanuddin Ibrahim Az-Zarnuji.”

Ia mencondongkan badan ke arah Faqih. “Kau bicara tentang Ta’lim seolah itu hanya buku teks. Bagiku, itu adalah kitab suci perjalanan. Aku khatamkan, Faqih, bukan sekadar menamatkan. Aku selesaikan hingga aku bisa merasakan keringat Az-Zarnuji menetes di setiap aksara yang ia tuliskan.

Aku hafal, bukan hanya susunan kalimatnya, tapi juga resonansi batin yang mendasari setiap babnya. Mulai dari bab memilih ilmu, hingga bab bagaimana memuliakan kitab dan tempat belajar.”

“Bahkan,” Latief melanjutkan, suaranya kini bergetar sedikit karena emosi yang tertahan, “kulit luarnya saja sudah mengelupas dan menguning saking seringnya kubawa, kubaca, dan kucium setiap malam sebelum tidur (sebagai simbol pengakuan bahwa ilmu itu lebih agung daripada diriku sendiri).”

Faqih terdiam, rokok impornya terjepit di antara jemari. Ia tidak menyangka Latief akan bereaksi seintens ini.

“Maka dari itu,” Latief menyimpulkan bagian pertama, “Jangan anggap aku baru belajar menjadi murid. Aku adalah profesor di bidang adab. Adab itu sudah mendarah daging, lebih tebal dari tinta printer yang kau gunakan untuk mencetak SK kenaikan pangkatmu.”

Latief menyambar kembali cangkir kopinya, menyesapnya dalam-dalam. “Dan sekarang,” Latief meneruskan, nadanya berubah menjadi lebih kontemplatif, “Kau mencoba mendikte aku tentang ketaatan. Kau mengajari aku tentang Sami’na Wa Atha’na (Kami dengar dan kami taat).” Ia tertawa, tawa yang tidak lucu. Tawa yang getir.

“Kau tahu, Kawan? Ketaatan itu mudah bagi seorang murid. Ketaatan itu ibarat mengikuti arus sungai. Kita hanya perlu melepaskan diri dan pasrah. Murid taat karena ia percaya gurunya tahu. Ia taat karena ia ingin ilmu dan berkah. Ketaatan itu self-serving dalam arti yang paling mulia (ia taat demi dirinya sendiri, demi keberkahan ilmunya sendiri).”

“Aku sudah melewati fase itu, Faqih. Seluruh isi kitab Ta’lim tentang ketaatan itu telah kuamalkan. Aku telah menunaikan kewajiban menjadi murid dengan sempurna. Itu sudah selesai. Masa laluku sebagai muta’allim telah ditutup dengan khusnul khatimah.”

Latief kini menunjuk ke arah kursi jatinya. “Tapi sekarang, aku yang duduk di kursi ini. Aku yang melihat ‘Sami’na Wa Atha’na’ dari sudut pandang yang sama sekali berbeda, dari sisi sang pengajar yang harus mengemban amanah. Di sini, ketaatan yang mutlak dari murid-muridku tidak cukup.”

“Yang kutaati sekarang bukan lagi perintah Kyai Manaf, Faqih. Yang kutaati sekarang adalah amanah Kyai Manaf. Dan amanah itu lebih berat daripada seribu perintah,” Latief berbisik, seolah takut didengar oleh para santri yang sedang mengaji di kejauhan.

“Murid hanya perlu taat sekali pada gurunya. Guru harus taat pada Tuhannya, pada ilmunya, pada hatinya, dan pada janji yang ia ukir di hadapan gurunya. Itu beban yang luar biasa.”

Latief mencondongkan badannya ke depan, tatapan matanya memohon, seolah ia sedang menampakkan luka batinnya.

“Aku bukan butuh ceramah tentang kurikulum atau input-output. Aku bukan butuh retorika tentang Sami’na Wa Atha’na yang sudah kuhafal di luar kepala. Yang aku butuhkan adalah rahasia, kunci rahasia dari fase baru ini.”

“Kawan Faqih,” ia melanjutkan, “Cukup kau bisikkan aku bagaimana mengejawantahkan sabar.”
Sabar, kawan. Bukan sabar menahan lapar atau sabar menunggu giliran maju. Itu sabar santri.

“Yang kumaksud adalah sabar menghadapi kebodohan yang berulang (saat kau tahu muridmu sudah kau ajari bab thaharah tujuh kali, namun ia masih salah berwudhu untuk yang kedelapan).

Sabar menyambut pertanyaan yang sama untuk kesekian kalinya, seolah ilmuku tak pernah berpindah. Dan yang terberat, sabar melihat hasil yang tak kunjung datang—melihat benih yang sudah kau siram, kau pupuk, tapi tak pernah tumbuh menjadi pohon rindang yang kau harapkan.”

“Sabar yang dibutuhkan guru adalah sabar yang menyamai Sabar-Nya Tuhan saat menghadapi hamba-Nya yang berulang kali lalai. Sabar yang tidak lekang dimakan waktu dan tidak putus oleh keputusasaan.”

Faqih, si birokrat yang pandai bicara, kini hanya bisa menunduk, menggosok-gosok rokoknya yang sudah mati.

“Dan, yang terakhir,” Latief berkata, suaranya kini kembali tenang, namun memiliki bobot teologi yang dalam, “bisikkan juga padaku cara memupuk ke-aliman yang sejati.”
Ke-aliman, Faqih. Bukan sekadar hafal Fathul Qarib atau Jauharul Maknun. Itu baru pengetahuan.

“Aku butuh ke-aliman yang tidak hanya bersemayam di lisan saat mengajar di depan papan tulis, tapi yang menjelma dalam setiap hembusan napas dan getaran hati saat aku sendirian di malam hari. Ke-aliman yang membuatku istighfar seribu kali setelah aku marah pada seorang murid, karena aku sadar bahwa aku, sang guru, masih jauh lebih bodoh dari yang kukhawatirkan.”

“Ke-aliman yang membuatku ikhlas menjadi jembatan, Faqih. Menjadi jembatan yang harus menahan beban langkah murid-muridku menuju maqam yang lebih tinggi, meski kakiku harus terinjak-injak, meski badanku harus lapuk diguyur hujan, dan meski namaku harus terlupakan setelah mereka sampai di seberang sana.”

Ia memandang Faqih dengan tatapan yang meminta jawaban atas teka-teki kehidupan. “Aku sudah selesai dengan Ta’limul Muta’allim. Aku butuh ‘Kitab’ baru, Faqih. Sebuah kitab tentang Ta’limul Mu’allim. Ajaran untuk Sang Pengajar. Dan kitab itu, sepertinya, harus kutulis sendiri, dengan darah dan air mataku, di atas kursi ini.”

Latief kembali menyandarkan tubuhnya di kursi jati tua itu. Suasana hening. Hanya ada desis angin yang membawa aroma sisa asap rokok. Faqih tidak berkata apa-apa. Ia hanya mengambil pena dari saku jasnya, dan dengan gerakan perlahan, menuliskan sesuatu di secarik kertas tisu.

“Aku tidak bisa menjawabmu, Latief,” bisik Faqih, yang kini memanggilnya tanpa gelar ‘Gus’. “Tapi, yang aku tahu, Kyai Manaf memilihmu bukan karena kau yang paling cerdas. Kyai Manaf memilihmu karena kau yang paling bersabar saat menjadi murid. Mungkin, itu adalah petunjuk.”

Faqih berdiri, menjabat tangan Latief lama. Sebelum pergi, ia meletakkan secarik kertas tisu itu di samping cangkir kopi pahit.
Setelah mobil dinas itu menghilang ditelan senja, Latief mengambil kertas itu. Hanya ada dua kata yang ditulis Faqih, dua kata yang merangkum semua pertanyaan Latief, dua kata yang diucapkan Kyai Manaf berulang kali:
“Ikhlas Lillah.”

Latief mengangguk. Mungkin, Ke-aliman dan Sabar itu adalah dua sisi dari mata uang yang sama. Dan mata uang itu bernama Ikhlas.
Ia kini tahu, pergulatan baru telah dimulai. Dan ia, Gus Latief, sang bekas murid yang sempurna, harus rela menjadi guru yang tidak sempurna, demi mendidik generasi yang tidak sempurna, menuju kesempurnaan abadi.

Di atas kursi jati yang makin hari makin terasa berat. Ia kembali memandang wajah-wajah santrinya, dan senyum itu muncul lagi, senyum yang tidak manis, namun penuh nawaitu. Ia harus mulai mengajar sekarang.

Tabik


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *