PEMBARUAN.ID – Ada aroma yang tak sedap tercium dari aliran dana Corporate Social Responsibility (CSR) Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Isu ini menyeret nama-nama anggota DPR RI, khususnya mereka yang duduk di Komisi XI. Di tengah pusaran kabar yang bergulir, Aliansi Komando Aksi Rakyat (AKAR) Lampung tak tinggal diam.
“Kami ingin kebenaran. Tak peduli siapa yang terlibat, KPK harus berani membuka semuanya,” tegas Indra, Ketua AKAR Lampung.
Suaranya bergetar, tapi ada keyakinan di sana, seolah mewakili keresahan masyarakat Lampung yang mulai bertanya-tanya: Benarkah wakil-wakil mereka di Senayan ini bersih?
Isu ini menyeret tiga nama yang tak asing di telinga masyarakat Lampung. Ada Ela Siti Nuryamah, Bupati Lampung Timur terpilih; Marwan Cik Asan; dan Ahmad Junaidi Auly, yang kembali mendapat kepercayaan rakyat untuk periode 2024-2028.
Ketiganya disebut-sebut memiliki kaitan dengan dugaan penyelewengan dana CSR tersebut.
Indra menegaskan, ini bukan hanya persoalan individu.
“Ini soal sistem yang rusak. Kalau benar ada permainan, ini mencederai kepercayaan rakyat. Kita perlu bukti konkret dari KPK, bukan sekadar isu yang menggantung di udara,” ujarnya.
Aliansi ini juga mengingatkan bahwa dana CSR sejatinya adalah amanah, sebuah tanggung jawab sosial yang seharusnya membawa manfaat nyata bagi masyarakat.
Namun, ketika transparansi hilang dan akuntabilitas diragukan, kecurigaan pun muncul. Desakan kepada KPK pun menguat.
AKAR meminta lembaga anti-rasuah itu memanggil dan memeriksa seluruh anggota Komisi XI tanpa terkecuali. Tak ada ruang bagi setengah hati dalam pengungkapan kebenaran.
“Jika benar ketiganya terlibat, ini bukan hanya soal hukum. Ini soal kepercayaan masyarakat Lampung yang sudah kembali memberikan mandat kepada mereka. Jangan biarkan kepercayaan itu ternoda,” kata Indra menutup pernyataannya.
Kini, masyarakat menunggu. Apakah KPK akan menjawab tantangan ini dengan tuntas, atau justru membiarkan pertanyaan-pertanyaan itu tenggelam dalam kebisuan. Di balik semua itu, harapan akan keadilan tetap ada, meski kecil, tapi tetap menyala. (***)














