Oleh: Purwanto M. Ali
Aktivis NU, Ketua PP GP Ansor 2005–2011
MUKTAMAR Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 menjadi momentum penting yang menentukan arah masa depan organisasi Islam terbesar di dunia tersebut. Agenda lima tahunan ini bukan hanya soal pergantian kepemimpinan, tetapi juga menjadi titik evaluasi atas perjalanan organisasi sekaligus harapan untuk mengembalikan marwah NU sebagai Jam’iyah Ulama.
Di tengah dinamika internal yang mengemuka dalam beberapa tahun terakhir, banyak warga NU menilai organisasi membutuhkan konsolidasi besar untuk kembali meneguhkan perannya sebagai pusat dakwah, pendidikan, dan pemikiran Islam moderat. Konflik internal yang berkepanjangan, tarik-menarik kepentingan politik, serta menguatnya orientasi pragmatis dinilai telah menggeser fokus utama NU dari khittah perjuangannya.
Akibatnya, kewibawaan ulama sebagai poros utama organisasi dianggap mulai memudar. Padahal, sejak didirikan, NU dikenal sebagai rumah besar para ulama, pesantren, dan pusat pengembangan pemikiran Islam Ahlussunnah wal Jama’ah yang moderat dan berakar kuat pada tradisi keilmuan.
Karena itu, Muktamar ke-35 dipandang sebagai momentum kebangkitan NU. Organisasi ini membutuhkan sosok pemimpin yang mampu mengembalikan kewibawaan ulama, memperkuat persatuan internal, sekaligus membawa NU kembali menjadi rujukan umat Islam di tingkat nasional maupun internasional.
Dalam konteks tersebut, nama Prof. Dr. KH. Nasarudin Umar, MA dinilai muncul sebagai figur yang paling ideal untuk memimpin PBNU ke depan. Sosoknya dianggap memiliki perpaduan lengkap antara kapasitas keilmuan, pengalaman organisasi, kemampuan birokrasi, serta jaringan internasional yang luas.
Sebagai Guru Besar Ilmu Tafsir Al-Qur’an, Nasarudin Umar dikenal sebagai ulama intelektual dengan pemahaman Islam yang mendalam, moderat, dan kontekstual. Keilmuannya menjadi modal penting untuk mengembalikan NU sebagai pusat pemikiran Islam yang berpengaruh dan disegani.
Rekam jejak beliau di tubuh NU juga sangat kuat. Ia pernah menjabat sebagai Katib Aam PBNU dan Rais Syuriyah PBNU, dua posisi strategis yang menempatkannya di jantung kepemimpinan keulamaan NU. Pengalaman tersebut membuatnya memahami secara utuh bahwa NU harus tetap berpijak pada kepemimpinan ulama dan nilai-nilai keagamaan yang menjadi fondasi organisasi.
Selain itu, Nasarudin Umar memiliki nilai simbolik yang penting bagi masa depan NU. Sebagai ulama asal Sulawesi Selatan, kehadirannya menegaskan bahwa NU adalah rumah besar seluruh ulama Nusantara, bukan hanya milik kelompok atau wilayah tertentu. Hal ini diyakini dapat memperkuat rasa kebersamaan dan memperluas representasi kepemimpinan di tubuh NU.
Kapasitas kepemimpinannya juga teruji melalui perannya sebagai Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta. Di bawah kepemimpinannya, Istiqlal berkembang menjadi simbol Islam moderat yang terbuka, damai, dan menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama.
Di bidang pendidikan, Nasarudin Umar memiliki pengalaman panjang sebagai Rektor Universitas PTIQ Jakarta. Sementara di lingkungan pesantren, ia juga dikenal sebagai Pengasuh dan Ketua Umum Pengurus Pusat Pondok Pesantren As’adiyah, Sulawesi Selatan, salah satu pesantren besar dan berpengaruh di Indonesia Timur.
Pengalaman birokrasi beliau pun sangat lengkap, mulai dari Dirjen Bimas Islam, Wakil Menteri Agama, hingga Menteri Agama Republik Indonesia. Rekam jejak ini menunjukkan kapasitasnya dalam memimpin lembaga besar, membangun hubungan harmonis dengan negara, sekaligus menjaga independensi organisasi keagamaan.
Tak hanya di tingkat nasional, Nasarudin Umar juga dikenal aktif membangun dialog antaragama di level internasional. Jejaring global yang dimilikinya memperkuat posisi beliau sebagai figur Islam moderat yang dihormati dunia.
Dengan seluruh pengalaman dan kapasitas tersebut, banyak kalangan meyakini Nasarudin Umar mampu menjadi titik balik kebangkitan NU. Di tangannya, NU diharapkan kembali menjadi Jam’iyah Ulama yang berwibawa, menjadi pusat pemikiran Islam yang mencerahkan, serta hadir sebagai perekat persatuan bangsa.
Muktamar ke-35 bukan sekadar forum memilih ketua umum baru. Lebih dari itu, Muktamar adalah momentum menentukan masa depan NU: apakah tetap terjebak dalam konflik dan pragmatisme, atau kembali pada khittah perjuangan sebagai organisasi ulama yang disegani.
Muktamar ke-35 adalah gerbang kebangkitan NU. Dan bagi banyak warga nahdliyin, sosok Nasarudin Umar adalah harapan untuk mewujudkannya.
Kemayoran, 15 Mei 2026














