iklan
SUDUT PANDANG

LIVING HISTORY PANCASILA

×

LIVING HISTORY PANCASILA

Share this article

Oleh: Dr Abd Rahman Hamid
Sejarawan UIN Raden Intan Lampung

DERETAN kata dan poster di media sosial berisi peringatan hari lahir Pancasila. Tak jarang, ada yang mempertanyakan ‘kesaktian’ Pancasila. Semua menunjukkan bahwa Pancasila, dengan segala pemaknaannya, adalah bagian dari kehidupan bangsa kita. Ini adalah modal yang penting bagi pembangunan bangsa dan negara. Apa pun dan dari segi mana pun kita memaknai Pancasila, tampak bahwa landasan kehidupan bersama itu diperlukan sebagai azas bagi semua tutur dan laku kehidupan berbangsa.

Semangatnya sudah disampaikan oleh Bung Karno dalam pidato lahirnya Pancasila, 1 Juni 1945, bahwa “Jangan mengira bahwa dengan berdirinya Negara Indonesia Merdeka itu perjuangan kita telah berakhir. Tidak! Bahkan saya berkata: Di dalam Indonesia Merdeka itu perjoangan kita harus berjalan terus, hanya lain sifatnya dengan perjoangan sekarang, lain coraknya.

Nanti kita bersama-sama, sebagai bangsa yang bersatu padu, berjoang terus menyelenggarakan apa yang kita cita-citakan di dalam Pancasila”. Isi pidato ini jelas menyiratkan bahwa dalam Pancasila bertahta cita-cita kehidupan bersama untuk diwujudkan, dan bukan dikenang.

Cita-cita

Idealnya sebuah cita-cita selalu berisi harapan nun jauh di sana, yang akan diwujudkan. Karena itu, setiap orang punya hak memimpikan masa depan yang lebih baik. Sebuah mimpi tentu bukan kenyataan yang mesti terwujud. Tetapi, sebuah wujud dimulai dari sebuah angan tentang wujud. Tidak ada yang kebetulan dalam hidup. Semua dimulai dengan perencanaan.

Seperti lahirnya Pancasila, tidak serta merta ada, dan kemudian disetujui oleh pendiri bangsa dalam sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai (Badan Penyelidik Usaha-usaha Persiapan Kemerdekaan; BPUPK). Ketika mengawali pidatonya, Bung Karno berkata “Paduka Tuan Ketua yang mulia.

Sudah tiga hari berturut-turut anggota-anggota Dokuritu Zyunbi Tyoosakai mengeluarkan pendapat-pendapatnya, maka sekarang saya mendapat kehormatan dari Paduka Tuan Ketua yang mulia untuk mengemukakan pula pendapat saya”.

Selanjutnya dikatakan bahwa “Paduka Tuan Ketua yang mulia minta kepada sidang Dokuritu Zyunbi Tyoosakai untuk mengemukakan dasar Indonesia Merdeka. Dasar inilah nanti akan saya kemukakan di dalam pidato saya ini”.

Bila di dalam Pancasila terkandung cita-cita luhur bangsa, maka sedianya kita dengan segala daya mewujudkannya, bukan malah ingin menggantinya. Betapa waktu terus berjalan dan pada setiap fasenya kita telah mewujudkan cita-cita itu satu demi satu. Upaya menghentikan langkah-langkah itu, tentu bukan pilihan terbaik.

Dalam budaya bahari kita, misalnya suku Mandar, diajarkan prinsip kehidupan: Tania tau passobal, moaq mappelinoi, lembong ditia, mepadzottong lawuang (kita bukanlah pelaut, jika menanti redanya ombak, karena justeru ombaklah, mengantar kita mencapai tujuan) (Hamid, 2021).
Tantangan, mengikuti alunan nilai itu, bukan untuk dihindari, melainkan dijadikan anak tangga untuk naik pada tangga berikutnya, dan seterusnya. Dengan cara itu, setiap tantangan dilihat sebagai peluang dan harapan untuk dijalankan.

Living History

Mengubah cara berpikir dari hambatan menjadi peluang atas tantangan dalam pengamalan nilai-nilai Pancasila memang bukan hal mudah. Diperlukan kesediaan untuk berdialog kembali tentang Pancasila, yang pernah diterapkan sebagai doktrin politik dengan tafsir tunggal, sehingga terbuka kesempatan bagi setiap anak bangsa untuk memaknai Pancasila dengan tantangan hidup yang dihadapinya.

Pancasila sebagai dasar negara, sebuah peristiwa pada 1 Juni 1945, sudah selesai. Ia lahir untuk sebuah negara, yang diberi nama Indonesia. Dalam pandangan ilmu sejarah, suatu peristiwa hanya sekali terjadi. Karena itu setiap peristiwa dipandang unik. Upaya mengisahkan kembali peristiwa itu akan melahirkan jarak antara apa yang “di sana” dan yang ada “di sini”, atau “peristiwa itu” dan “kisah tentang peristiwa itu”.

Dengan demikian, kita tak perlu membuat peristiwa baru untuk sebuah kisah baru. Tetapi, bagaimana peristiwa tersebut dimaknai, atau bagaimana menemukan relevansinya dalam kehidupan sekarang, merupakan tantangan bagi anak bangsa yang dengan sadar dan bangga menulis atau mengatakan “Saya Pancasila”.

Sebagai living history, Pancasila adalah bagian dari kehidupan bangsa Indonesia. Tidak pandang dari kalangan mana pun, selama masih berada di Indonesia, Pancasila tetap menjadi acuan bertindak bagi kehidupan bersama. Meskipun dilahirkan pada masa Orde Lama, namun Pancasila menemukan momentumnya pada masa Orde Baru.

Pada orde terakhir itu, dikenal berbagai slogan, misalnya Demokrasi Pancasila dan Ekonomi Pancasila. Seseorang dengan mudah diberi tindakan tegas bila tidak Pancasilais. Begitu kuatnya rezim itu menempatkan Pancasila dalam praktek politiknya, sehingga kadang rezimnya diidentikkan dengan Pancasila, atau sebaliknya.

Pada era Reformasi, yang lahir sebagai kontra orde sebelumnya, dengan identifikasi itu, Pancasila seolah ingin diabaikan. Begitulah rona Pancasila dalam kehidupan bangsa kita.

Sejarah sebagai peristiwa tidak mungkin terulang, tetapi kita bisa banyak belajar dari peristiwa itu. Artinya, masa lalu bukan untuk dilupakan. Sebab, dalam siklus kehidupan, masa sekarang dan masa depan adalah calon masa lalu.

Karena itu, sebelum menjadi masa lalu, patut kiranya kita memikirkan bagaimana sebaiknya Pancasila diaktualisasikan dalam kehidupan bernegara. Dalam upaya itu, perlu diingat pesan Bung Karno, bahwa “suatu negara [Indonesia] “semua buat semua”. Bukan buat satu orang, bukan buat satu golongan, baik golongan bangsawan, maupun golongan yang kaya,- tetapi “semua buat semua”.

Dalam kehidupan bersama, hendaknya nilai-nilai utama Pancasila: ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, musyawarah-mufakat, dan keadilan sosial, menjadi dasar pikir dan perbuatan kita. Dengan cara itu, sebagai cita-cita luhur, Pancasila abadi dalam ingatan kolektif bangsa Indonesia. Itulah living history.

Tabik


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *