PEMBARUAN.ID – Langit sore di Kota Baru seakan memeluk harapan yang dibawa oleh sekelompok mahasiswa Universitas Teknokrat Indonesia (UTI). Mereka datang bukan hanya dengan kata-kata, tetapi juga dengan tindakan nyata—sebuah sumbangan senilai Rp 150 juta untuk Masjid Al-Hijrah, salah satu ikon pembangunan di kota ini.
Dalam ruangan kerja Pj Gubernur Lampung, Samsudin, pertemuan itu terjadi. Tak ada orasi berteriak-teriak, tak ada spanduk, tapi aspirasi yang mereka sampaikan menggema lebih dalam.
Turwan Aldi Putra, Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) UTI, menjelaskan dengan tegas namun penuh ketulusan. Dukungan mereka tak hanya untuk pembangunan fisik, tetapi juga untuk cinta tanah air dan komitmen kepada Provinsi Lampung.
“Kami pernah berdiskusi dengan DPRD, berbicara tentang masa depan Lampung sebagai calon Ibukota Indonesia, dan sekarang kami kembali untuk mendukung pembangunan Kota Baru sebagai pusat ekonomi yang bisa mengubah wajah Lampung,” ujar Turwan.
Di balik kata-katanya, ada kerinduan untuk melihat Lampung maju, sebuah mimpi yang tak hanya milik mereka, tetapi seluruh masyarakat.
Di sudut ruangan, Bayu Putra Pratama, salah satu anggota BEM lainnya, menyuarakan keprihatinan yang lebih mendalam.
“Kami memohon agar mutu pendidikan di Lampung, khususnya pendidikan tinggi, lebih ditingkatkan. Ini bukan sekadar harapan, ini adalah fondasi untuk membangun masa depan yang lebih baik,” katanya, suaranya bergetar dengan keinginan untuk perubahan.
Samsudin, Pj Gubernur yang dikenal dekat dengan rakyatnya, tersenyum mendengar semua itu.
“Ini demo yang unik. Biasanya kalau ada aksi di jalan, saya cukup minta staf yang menemui. Tapi kali ini, saya harus turun langsung. Apa yang kalian sampaikan sangat relevan, dan kami mendukung penuh,” jawabnya dengan penuh antusias.
Pembangunan Kota Baru tak lagi hanya tentang gedung-gedung megah atau jalan raya yang luas. Kini, ada semangat yang datang dari mahasiswa, dari para pemuda yang membawa mimpi besar. Samsudin tak hanya mendengar, dia juga merespons dengan komitmen.
“Pembangunan harus dimulai dari hati. Dari masjid, kita bisa membangun Kota Baru ini,” tuturnya.
Dalam pertemuan itu, bukan sekadar angka Rp 150 juta yang penting. Lebih dari itu, ada jiwa, ada mimpi, dan ada cinta yang disumbangkan untuk masa depan. Kota Baru bukan hanya akan berdiri megah, tetapi juga akan menjadi simbol kolaborasi antara pemerintah dan generasi muda.
Langit Kota Baru semakin memerah saat pertemuan itu berakhir. Tapi semangat di dalam ruangan itu, tak akan pernah pudar. Mimpi mereka kini telah menyalakan cahaya baru, sebuah cahaya yang akan terus membimbing Lampung menuju hari esok yang lebih cerah. (sandika)














