KABAR pemakzulan Ketua Umum PBNU, Gus Yahya, datang seperti suara kentongan ronda yang dipukul tidak pada waktunya: keras, tiba-tiba, dan membuat orang keluar rumah tanpa sempat memakai sendal yang sama kiri-kanan.
Belum jelas siapa yang pertama memukul kentongan itu—entah ketua RT, entah anak kecil yang iseng, atau mungkin kucing yang merasa haknya sebagai warga kampung diabaikan—pokoknya publik keburu gaduh.
Masyarakat (termasuk nahdliyin) memang punya dua keahlian bawaan sejak lahir: membahas isu penting tanpa membaca seluruh informasi, dan membahas isu tidak penting dengan energi seperti sedang negosiasi Perjanjian Renville.
Maka begitu rumor “pemakzulan” beredar, orang-orang langsung berkumpul di mana saja—mulai dari grup WhatsApp keluarga, warung kopi, hingga kolom komentar Facebook yang isinya lebih ribut dari sidang parlemen zaman Orde Lama.
Ada yang angkat tangan seolah mau bertanya, padahal hanya ingin menunjukkan dirinya siap ikut debat. Ada yang angkat alis, pura-pura bingung padahal hatinya senang karena ada bahan gosip baru.
Lebih banyak lagi yang angkat volume, karena kalau bicara biasa tidak didengar. Di negeri ini, suara keras sering dianggap lebih benar daripada argumen panjang.
Tudingan beterbangan seperti nyamuk malam hari—menggigit sembarang orang tanpa peduli siapa korbannya. “Rais ‘Aam tidak dipatuhi!” kata satu kelompok sambil menepuk meja. “Wibawa jatuh!” seru yang lain dengan mimik seperti baru saja kehilangan ayam peliharaannya.
Ada pula yang menanyakan NU mau dibawa ke mana, seolah-olah NU adalah becak dan mereka adalah penumpangnya.
Tak mau kalah, kubu yang membela mengeluarkan jurus internasional. “Ini diplomasi global!” katanya, penuh percaya diri, seperti gaya detektif Conan sambari mengangkat kaca pembesar. Nada bicaranya seperti orang yang baru membaca tiga artikel luar negeri lalu merasa siap jadi juru bicara PBB. Yang dituding bengong, yang menuding makin galak. Semua saling memukul udara dengan opini masing-masing. Udara kita sudah panas, ditambah pukulan opini jadi makin berdebu.
Belum selesai gaduh babak pertama, datanglah rombongan narasi baru, lebih keras, lebih berapi-api. “Ini perang visi! Ini penentuan arah masa depan!” Kata-kata itu dilontarkan dengan keseriusan seperti orang sedang membahas resep sambal terasi yang ideal. Seolah kalau salah sedikit, masa depan bangsa bisa kebanyakan garam.
Dalam kekacauan itu, ahli komentar—makhluk unik yang jumlahnya tak terbatas—muncul seperti jamur setelah hujan. Bedanya, jamur bisa dimakan, ahli komentar kadang justru bikin keracunan.
Banyak yang bersuara lantang padahal jaraknya dari sumber informasi lebih jauh dari jarak rantau seorang kiai kampung menuju Makkah naik kapal tahun 1930. Yang dipegang pun bukan notulen rapat, melainkan potongan kabar dari grup yang anggotanya saja tidak dikenali. Yang dijadikan pedoman bukan musyawarah, melainkan prasangka.
Padahal ada satu kebenaran sederhana, jernih, dan tidak memerlukan ijazah untuk memahami: NU itu terlalu besar untuk diguncang oleh komentar para netizen yang kuotanya sering habis di tengah jalan.
Elitnya boleh berbeda pendapat—itu sehat. Sama seperti gula dan garam berbeda rasa, tapi dua-duanya tetap dibutuhkan dalam dapur kebangsaan kita. Justru yang tidak sehat adalah ketika nahdliyah di bawah ikut berubah menjadi pasukan komentator yang tidak kenal rem tangan.
Bagai mobil tua tanpa rem yang meluncur di turunan, ujungnya tabrakan batin. Sebab gaduh di atas tidak pernah meruntuhkan NU. Yang bisa meruntuhkan NU adalah gaduh di bawah—gagalnya kita membedakan mana yang perlu dibahas dan mana yang lebih baik ditinggal tidur siang.
Para kiai sedang bermusyawarah. Para masyayikh sedang menimbang, menghitung, membolak-balik masalah dengan kebijaksanaan yang diam-diam, tidak perlu diceritakan play-by-play seperti pertandingan bola.
Mereka berdiskusi seperti orang tua membahas biaya sekolah anak: penting, serius, tapi tidak untuk disiarkan live streaming.
Kita yang di bawah ini sering lupa pada satu tugas kecil yang bisa menyelamatkan banyak hal: menahan diri. Bukan hal mudah, karena menahan diri itu kegiatan yang tidak menghasilkan notifikasi, tidak muncul di FYP, dan tidak membuat kita terlihat cerdas di grup alumni.
Ketika kita ikut menyulut, ikut memprovokasi, ikut membelah, sebenarnya kita tidak sedang menjaga jam’iyah. Kita justru menjadi beban—mirip koper berat yang dibawa jamaah haji tapi isinya hanya oleh-oleh sandal hotel.
NU bisa berdiri lebih dari seratus tahun bukan karena bebas dari badai. Bukan karena pengurusnya selalu akur seperti anak-anak pramuka yang baru pulang camping. Tapi karena jamaahnya, dari dulu sampai sekarang, tahu kapan harus bicara dan kapan harus menundukkan kepala.
Para pendiri NU dulu menghadapi penjajah, pergolakan, debat ideologi, sampai dikira organisasi tukang doa saja pun pernah. Tapi mereka tetap tegak, karena jamaahnya paham prinsip sederhana: ribut secukupnya, taat sewajarnya, hormat sebanyak-banyaknya.
Dan saya—anak muda NU yang hidupnya ditempa oleh pengajian, kopi pahit, dan cerita para kiai—ingin jujur-jujuran: NU ini terlalu besar untuk dirobohkan oleh opini, terlalu matang untuk hancur oleh narasi, terlalu tahan banting untuk runtuh hanya karena beda tafsir soal urusan organisasi.
Kalau ada yang merasa NU akan pecah karena berita hari ini, itu sama seperti khawatir kapal Titanic karam karena hujan gerimis. Jangan melebih-lebihkan kemampuan badai kecil.
NU sudah melewati badai sepuluh kali lipat lebih besar. Maka untuk urusan gaduh di atas, biarkan para pemimpin menyelesaikannya. Itu pekerjaan mereka, hak mereka, sekaligus cobaan mereka. Namun untuk kita yang di bawah—yang kerjanya merawat jamaah, menjaga kenyamanan mushala, dan memastikan obrolan tidak kebablasan—mari tetap teduh.
Di atas boleh ribut. Di bawah harus tetap waras.
Karena kalau tidak, nanti NU repot mengurus dua hal sekaligus: konflik para elit, dan kegaduhan para pecintanya.
Dan percayalah, NU tidak kekurangan masalah. Justru yang kurang dari jam’iyah ini adalah orang-orang yang mau menahan diri.
Di ahir tulisan ini saya ingin mengatakan, “Yuk, semua belajar sabar!”. Seperti kata senior saya Khaidir Bujung, “Sabar, tunggu mukhtamar! Toh kita sudah tau kedua tokoh di atas itu. Ya, memang begitu orangnya”.
Tabik.










