PUISI “Di Tubuhku Terdalam Kapal Telah Karam” karya Isbedy Stiawan ZS menghadirkan sebuah metafora yang kuat tentang kehancuran, kehilangan, sekaligus keterasingan manusia dari dirinya sendiri.
Dari larik awal, penyair menegaskan bahwa di dalam tubuh terdalam, kapal-kapal telah karam. Tubuh dalam puisi ini bukan sekadar raga, melainkan ruang batin, ruang kehidupan, bahkan bisa dibaca sebagai representasi sebuah bangsa.
Kapal yang karam menjadi simbol dari harapan yang pupus, perjalanan yang terhenti, dan cita-cita yang gagal berlabuh.
Air, yang biasanya melambangkan kehidupan sekaligus daya gerak, dikatakan telah terkuras habis. Tak ada lagi yang melayarkan kapal.
Larik ini terasa relevan dengan situasi saat ini, ketika banyak orang merasa kehilangan energi, kehilangan arah, bahkan kehilangan keyakinan. Di tengah berbagai krisis—ekonomi, sosial, hingga spiritual—kita sering merasakan tubuh batin kita kering, tak lagi punya daya untuk bergerak.
Pertanyaan yang diajukan penyair, “Lalu apakah angin mesti kuundang agar kapal berlayar?” terdengar lirih sekaligus getir. Angin di sini dapat dimaknai sebagai faktor eksternal yang diharapkan mampu menggerakkan kembali kapal-kapal kehidupan.
Namun, dalam kenyataannya, apakah kita terus menunggu angin datang? Ataukah kita justru mesti menciptakan angin dari napas kita sendiri? Pertanyaan itu, seakan diarahkan pada kita hari ini yang sering terjebak dalam ketergantungan—pada pemimpin, pada sistem, bahkan pada keadaan yang kita anggap menentukan nasib.
Bagian akhir puisi menyingkap luka terdalam: “Pada tubuhku yang sudah kaukuras aku tak dapat bercermin.” Bayangan diri lenyap, cermin retak, identitas pun hilang.
Inilah potret manusia modern yang hidup di tengah pusaran eksploitasi: tubuh dan batin dikuras oleh ambisi, oleh kuasa, oleh rakus yang menghisap. Ketika semuanya terkuras, kita tak lagi mampu melihat siapa diri kita.
Puisi Isbedy, dengan kesederhanaan larik, justru melahirkan kedalaman tafsir. Ia bukan hanya tentang kapal yang karam di tubuh seorang individu, melainkan juga kapal-kapal bangsa yang terhenti karena air kehidupan kering terkuras.
Puisi ini adalah peringatan, agar kita kembali menemukan air, angin, dan cermin untuk diri kita sendiri—sebelum karam itu menjadi abadi.
—————
DI TUBUHKU TERDALAM KAPAL TELAH KARAM
bahkan di tubuhku terdalam kapal-kapal telah karam air yang melayarkan tak lagi sisa. terkuras
lalu apakah angin mesti kuundang agar kapal berlayar?
pada tubuhku yang sudah kaukuras aku tak dapat bercermin
2022
Tabik










