PEMBARUAN.ID – Musim penghujan kembali membawa kisah duka di berbagai wilayah Nusantara, termasuk di Lampung. Banjir yang melanda beberapa daerah tidak hanya merendam rumah, tetapi juga menguji solidaritas kita sebagai umat manusia.
Di tengah musibah ini, hadir suara penuh kebijaksanaan dari Gus Sonhaji, Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hamid, Cinta Mulya, Lampung Selatan.
“Musibah seperti ini jangan sampai menjadi panggung bagi mereka yang ingin mencari perhatian,” ujar Gus Sonhaji kepada pembaruan.id, Minggu (19/01/2025).
Pernyataan ini bukanlah kritik kosong, melainkan ajakan untuk kembali kepada niat yang tulus. Sebagai Ketua Alumni Pondok Pesantren Lirboyo Provinsi Lampung sekaligus aktivis Lembaga Bahtsul Masail Nahdlatul Ulama (LBM NU) Lampung, beliau mengingatkan bahwa di tengah penderitaan sesama, yang diperlukan adalah tindakan nyata, bukan sekadar simbolisme atau pencitraan.
Menghidupkan Nilai Kebersamaan
Gus Sonhaji menekankan pentingnya kerja kolektif dari semua pihak. “Semua pihak harus turun tangan, baik pemerintah, organisasi, maupun masyarakat umum. Jangan hanya berdiri menonton, apalagi menambah beban korban,” tegasnya.
Sebagai seorang ulama, beliau mengingatkan akan kaidah fiqih:
“الضَّرَرُ يُدَفَعُ بِقَدَرِ الإِمْكَانِ”
(Mudharat harus dihindari sejauh mungkin).
Kaidah ini bukan hanya petuah bagi para santri, tetapi juga pedoman universal. Dalam konteks bencana, Gus Sonhaji mengajak kita untuk bergerak bersama demi meringankan beban korban.
Bantuan logistik, pelayanan kesehatan, dan pendampingan psikologis menjadi prioritas yang harus segera diwujudkan.
Hikmah di Balik Ujian
Bagi Gus Sonhaji, bencana alam adalah ujian yang mengajarkan banyak hal. Banjir mengingatkan manusia untuk introspeksi diri, baik dalam menjaga lingkungan maupun memperbaiki hubungan sosial.
“Bencana ini adalah sinyal bahwa kita perlu lebih peduli terhadap alam. Kerusakan lingkungan yang menjadi salah satu penyebab banjir adalah akibat kelalaian kita bersama,” katanya.
Dengan gaya khasnya yang lembut namun tegas, Gus Sonhaji mengakhiri pesannya dengan harapan agar bencana ini tidak sekadar menjadi cerita penderitaan, melainkan juga menjadi momentum kebangkitan.
“Musibah ini harus menjadi pelajaran agar kita lebih bijak. Jangan hanya mendoakan, tetapi bertindaklah. Doa yang diiringi aksi nyata adalah bentuk kepedulian sejati,” ujarnya.
Di tengah derasnya arus air yang melanda, ada arus kebijaksanaan yang ditawarkan Gus Sonhaji. Sebuah pesan sederhana, tetapi bermakna dalam: Mari bergandeng tangan, saling membantu, dan menjadikan musibah ini sebagai jembatan menuju kebaikan. (***)














