Keluarga besar Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung (RIL) memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1447 H dengan penuh khidmat melalui kegiatan istighosah dan dzikir kebangsaan di Masjid Safinatul Ulum, Kamis malam (4/9). Acara ini melibatkan seluruh civitas akademika, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, petugas kebersihan, keamanan, hingga ratusan mahasantri dan perwakilan organisasi kemahasiswaan.
Rektor UIN Raden Intan Lampung, Prof. H. Wan Jamaluddin Z., M.Ag., menegaskan bahwa kegiatan ini bukan sekadar peringatan Maulid, tetapi juga menjadi momentum memperkuat nilai kebangsaan dan spiritualitas bersama.
“Kecintaan pada bangsa dan negara tidak boleh terkalahkan oleh ego sektoral atau kepentingan golongan yang bisa memecah belah persatuan. Inilah pesan kebangsaan dari kegiatan ini,” ujar Rektor dalam sambutannya.
Doa Bersama untuk Korban Aksi Sosial
Acara diawali dengan salat Maghrib berjamaah, dilanjutkan dengan istighosah yang dipimpin oleh Dekan Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi (FDIK), Prof. Dr. H. Abdul Syukur, M.Ag. Rangkaian kegiatan kemudian diteruskan dengan salat Isya berjamaah dan salat ghaib yang dipimpin oleh Dekan Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA), Prof. Dr. H. Ahmad Isnaeni, M.A.
Salat ghaib tersebut khusus dipersembahkan bagi 11 korban meninggal dalam peristiwa aksi sosial yang terjadi antara 25 Agustus hingga awal September. Prof. Isnaeni menyebut, doa bersama ini merupakan wujud empati mendalam dari keluarga besar UIN RIL terhadap para korban.
“Ini bentuk doa bersama, sebagai wujud empati kita terhadap saudara-saudara yang menjadi korban,” tutur Prof. Isnaeni sebelum memimpin doa.
Semarak Shalawat dan Cinta Rasulullah
Suasana peringatan semakin semarak dengan lantunan hadroh dari mahasantri Ma’had al-Jami’ah, marhaban, serta pembacaan shalawat yang menggema di seluruh area masjid. Ribuan jamaah larut dalam nuansa religius penuh cinta kepada Nabi Muhammad SAW.
Peringatan Maulid juga diisi dengan Mauidzah Hasanah yang disampaikan oleh Dekan Fakultas Adab, Dr. KH. Ahmad Bukhari Muslim, Lc., M.A. Dalam ceramahnya, ia menegaskan bahwa Maulid bukan sekadar tradisi perayaan, melainkan sarana meneguhkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW.
“Setiap kali kita memperingati Maulid, sejatinya kita kembali mengenal beliau. Nabi bersabda, seseorang akan dikumpulkan bersama yang dicintainya kelak di akhirat. Maka bila kita benar-benar mencintai Nabi, insyaallah kita akan disatukan bersama beliau di surga,” ujarnya.
Meneladani Akhlak Rasulullah SAW
Dalam tausiyahnya, Dr. Ahmad Bukhari menjelaskan tiga tanda manisnya iman, yakni menjadikan Allah dan Rasul sebagai kecintaan tertinggi, beriman dengan akhlak dan kejujuran, serta menjauhi kekufuran dan kemungkaran.
Ia menegaskan bahwa Allah SWT mengutus Nabi Muhammad SAW untuk memperkenalkan siapa Allah sebenarnya, sekaligus memanusiakan manusia.
“Kalau Allah tidak mengutus para Nabi, kita tidak akan mengenal siapa Allah, apa yang Allah sukai dan murkai. Nabi diutus untuk memanusiakan manusia. Kita diciptakan untuk beribadah, menghambakan diri, dan memakmurkan bumi dengan teladan Nabi Muhammad SAW,” jelasnya.
Ia juga mengajak jamaah untuk menjalankan ajaran Islam secara kaffah — dengan memperkuat iman, mengamalkan syariat, dan menumbuhkan ihsan dalam kehidupan sehari-hari.
“Iman yang kuat, mengamalkan syariat, dan menumbuhkan ihsan. Jadikan Islam sebagai pola hidup. Apa yang dilarang jauhi, yang diperintahkan lakukanlah. Tegakkan amar ma’ruf nahi munkar,” pesannya.
Acara ditutup dengan tausiyah peneguhan akhlak, di mana Dr. Ahmad Bukhari kembali mengingatkan tujuan utama diutusnya Rasulullah SAW.
“Nabi Muhammad diutus untuk menyempurnakan akhlak. Itulah tujuan hidup kita, menjadi manusia berakhlak mulia. Itulah teladan sejati Rasulullah SAW,” pungkasnya.
Kegiatan ini diakhiri dengan doa bersama dan pembacaan shalawat penutup, diiringi suasana haru dan rasa syukur yang mendalam dari seluruh peserta. (***)














