iklan
NASIONALPERISTIWA

PT-TUN Menangkan Slamet Ariyadi, IKA PMII Gelar Doa dan Pleno

×

PT-TUN Menangkan Slamet Ariyadi, IKA PMII Gelar Doa dan Pleno

Share this article

PEMBARUAN.ID — Sebuah babak baru mulai ditulis. Tidak dengan gegap gempita, tetapi lewat secarik putusan hukum yang pelan namun pasti mengubah arah perjalanan organisasi alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia.

Pengadilan Tinggi Tata Usaha Negara (PT-TUN) Jakarta pada 18 Februari 2026 membatalkan putusan Pengadilan Tata Usaha Negara Jakarta Nomor 222/G/2025/PTUN.JAKARTA. Putusan banding itu sekaligus menegaskan kepemimpinan Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB IKA PMII) di bawah Ketua Umum Slamet Ariyadi dan Sekretaris Jenderal Sudarto.

Kemenangan itu tidak disambut dengan selebrasi panjang. Justru sebaliknya. Para pengurus memilih menyiapkan ruang untuk berdoa.

Sabtu, 7 Maret 2026, di Hotel Luxury Inn Arion, Jakarta, Pengurus Besar IKA PMII akan berkumpul. Agenda mereka sederhana, namun sarat makna: doa bersama untuk bangsa dan rapat pleno organisasi.

Undangan resmi bernomor 004/A-1/PB IKA-PMII/III/2026 telah beredar. Ditandatangani langsung oleh Ketua Umum Slamet Ariyadi dan Sekretaris Jenderal Sudarto. Isinya mengajak seluruh pengurus besar IKA PMII untuk hadir dalam pertemuan yang dijadwalkan dimulai pukul 15.00 WIB hingga selesai.

Bagi sebagian orang, ini mungkin sekadar rapat organisasi. Tetapi bagi para alumni PMII, momentum ini terasa lebih dalam dari sekadar agenda administratif.

Seorang sumber menyebut pertemuan ini sebagai kesempatan penting untuk mengakhiri kisah panjang dualisme kepemimpinan yang selama ini membayangi organisasi alumni tersebut.

“Selain rapat pleno, akan ada doa bersama untuk bangsa. Ini penting, karena negeri ini—bahkan dunia—sedang menghadapi banyak persoalan serius,” ujarnya.

Di tengah situasi global yang tidak menentu, kata dia, organisasi alumni seperti IKA PMII juga memiliki tanggung jawab moral untuk ikut menjaga persatuan.

Karena itu, pertemuan ini bukan sekadar forum internal. Ia diharapkan menjadi titik temu. Tempat perbedaan diselesaikan, bukan diperpanjang.

“Ini saat yang tepat menyudahi dualisme. Bangsa ini butuh kebersamaan,” katanya.

Pesan itu terasa seperti gema lama yang kembali diingatkan. Seperti lirik mars PMII yang selama ini dinyanyikan dalam berbagai forum kader: Tangan Terkepal dan Maju ke Muka.

Sebuah seruan sederhana, namun tegas.

Bahwa perbedaan tidak harus menjadi alasan untuk berpisah. Bahwa organisasi, seperti juga bangsa, hanya bisa berjalan jauh jika langkahnya kembali seirama. (***/red)


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *