logo pembaruan
list

Wartawan Spesialis, Bukan Sekedar Wartawan Naratif

Facebook
Twitter
WhatsApp

WARTA PEMBARUAN – Berbicara peran wartawan, saat ini yang dibutuhkan tidak hanya seorang wartawan yang naratif. Akan tetapi lebih dari itu, wartawan harus analitis. Hal tersebut di katakan Ketua Dewan Pers, Prof Dr Muhammad Nuh saat menjadi Keynote speaker pada Seminar Nasional Forum Wartawan Spesialis di Hotel Claro, Kendari, Sulawesi Tenggara, Senin (07/02/2022).

Menurut, Prof M Nuh, pers harus mejadi mesin edukasi. Selain itu, pers juga harus mampu memberikan pencerahan dan mampu memperkuat sumberdaya yang ada di masyarakat. Bukan justru sebaliknya, melemahkan sumberdaya yang ada di masyarakat dengan pemberitaan miring.

“Disini lah peran wartawan spesialis, yang memiliki pemahaman mendalam atas desk liputannya,” kata dia.

Seorang wartawan spesialis, lanjut Prof M Nuh, tidak harus memiliki background  pendidikan yang linier dengan desknya, katakanlah wartawan desk liputan pertanian tidak harus seorang sarjana pertanian. Untuk jadi seorang wartawan spesialis, cukup memiliki semangat yang visioner dan membangun.

Ketua Dewan Pers, Prof Dr Muhammad Nuh saat menjadi Keynote Speaker pada Seminar Nasional Wartawan Spesialis.

“Seorang wartawan analisisnya akan matang jika menjiwai pekerjaannya. Ada ungkapan Bad News Is Good News, ini adalah uangkapan media yang tersesat. Saat ini semakin bagus dan mendalam, semakin baik,” tuturnya.

Pada konteks ketahanan pangan, kata Prof M Nuh, pers dan seluruh stakeholder harus bersinergi. Mengapa kita harus bersinergi? Menurut Prof M Nuh, dalam perjalanan dunia bisnis. Jaman VOC, seluruhnya dimonopoly kelompok tertentu. Kemudian berubah jadi kompetisi.

“Di era kompetisi, tentu ada kalah dan menang. Hal ini yang mendorong munculnya istilah sinergi, tentu lebih menguntungkan karena tidak ada kalah menang, tapi win win,” tutur dia.

Saat ini, tambahnya, membahas sinergi, antara pers, pengusaha, pemerintah yang golnya adalah ketahanan pangan.

“Sinergi itu sendiri berkembang menjadi ekosistem, agar satu visi membentuk ekosistem, jika berkaitan dengan gol ketahan pangan, maka ekosistemnya ketahanan pangan indonesia,” jelas dia.

Urusan pangan, jelas dia, kita harus Interdependen, setelah dependen dan independen, agar orang lain menjadi ketergantungan pada kita berkaitan dengan pangan.

“Kuncinya mesin pertumbuhan harus bergerak, yakni Eksport dan Inport, Investasi, Belanja Pemerintah dan Belanja Masyarakat,” pungkasnya. (***)

Leave a Comment

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

Berita Terkait

Copyright © pembaruan.id
All right reserved