iklan
ARITORIAL

Warisan Termahal

×

Warisan Termahal

Share this article

“Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda,” kata Tan Malaka, seorang pejuang yang tak hanya menorehkan jejak di medan perang, tetapi juga di jagat pikiran.

KATA kemewahan itu terdengar unik. Biasanya kita mengenal kemewahan sebagai harta, tahta, atau benda berkilau yang bisa dipamerkan. Namun, bagi Tan Malaka, justru idealisme-lah yang menjadi kemewahan sejati. Sesuatu yang tak bisa dibeli, tak bisa diwariskan begitu saja, dan tak semua orang sanggup menjaganya.

Pemuda adalah pemilik sah dari kemewahan itu. Di masa mudalah nyali masih penuh, keyakinan masih murni, dan semangat masih berapi-api. Berani melawan arus dianggap wajar, bermimpi besar terasa masuk akal, menentang status quo bukanlah kegilaan. Idealisme adalah hak istimewa yang diberikan alam pada usia muda.

Namun, seperti semua kemewahan, idealisme pun rapuh. Ia bisa hilang perlahan. Tergilas oleh kebutuhan hidup, tuntutan keluarga, atau godaan materi. Banyak yang akhirnya menjual idealismenya dengan harga murah, menukarnya dengan kompromi kecil yang lama-lama menjadi kebiasaan. Maka, Tan Malaka mengingatkan: jangan biarkan kemewahan itu terbuang percuma.

Tentu idealisme bukan satu-satunya modal. Tanpa ilmu dan nalar, idealisme hanya menjadi kobaran api tanpa arah. Tetapi tanpa idealisme, ilmu akan kering, kehilangan daya gerak, terjebak dalam pragmatisme yang hampa. Pemuda butuh keduanya: api idealisme dan pisau logika.

Hari ini, di tengah dunia yang sibuk mengejar validasi cepat, ketika media sosial lebih sering melahirkan sensasi ketimbang gagasan, idealisme kerap dianggap barang antik. Padahal, justru idealisme-lah yang dulu menggerakkan sejarah. Tanpa idealisme, Indonesia tak akan pernah lahir sebagai bangsa merdeka.

Tan Malaka seolah berpesan: jangan biarkan warisan termahal itu padam. Kalau pemuda hanya sibuk mengoleksi barang mewah, itu biasa. Tetapi jika pemuda mampu menjaga kemewahan berupa idealisme, itu luar biasa.

Dan pada akhirnya, idealisme bukan sekadar milik pribadi. Ia adalah warisan. Dari satu pemuda ke pemuda lain, dari satu generasi ke generasi berikutnya. Pertanyaannya kini: sanggupkah kita menjaga warisan termahal itu?

Tabik


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ARITORIAL

ANJIR! Begitu anak muda hari ini mengungkapkan kekagumannya,…