iklan
SUDUT PANDANG

Qurban dan Nilai Kemanusiaan

×

Qurban dan Nilai Kemanusiaan

Share this article

Oleh: Ichwan Adji Wibowo, S.Pt., MM
Ketua PCNU Kota Bandarlampung dan Kepala Dinas Pangan Kota Bandarlampung

HARI Raya Iduladha sesungguhnya bukan sekadar perayaan tahunan yang ditandai dengan gema takbir dan penyembelihan hewan qurban. Di balik ritual itu, tersimpan pesan peradaban yang sangat dalam: tentang ketaatan, pengorbanan, sekaligus kemanusiaan. Qurban bukan hanya ibadah yang berdimensi langit, melainkan juga jalan untuk menghadirkan keadilan sosial di bumi.

Sejak mula disyariatkan, qurban mengandung dua wajah sekaligus. Wajah pertama adalah dimensi spiritual: bagaimana manusia belajar mendekatkan diri kepada Allah melalui keikhlasan, kepatuhan, kesabaran, dan kepasrahan total sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail. Namun pada saat yang sama, qurban juga membawa pesan sosial yang kuat: membangun empati, menumbuhkan solidaritas, dan menghadirkan kepedulian terhadap sesama.

Karena itu, qurban tidak boleh berhenti hanya sebagai ritual formal keagamaan. Ia harus menjadi sarana pendidikan batin yang melahirkan manusia-manusia yang peka terhadap penderitaan sosial di sekitarnya.

Di Indonesia, ibadah qurban berkembang menjadi tradisi sosial yang sangat hidup. Karakter masyarakat Muslim Indonesia yang komunal membuat qurban tidak lagi hanya menjadi urusan individu. Ia telah menjelma menjadi perayaan kolektif yang melibatkan masjid, mushala, organisasi masyarakat, yayasan, institusi pemerintah, komunitas, bahkan kelompok-kelompok sosial lainnya.

Di satu sisi, situasi ini tentu menggembirakan. Qurban telah menjadi energi sosial yang menghidupkan kebersamaan. Bahkan secara ekonomi, momentum Iduladha menghadirkan perputaran ekonomi rakyat yang luar biasa. Peternak kecil menikmati panen tahunan, para jagal memperoleh penghasilan, pedagang pakan, penjual arang, hingga pedagang tusuk sate ikut merasakan berkahnya. Uang bergerak cepat di lapisan bawah masyarakat.

Namun di tengah semarak itu, kita juga perlu jujur melihat kenyataan yang kadang luput dari perhatian. Ada paradoks yang masih terasa dalam praktik qurban kita. Di kawasan-kawasan elite perkotaan, hewan qurban melimpah ruah. Sementara di kampung-kampung pinggiran, kawasan pesisir, dan lingkungan padat penduduk, masih banyak masyarakat yang bahkan jarang menikmati daging setahun sekali.

Di sinilah qurban diuji maknanya. Apakah ia sekadar seremoni keagamaan, atau benar-benar menjadi instrumen pemerataan sosial?

Sayangnya, pelaksanaan qurban masih sering didominasi semangat perayaan simbolik. Nama pekurban harus disebut, prosesi penyembelihan harus disaksikan, foto bersama hewan qurban harus diabadikan. Tidak sedikit yang merasa belum sempurna berqurban jika hewannya tidak dipotong di lingkungan sendiri. Padahal, mungkin di tempat lain ada kaum dhuafa yang jauh lebih membutuhkan.

Kita tentu tidak sedang menyalahkan tradisi. Tetapi qurban semestinya mengajarkan keberanian untuk melampaui ego simbolik menuju keikhlasan yang lebih hakiki. Sebab inti qurban bukan terletak pada seberapa besar hewan yang disembelih, melainkan sejauh mana manusia mampu menyembelih sifat kebinatangan dalam dirinya sendiri: kerakusan, kesombongan, ketamakan, dan egoisme sosial.

Qurban seharusnya menjadi momentum teater kemanusiaan yang besar. Sebuah latihan kolektif untuk menghadirkan kasih sayang sosial secara nyata. Bahwa yang kuat rela berbagi kepada yang lemah. Bahwa yang berlebih bersedia menahan diri demi mereka yang kekurangan.

Maka membumikan spiritualitas qurban tidak cukup hanya menyasar para pekurban. Panitia qurban, pengurus masjid, komunitas sosial, hingga lembaga-lembaga keagamaan juga memiliki tanggung jawab moral memastikan distribusi daging berlangsung lebih adil, lebih merata, dan lebih berpihak kepada masyarakat kecil.

Kita tentu berharap, pada setiap Iduladha akan lahir semakin banyak “Ibrahim” dan “Ismail” baru. Mereka yang bersedia datang ke kampung-kampung kumuh, ke pesisir-pesisir yang sunyi, ke rumah-rumah dhuafa yang jarang tersentuh perhatian, hanya untuk membawa sekerat daging dan secercah kebahagiaan.

Sebab pada akhirnya, qurban bukan hanya tentang hewan yang disembelih. Qurban adalah tentang bagaimana manusia memuliakan manusia lainnya.

Wallahu a’lam bishawab


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *