Oleh: Dr. H. Wahyu Iryana
Sejarawan, Anak Seorang Petani
PETANI selalu hadir sebelum republik dibayangkan. Mereka menanam ketika negara belum punya nama, memanen ketika politik belum menjadi hiruk-pikuk, dan menjaga tanah ketika kekuasaan datang silih berganti.
Karena itu Bung Karno, saat meresmikan Fakultas Pertanian pada 27 April 1952, menegaskan bahwa “pangan rakyat adalah soal hidup atau mati bangsa.” Dari semangat itulah lahir akronim PETANI—PEnyangga TAtanan Negara Indonesia. Bukan rumusan linguistik resmi, melainkan retorika politik Sukarno untuk menegakkan martabat kaum tani dan mengingatkan bahwa negara tidak akan berdiri jika perut rakyat keroncongan.
Sejarah berulang kali membuktikan kebenaran itu. Pada masa VOC, pusat serangan kolonial bukan istana, melainkan komoditas pertanian: padi, kopi, lada, pala. Petani Nusantara menjadi pusat ekonomi politik kolonial melalui tanam paksa, pungutan hasil bumi, dan pengawasan produksi. Logikanya sederhana: siapa menguasai petani, ia menguasai negara.
Pasca kemerdekaan, sejarah bergerak dengan pola yang sama. Krisis ekonomi 1998 melumpuhkan industri, namun pertanian tetap tumbuh positif. Ketika pandemi Covid-19 menghentikan hampir semua sektor, petani tetap menanam, memanen, dan memberi makan bangsa tanpa banyak bicara.
Dalam perjalanan agraria republik, Lampung adalah salah satu panggung terpenting. Sejak 1950-an, wilayah ini menjadi tujuan transmigrasi terbesar di Indonesia. Petani dari Jawa, Sunda, Bali, Madura, hingga Minang datang membawa pengalaman, bibit, dan kearifan masing-masing. Mereka bukan sekadar pendatang, melainkan pembawa tradisi agraris yang kemudian menyatu dengan masyarakat Lampung—baik Pepadun maupun Saibatin.
Di tanah inilah subak Bali, tandur Jawa, dan teknik sawah Sunda berpadu, menjadikan Lampung laboratorium agraris yang melahirkan keberhasilan berkelanjutan: padi, singkong, kopi robusta, dan lada yang menopang konsumsi nasional dari masa ke masa.
Namun keberhasilan tidak pernah lahir dari slogan. Setiap butir nasi menyimpan 120 hari kerja yang sunyi: tanah dicangkul, bibit disemai, tandur dilakukan sambil mundur, pemupukan, pengairan, kendali hama, hingga panen yang kemudian dijemur, digiling, dipilah, dan dikirim ke dapur rakyat.
Profesi apa lagi yang hasilnya dimakan seluruh bangsa setiap hari, tetapi paling jarang dihormati? Di Lampung, kerja itu dilakukan ribuan keluarga petani sejak fajar hingga malam, sering tanpa perlindungan harga dan tanpa kepastian lahan. Mereka memberi negara kepastian, sementara negara kerap tidak memberi kepastian untuk mereka.
Tantangan petani hari ini lebih berat daripada masa lalu. Alih fungsi lahan tak terkendali membuat sawah berubah menjadi perumahan, pabrik, atau kebun monokultur. Distribusi pupuk bersubsidi kerap tersendat. Harga gabah yang naik-turun tanpa logika membuat petani tak punya posisi tawar.
Generasi muda Lampung enggan meneruskan profesi ini karena pertanian dianggap tidak menjanjikan, padahal dari tanah inilah republik berkali-kali selamat dari krisis. Di tengah perubahan iklim, petani juga menghadapi pola hujan yang kacau, banjir di musim kemarau, serta hama yang sulit diprediksi.
Di titik inilah Lampung seharusnya menjadi model nasional. Provinsi ini memiliki sejarah transmigrasi yang kuat, keragaman ilmu tani, kultur agraris yang masih hidup, dan tanah yang relatif subur.
Jika pemerintah memperkuat perlindungan harga, memajukan koperasi petani, membenahi irigasi, serta membuka akses alat pertanian modern, Lampung bisa kembali menjadi episentrum ketahanan pangan Indonesia.
Universitas dan pesantren dapat berperan sebagai pusat riset benih lokal, pengolahan pascapanen, dan digitalisasi pertanian. Lampung memiliki modal sosial; yang kurang hanyalah keberpihakan kebijakan.
Menghormati petani tidak berarti memberi mereka upacara, tetapi menghadirkan kebijakan yang melindungi keberlangsungan hidup mereka. Tidak ada negara yang kuat dengan perut rakyat rapuh. Tanpa petani, tidak ada pangan; tanpa pangan, tidak ada ketahanan; tanpa ketahanan, tidak ada republik.
Sejak dulu akar sejarah kita selalu sama: padi, tanah, dan manusia yang menjaga keduanya. Lampung berdiri di jantung sejarah itu, dan masa depan republik sangat bergantung pada bagaimana kita merawatnya.
Dan untuk menghormati kerja panjang itu, izinkan opini ini ditutup dengan sebuah syair.
Tanah Lampung, Nafas Petani
Pagi datang seperti tamu lama
yang selalu mengetuk lumbung-lumbung Lampung.
Di pematang, seorang petani menunduk,
bukan oleh lelah, tetapi oleh hikmah padi
yang mengajarinya merunduk saat berisi.
Ia menanam sambil mundur,
seolah ingin berkata bahwa masa lalu
adalah pintu yang tak boleh ditutup
ketika masa depan memanggil terus-menerus.
Di tubuhnya tanah menjadi riwayat,
di keringatnya republik menemukan napas.
Dan pada setiap butir yang jatuh ke lumpur,
kita belajar bahwa sebuah bangsa
bisa runtuh oleh kesombongan,
tetapi selalu tumbuh oleh kesabaran petani.
Tabik














