iklan
SUDUT PANDANG

Mahbub Djunaidi: Sang Pendekar Pena dan Pejuang Intelektual

×

Mahbub Djunaidi: Sang Pendekar Pena dan Pejuang Intelektual

Share this article

Oleh: Dr H Wahyu Iryana
Sejarawan UIN Raden Intan Lampung

MAHBUB Djunaidi adalah sosok yang begitu kompleks dan berpengaruh dalam sejarah intelektual dan pergerakan sosial di Indonesia. Sebagai pendiri Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), kolumnis tajam, esais produktif, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), serta aktivis Nahdlatul Ulama (NU), Mahbub bukan hanya sekadar jurnalis atau aktivis, tetapi juga seorang pemikir yang mampu menerjemahkan realitas sosial dalam tulisan-tulisannya. Dengan pena sebagai senjatanya, ia berjuang demi keadilan, demokrasi, dan nilai-nilai Islam yang progresif.

Tulisan ini akan mengulas kiprah Mahbub Djunaidi dari berbagai aspek, mulai dari perannya di PMII, ketajaman analisisnya sebagai kolumnis dan esais, perjuangannya sebagai Ketua PWI, hingga kontribusinya sebagai aktivis NU. Sosok Mahbub Djunaidi bukan hanya inspiratif, tetapi juga relevan bagi kondisi Indonesia saat ini, di mana dunia jurnalistik dan intelektual tengah menghadapi berbagai tantangan besar.

PMII dan Perjuangan Mahasiswa Islam

Mahbub Djunaidi lahir pada 27 Juli 1933 di Jakarta dan tumbuh dalam lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) yang kental. Sebagai pemuda yang berpikir kritis, ia tidak sekadar menerima tradisi NU begitu saja, tetapi juga berupaya mengaktualisasikan nilai-nilai Islam dalam konteks kebangsaan dan sosial yang lebih luas.

Salah satu kiprah paling monumental Mahbub adalah menjadi Ketua Umum PB PMII yang pertama pada 17 April 1960. Organisasi ini lahir sebagai wadah bagi mahasiswa Islam, khususnya yang berafiliasi dengan NU, untuk menyalurkan gagasan dan perjuangan mereka dalam ranah intelektual dan sosial. Saat itu, Indonesia masih berada dalam masa-masa transisi politik yang penuh ketidakpastian, dengan ideologi-ideologi besar seperti komunisme, nasionalisme, dan Islamisme saling bersaing untuk mendapatkan tempat dalam kebijakan negara.

PMII hadir sebagai jawaban atas kebutuhan mahasiswa Islam yang ingin berperan aktif dalam membangun bangsa tanpa harus terjebak dalam ekstremisme ideologi tertentu. Mahbub ingin menjadikan PMII sebagai organisasi yang inklusif, berbasis intelektualitas, serta berorientasi pada perjuangan sosial yang konkret. Ia menekankan bahwa Islam harus menjadi kekuatan moral yang mampu mendorong perubahan sosial yang adil dan berkeadaban.

Berkat kepemimpinan dan gagasannya, PMII berkembang menjadi salah satu organisasi mahasiswa Islam terbesar di Indonesia. Hingga kini, PMII tetap eksis sebagai wadah bagi kader-kader muda NU yang ingin mengasah pemikiran kritis dan keterampilan kepemimpinan.

Kolumnis dan Esais yang Tajam

Selain aktif dalam organisasi mahasiswa dan kepemudaan, Mahbub juga dikenal sebagai seorang kolumnis dan esais yang tajam. Ia memiliki gaya menulis yang khas: humoris, satir, tetapi tetap tajam dalam kritiknya.

Tulisan-tulisan Mahbub banyak dimuat di berbagai media, terutama di harian Kompas, di mana ia sering membahas berbagai isu sosial, politik, dan kebangsaan dengan bahasa yang ringan namun menggigit. Dalam setiap tulisannya, Mahbub tidak hanya sekadar memberikan kritik, tetapi juga menawarkan sudut pandang yang segar dan mendalam.

Sebagai seorang jurnalis, Mahbub sangat menjunjung tinggi kebebasan pers. Baginya, pers harus menjadi corong kebenaran yang mampu mengawal jalannya demokrasi. Ia tidak segan-segan mengkritik pemerintah maupun kelompok-kelompok yang dianggap menyalahgunakan kekuasaan. Sikap kritis inilah yang membuatnya disegani sekaligus dikagumi oleh banyak kalangan.

Ketua PWI dan Perjuangan Kebebasan Pers

Kiprah Mahbub Djunaidi dalam dunia jurnalistik tidak berhenti sebagai penulis semata. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pada era 1970-an.

Sebagai Ketua PWI, Mahbub memperjuangkan independensi pers di tengah tekanan rezim Orde Baru yang semakin represif. Pada masa itu, kebebasan pers sangat dibatasi, dan banyak media yang harus berhadapan dengan sensor ketat dari pemerintah. Mahbub berusaha menjadikan PWI sebagai organisasi yang tidak hanya sekadar wadah bagi wartawan, tetapi juga sebagai benteng pertahanan bagi kebebasan pers.

Ia menyadari bahwa pers memiliki peran vital dalam menjaga demokrasi. Tanpa pers yang bebas dan independen, rakyat akan sulit mendapatkan informasi yang objektif dan jujur. Oleh karena itu, meskipun menghadapi berbagai tekanan, Mahbub tetap berusaha mempertahankan integritasnya sebagai jurnalis dan pemimpin organisasi pers.

Aktivis NU dan Pejuang Islam Moderat

Sebagai kader NU, Mahbub Djunaidi juga memiliki peran penting dalam mengembangkan pemikiran Islam yang moderat dan inklusif. Ia meyakini bahwa Islam harus menjadi kekuatan yang membawa kemajuan, bukan justru menjadi alat untuk mengekang kebebasan atau menebar ketakutan.

Pemikirannya sangat relevan dengan prinsip Ahlussunnah wal Jama’ah yang dianut NU, yaitu keseimbangan antara tradisi dan modernitas, serta antara teks dan konteks. Mahbub menekankan pentingnya Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin—agama yang membawa rahmat bagi seluruh umat manusia.

Dalam berbagai tulisannya, ia sering mengkritik kelompok-kelompok yang menggunakan Islam sebagai alat politik untuk kepentingan kekuasaan. Ia juga menentang keras segala bentuk ekstremisme, baik yang datang dari kelompok Islam konservatif maupun dari ideologi-ideologi lain yang menolak keberagaman.

Mahbub memahami bahwa tantangan terbesar umat Islam bukan hanya soal mempertahankan identitas, tetapi juga bagaimana mengaktualisasikan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata yang dinamis. Ia berpendapat bahwa umat Islam harus terus belajar, berpikir kritis, dan tidak terjebak dalam dogmatisme yang kaku.

Relevansi Pemikiran Mahbub Djunaidi untuk Indonesia Hari Ini

Di tengah kondisi Indonesia saat ini, pemikiran dan perjuangan Mahbub Djunaidi masih sangat relevan. Dunia jurnalistik sedang menghadapi ancaman serius, baik dari tekanan politik, disinformasi, maupun kepentingan bisnis. Sementara itu, dunia intelektual juga mengalami tantangan dalam mempertahankan kebebasan berpikir di tengah arus radikalisme dan konservatisme yang semakin menguat.

Mahbub mengajarkan bahwa kebebasan berpikir dan kebebasan pers adalah dua pilar penting dalam membangun masyarakat yang demokratis. Ia juga menunjukkan bahwa Islam dan intelektualitas bisa berjalan beriringan, tanpa harus saling menegasikan.

Selain itu, semangat perjuangan Mahbub dalam membela kepentingan rakyat kecil juga patut dicontoh. Ia tidak pernah terjebak dalam elitisme intelektual, tetapi justru selalu berpihak pada mereka yang tertindas. Sikapnya ini menjadi inspirasi bagi para aktivis, jurnalis, dan pemikir muda yang ingin berkontribusi dalam perubahan sosial.

Sederhananya, Mahbub Djunaidi adalah sosok yang kompleks: seorang intelektual, aktivis, jurnalis, dan pemikir yang tidak pernah lelah memperjuangkan keadilan. Dengan gaya penulisan yang tajam namun humoris, ia mampu mengkritik kekuasaan tanpa kehilangan daya tarik bagi pembaca.

Sebagai pendiri PMII, ia membangun wadah bagi mahasiswa Islam untuk berpikir kritis dan progresif. Sebagai Ketua PWI, ia memperjuangkan kebebasan pers di tengah tekanan rezim. Sebagai aktivis NU, ia menegakkan Islam yang moderat dan inklusif.

Warisan Mahbub Djunaidi bukan hanya sekadar tulisan atau organisasi yang ia dirikan, tetapi juga semangat perjuangan yang tetap relevan hingga hari ini. Indonesia membutuhkan lebih banyak sosok seperti Mahbub—pendekar pena yang berani, jujur, dan selalu berpihak pada kebenaran.

Wallahualam


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *