iklan
DUNIA KAMPUSSOSOKUNILA

Dari Margoyoso ke Panggung MTQ; Teguh Ciptakan Aplikasi Smart-Antiradic

×

Dari Margoyoso ke Panggung MTQ; Teguh Ciptakan Aplikasi Smart-Antiradic

Share this article

PEMBARUAN.ID -Ada satu nama yang kini menjadi perbincangan hangat di Pekon Margoyoso, Sumberejo, Tanggamus. Namanya Teguh Yuhono. Bukan karena ia selebritas, bukan pula karena sensasi.

Pemuda ini memilih jalan yang berbeda. Jalan sunyi yang tak selalu menarik perhatian—mengaji, mengkaji, lalu merangkai ide besar untuk dunia yang lebih damai.

Teguh bukan hanya pemuda biasa dari sebuah kampung kecil. Ia adalah seseorang yang berani bermimpi besar. Dalam ajang Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Tingkat Provinsi Lampung ke-51, Teguh membawa sesuatu yang baru: gagasan tentang Transformasi Digital: Aplikasi Smart-Antiradic sebagai Upaya Deradikalisasi Pemahaman Agama.

Sebuah ide yang terdengar berat, namun begitu relevan di tengah dunia yang kerap kali terseret arus kebencian.

Bayangkan, pemuda dari kampung sederhana ini berhasil menyusun konsep aplikasi antiradikalisme berbasis nilai-nilai Al-Qur’an. Ia membayangkan sebuah dunia di mana teknologi dan agama bisa berjalan seiring, saling melengkapi, bukan saling menjauh.

Dunia di mana pemahaman yang salah tentang agama tak lagi menjadi benih kekerasan, tetapi justru berubah menjadi ruang diskusi dan penyembuhan.

Ketika namanya diumumkan sebagai juara 1 dengan skor 92,1, mengungguli kafilah Lampung Selatan (87,9) dan Bandar Lampung (87,5), Teguh tidak bisa menyembunyikan rasa harunya. Ia bukan hanya membawa pulang piala, tetapi juga kebanggaan untuk pekon kecilnya, Margoyoso.

Namun, kemenangan ini bukan hasil dari perjalanan yang instan. Teguh dengan rendah hati mengenang peran seorang guru yang selalu sabar membimbingnya.

“Terima kasih tak terhingga kepada Ustadzah Naili Hamhij, yang mengajarkan saya mengaji dan mengkaji. Beliau mendampingi saya dari nol, membimbing saya memahami bagaimana Al-Qur’an bisa menjadi solusi untuk masalah-masalah modern,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Ia juga berterima kasih kepada Kementerian Agama Kabupaten Tanggamus dan Pemerintah Daerah setempat yang menyediakan pembinaan luar biasa, memungkinkan seorang anak kampung bersaing di panggung besar seperti MTQ.

Bagi Teguh, karyanya bukan sekadar aplikasi. Itu adalah harapan. Harapan bahwa radikalisme bisa dilawan dengan pemahaman yang benar, dengan hati yang terbuka, dan dengan teknologi yang dirancang untuk kebaikan.

“Semoga ini bisa menjadi motivasi, bukan hanya bagi saya, tetapi juga untuk masyarakat Lampung, khususnya warga Margoyoso. Mari kita terus menggali, mempelajari, dan mengamalkan Al-Qur’an,” tutupnya.

Mungkin, cerita Teguh adalah pengingat. Bahwa meski kita berasal dari tempat kecil, mimpi besar akan selalu menemukan jalannya. Dan seperti aplikasi yang ia rancang, dunia ini selalu punya ruang untuk menjadi lebih baik—jika kita mau mencoba. (***)


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *