PEMBARUAN.ID — Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Raden Intan Lampung, Prof. H. Wan Jamaluddin Z, M.Ag., Ph.D., memberikan arahan sekaligus motivasi kepada 20 mahasiswa finalis calon Duta Kampus yang tengah menjalani masa karantina menuju grand final pemilihan Duta Raden Intan 2026.
Kegiatan karantina berlangsung selama tiga hari, 24–26 April 2026, di Pusdiklat Lamban Raden Intan, Labuhan Ratu, Kedaton. Tahapan ini menjadi bagian krusial dalam proses seleksi, sebagai bekal bagi para finalis sebelum memasuki malam puncak penobatan.
Dalam arahannya, Rektor menegaskan bahwa setiap pencapaian tidak pernah lepas dari proses panjang. Ia mengingatkan bahwa keberhasilan dibangun dari tahapan demi tahapan yang harus dilalui dengan kesungguhan.
“Tidak ada sesuatu yang terjadi begitu saja. Semua ada prosesnya, ada cerita suka dan duka yang kelak menjadi kenangan,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Rektor juga mengajak para finalis untuk menikmati setiap langkah yang dijalani dan menumbuhkan kecintaan terhadap proses tersebut. Menurutnya, kegagalan kerap muncul ketika seseorang memaksakan target di luar kapasitas diri, tanpa menghargai proses yang sedang berlangsung.
“Tugas kita adalah menikmati setiap langkah, mencintai proses, dan menumbuhkan passion,” katanya.
Ia turut mengapresiasi para finalis yang telah melalui seleksi ketat dan mampu menunjukkan kapasitas diri hingga terpilih dari ratusan peserta. Rektor berharap kesempatan ini dimanfaatkan sebagai pijakan untuk meraih masa depan yang lebih baik.
Dalam kesempatan itu, ia juga berbagi pengalaman pribadinya saat mengikuti proses seleksi beasiswa ke luar negeri. Ia menekankan pentingnya penguasaan academic writing, public speaking, serta penguatan inner intelligence sebagai bekal utama menghadapi persaingan global.
Sementara itu, Ketua Tim Humas dan Kerja Sama UIN Raden Intan Lampung melaporkan bahwa 20 finalis yang masuk tahap karantina merupakan hasil seleksi dari total 150 peserta. Proses seleksi meliputi administrasi, tes tertulis, wawancara, hingga berbagai tantangan seperti motion challenge.
Selama karantina, para peserta mendapatkan pembekalan dari dosen internal kampus, di antaranya materi Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan konsep green campus. Selain itu, panitia juga menghadirkan narasumber eksternal untuk memberikan materi public speaking, manner, personal branding, hingga content creator.
Tak hanya pembekalan akademik dan keterampilan, kegiatan karantina juga diisi dengan penguatan spiritual dan kebersamaan. Para finalis menjalani rutinitas harian mulai dari shalat malam berjamaah, shalat subuh, hingga senam pagi bersama.
Berbagai agenda penilaian seperti talent show dan deep interview turut digelar untuk mengukur kemampuan, karakter, serta potensi para peserta.
Melalui rangkaian kegiatan ini, diharapkan para finalis tidak hanya tampil sebagai representasi kampus, tetapi juga menjadi pribadi yang unggul, berkarakter, dan siap berkontribusi di tengah masyarakat. (***/red)














