PEMBARUAN.ID – Di tengah gemuruh Kota Palembang, Sumatera Selatan, Kongres Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) ke-XXI mencoba melanjutkan tahapan forum sidang pleno pertama yang sempat terhenti. Namun, di balik semangat yang membara, ada arus ketegangan yang tak terelakkan.
Forum sidang itu berlanjut dengan penjagaan ketat dari Barisan Ansor Serba Guna (Banser) dan tim keamanan panitia lokal. Penjagaan yang begitu intens itu menciptakan suasana yang kaku, membatasi ruang gerak dan partisipasi aktif dari peserta sidang. Tidak hanya mengundang perhatian, tetapi juga memicu rasa frustrasi.
Di antara peserta yang hadir, Agung Fajri, seorang delegasi dari cabang Bandarlampung, angkat bicara tentang penundaan yang terjadi sebelumnya.
“Ketegangan ini muncul karena pimpinan sidang bertindak otoriter,” kata Agung dengan nada penuh kekecewaan. Suasana forum yang seharusnya kondusif berubah menjadi ajang perebutan kuasa.
Sidang akhirnya berlanjut di bawah pimpinan Pimsid dari unsur Steering Committee (SC), namun dengan pengawasan yang tetap ketat oleh Banser dan tim pengamanan.
Agung mengungkapkan ketidakpuasannya. “Memang sidang dimulai, tapi dijaga ketat. Pimsid yang ini lebih parah, semau-maunya,” ujarnya dengan sorot mata tajam, menggambarkan betapa rapuhnya dinamika forum.
Ia melanjutkan, forum terasa mati karena Pimsid tidak mendengarkan pendapat atau instruksi dari peserta.
“Peserta dihadapkan dengan Banser. Pimsid tidak peduli, asal ketok palu,” lanjut Agung, menggambarkan betapa frustasinya peserta yang merasa suaranya dibungkam.
Ada kecurigaan yang semakin menguat bahwa kongres ini tidak netral. Agung menuding panitia dan Pengurus Besar (PB PMII) telah menentukan nama ketua PB dan Ketua Kopri PB PMII terpilih sebelum forum sidang dimulai.
“Dari cara Pimsid, ada indikasi nama ketua terpilih sudah ditulis langsung di konsideran. Mereka ini tidak netral, cacat kongres ini,” tegas Agung, suaranya penuh penekanan, seolah menginginkan dunia mendengar ketidakadilan yang dirasakannya.
Kongres yang diharapkan menjadi wadah tertinggi aspirasi mahasiswa, justru dinilai lebih buruk dari forum-forum di tingkat rayon.
“Bahkan lebih buruk dari semua forum sidang. Ini tidak mencerminkan forum tertinggi di PMII,” tutupnya dengan nada yang sarat akan kekecewaan.
Malam itu, ketika jam menunjukkan pukul 18.30 WIB, forum sidang pleno yang seharusnya dimulai tepat waktu diwarnai kemarahan peserta. Sekitar satu jam setelah dimulai, sidang dipaksa untuk ditunda.
Namun, dengan segala kontroversi dan ketegangan yang membara, forum sidang pleno akhirnya dilanjutkan kembali dengan penjagaan ketat sekitar pukul 21.30 WIB, dan saat ini masih berlangsung meski dipending selama 2×30 menit.
Sebelumnya, forum sidang pleno telah dua kali tertunda akibat ketidakhadiran SC maupun PB PMII. Di balik segala hiruk-pikuk ini, harapan akan adanya perubahan dan keadilan masih menyala di hati para peserta kongres, meski jalan menuju ke sana terasa semakin terjal. (agis/red)














