iklan
SUDUT PANDANG

Gus Yahya Jadi Sumber Masalah, Kyai Sepuh Kecewa Islah PBNU Kandas

×

Gus Yahya Jadi Sumber Masalah, Kyai Sepuh Kecewa Islah PBNU Kandas

Share this article

Oleh: Dr. Andi Jamaro Dulung
Ketua PBNU 1999–2009

UPAYA islah untuk mengakhiri konflik internal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) kembali menemui jalan buntu. Harapan besar para kyai sepuh dan warga NU agar organisasi kembali solid justru buyar, menyusul sikap dan langkah Ketua Umum PBNU Gus Yahya Cholil Staquf yang dinilai mengingkari kesepakatan bersama.

Awalnya, secercah optimisme muncul ketika Rais Aam Syuriyah PBNU KH Miftachul Akhyar, dengan jiwa besar dan lapang dada, mengundang para mustasyar serta sejumlah pengurus Syuriyah PBNU untuk menggelar rapat konsultasi di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri. Langkah ini dimaknai sebagai iktikad baik pimpinan tertinggi NU untuk mencari solusi atas konflik yang berkepanjangan.

Rapat tersebut sempat melegakan jamaah NU di berbagai daerah. Banyak pihak menilai pertemuan di Lirboyo sebagai tanda kuat akan terjadinya islah dan kembalinya persatuan PBNU.

Dalam rapat konsultasi itu, Rais Aam menyampaikan alasan pemakzulan Gus Yahya dari jabatan Ketua Umum PBNU, yang disebut berkaitan dengan persoalan akidah dan keuangan. Gus Yahya pun diberi kesempatan menyampaikan klarifikasi serta keberatannya atas keputusan tersebut.

Namun, alih-alih menuntaskan pokok persoalan pemecatan, rapat justru berujung pada kesimpulan agar PBNU segera menyelenggarakan Muktamar NU ke-35. Kesepakatan ini disambut lega oleh para mustasyar dan kyai sepuh yang hadir. Mereka menilai jalan islah telah terbuka, dan konflik bisa diakhiri melalui muktamar bersama.

Euforia semakin terasa saat digelar silaturahmi PBNU dengan Rais Aam di Pondok Pesantren Miftachussunnah, Kedung Tarukan, Surabaya. Para fungsionaris PBNU yang sebelumnya berseteru tampak kembali guyub dan rukun dalam suasana kekeluargaan khas NU. Gus Yahya dan Saifullah Yusuf (Gus Ipul) bahkan terlihat akrab.

Dalam kesempatan itu, Gus Yahya menyampaikan kepada media bahwa kepengurusan PBNU akan dikembalikan seperti semula. Gus Ipul pun menegaskan bahwa Gus Yahya akan kembali menjabat Ketua Umum PBNU. Pernyataan ini menguatkan keyakinan banyak pihak bahwa duet Gus Yahya–Gus Ipul akan kembali memimpin PBNU, dan islah benar-benar menjadi solusi final.

Tiga hari berselang, kegembiraan para kyai sepuh dan jamaah NU runtuh. Pada Selasa, 30 Desember 2025, dalam acara peluncuran 69 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Taman Kemandirian Anak (TKA) PBNU serta penyerahan 150 ribu paket Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Al-Hasani, Kabupaten Batang, Gus Yahya secara terbuka memperkenalkan Dr. KH Amin Said Husni sebagai Sekretaris Jenderal PBNU.

Langkah tersebut langsung memicu polemik. Publik mempertanyakan posisi Saifullah Yusuf yang sebelumnya dinyatakan akan kembali menjabat Sekjen PBNU. Bagi banyak kalangan, tindakan Gus Yahya dinilai sebagai pengingkaran terang-terangan atas kesepakatan yang telah diputuskan dalam rapat Syuriyah dan Mustasyar di Lirboyo, serta kesepakatan bersama di Kedung Tarukan, Surabaya. Islah pun dinilai ambyar.

Sumber terpercaya yang dekat dengan para kyai sepuh menyebutkan, para ulama sepuh yang terlibat dalam rangkaian pertemuan di Ploso, Tebuireng, hingga Lirboyo, merasa sangat kecewa. Mereka menilai Gus Yahya telah memperalat dan mempermainkan ikhtiar para kyai sepuh yang dengan susah payah merajut jalan islah.

Padahal, Rais Aam telah menunjukkan kelapangan jiwa dengan memaafkan Gus Yahya dan mengesampingkan kesalahan-kesalahannya demi persatuan PBNU. Bahkan, menurut sumber tersebut, Gus Yahya sebelumnya telah menyepakati formula islah yang ditawarkan Rais Aam.

Faktanya, tidak lama berselang, Gus Yahya justru kembali membuat langkah kontroversial melalui pernyataannya di Batang dan dalam beberapa kesempatan lain. Sikap ini memperkuat kesan bahwa tidak ada niat tulus dari Gus Yahya untuk benar-benar melakukan islah dan menyelesaikan konflik internal PBNU.

Rangkaian peristiwa tersebut kian menguatkan dugaan bahwa Gus Yahya merupakan sumber utama kekisruhan di tubuh PBNU. Konflik bermula dari dugaan pelanggaran berat organisasi yang dilakukannya, hingga berujung pada pemecatan dari jabatan Ketua Umum PBNU oleh rapat harian Syuriyah.

Masalah semakin membesar ketika Gus Yahya tidak mematuhi keputusan Syuriyah sebagai pimpinan tertinggi NU, bahkan melakukan perlawanan terbuka terhadap Rais Aam dan Syuriyah. Berbagai manuver politik ditempuh sebagai bentuk pembangkangan atas keputusan rapat harian Syuriyah yang diperkuat rapat pleno PBNU.

Ironisnya, di sisi lain, Gus Yahya juga disebut sangat menginginkan terjadinya islah melalui rangkaian pertemuan para kyai sepuh di Ploso, Tebuireng, hingga Lirboyo. Bahkan, muncul dugaan kuat bahwa ia menjadi aktor intelektual sekaligus sponsor dari pertemuan-pertemuan tersebut.

Apabila tujuan itu benar-benar demi islah, manuver tersebut sejatinya bisa dimaklumi, bahkan diapresiasi. Namun persoalannya, Gus Yahya pula yang kemudian mementahkan seluruh ikhtiar islah yang telah dirajut.

Dengan kondisi ini, kekisruhan PBNU pada akhirnya kembali bergantung pada sikap Gus Yahya sendiri. Sebab, sebagaimana dinilai banyak pihak, kunci persoalan—sekaligus sumber konflik—berada pada dirinya.

Wallahu’alam


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *