PADA usia yang baru menginjak 26 tahun, Sasa Chalim berdiri tegak di gedung DPRD Provinsi Lampung, merasakan beratnya tanggung jawab yang kini ia emban sebagai anggota dewan termuda.
Hatinya berdebar, bukan karena gugup, melainkan karena keinginan yang begitu besar untuk membawa perubahan, terutama bagi generasi yang lahir di tengah derasnya arus teknologi dan informasi.
Menjadi adik kandung dari mantan Wakil Gubernur Lampung, Chusnunia alias Nunik, mungkin memberikan Sasa sedikit pengaruh. Namun, itu bukan alasan utama ia melangkah ke dunia politik.
Ada hasrat kuat yang mendorongnya, semangat yang membara untuk menyuarakan apa yang selama ini terpendam di hati kaum muda.
Ia tahu, generasi milenial dan gen-z memiliki suara yang belum sepenuhnya terdengar di ruang-ruang parlemen. Suara yang menggema dari keinginan untuk diakui, untuk diberi ruang, untuk berperan lebih dari sekadar penonton.
“Kita sebagai perwakilan anak muda, akan terus turun ke anak muda milenial, gen-z, menyampaikan aspirasi dan kebutuhan mereka ke parlemen khususnya di DPRD Provinsi Lampung,” ujar Sasa, matanya memancarkan keyakinan.
Ia tahu, tugasnya tak mudah. Tapi ia percaya, langkah kecil yang ia ambil hari ini akan membuka jalan bagi ribuan anak muda lainnya yang ingin berkontribusi.
Dokter muda yang kini menyandang gelar legislator ini tak hanya membawa harapan kaum muda, tapi juga membawa suara perempuan yang seringkali masih dirundung ketidakadilan.
Baginya, perempuan harus terus maju, melawan setiap bentuk diskriminasi yang menghalangi langkah mereka. Ia berharap, dengan posisinya sekarang, ia bisa menjadi perpanjangan suara mereka yang selama ini terbungkam.
Meski baru pertama kali duduk di kursi legislatif, Sasa telah memiliki pandangan yang jelas tentang masa depan. Ia ingin ditempatkan di Komisi V, bidang yang sesuai dengan latar belakangnya sebagai dokter.
“Lebih baik kita sesuai dengan bidangnya, kemungkinan sesuai kemampuan saya khususnya kesehatan,” katanya.
Ia tahu, banyak hal yang bisa ia lakukan di sana, terutama untuk memastikan akses kesehatan yang lebih baik bagi masyarakat.
Di balik sosoknya yang tampak tenang, ada tekad kuat yang tak bisa diabaikan. Sasa Chalim bukan hanya seorang politisi muda; ia adalah simbol harapan bagi generasinya, pembawa obor yang akan menerangi jalan bagi mereka yang ingin memperjuangkan perubahan.
Meski langkahnya baru dimulai, setiap jejak yang ia tinggalkan akan mengukir cerita yang inspiratif bagi kaum milenial dan gen-z di seluruh Lampung.
Dan di senja yang penuh harap itu, Sasa tahu, ini bukan hanya tentang dirinya. Ini tentang sebuah perjuangan untuk memastikan bahwa suara anak muda, suara perempuan, akan terus menggema di gedung parlemen, tak lagi diabaikan atau dipinggirkan.
Sebab, perubahan besar selalu dimulai dari langkah-langkah kecil yang penuh keyakinan.
Sasa tidak sendiri. Selain Sasa, Anggota DPRD Lampung berusia muda bernama Galang Putra Rahman, dari Dapil 5 Waykanan, Lampura. Politisi Fraksi Gerindra ini, lahir pada 19 November 1998. Artinya saat ini ia baru menginjak usia 25 tahun.
Sayang, saat ingin dimintai keterangan Galang masih enggan berkomentar. “Udah diwakilin Sasa aja,” singkatnya. (sandika)














