LANGIT cerah pagi itu seolah menyambut langkah Meiyusi Ade Putra, yang baru saja tiba di Bandara Radin Iten II, Natar, Kabupaten Lampung Selatan, Senin (02/09/2024).
Di balik senyumnya yang menawan, tersimpan perasaan campur aduk yang sulit terucap. Ia tahu, di sana ada harapan yang telah digantungkan oleh banyak orang di pundaknya, namun kali ini ia hanya membawa pulang medali perunggu.
Di tengah kerumunan yang menyambutnya, berdirilah Dicki, Kabid Binpres Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Provinsi Lampung. Tatapannya hangat, penuh rasa bangga yang terlukis jelas meskipun ia tahu, tak semua impian bisa diraih dalam satu kesempatan.
“Kami, mewakili Pemerintah Provinsi Lampung, menyambut kedatangan salah satu atlet kita, Meiyusi Ade Putra, peraih medali perunggu PON XXI dari cabang senam artistik,” ujar Dicki dengan suara yang mantap namun bersahabat. Kata-katanya seperti selimut di pagi yang dingin, memberikan kehangatan di hati siapa pun yang mendengarnya.
Namun, di dalam hati Meiyusi, ada rasa yang tak terelakkan. Ia merasa belum sepenuhnya memenuhi ekspektasi banyak pihak.
“Saya mohon maaf kepada seluruh masyarakat Lampung,” ucapnya dengan suara yang sedikit bergetar, seperti ombak kecil yang menyentuh lembut pantai.
“Saya sudah berusaha dan bertekad untuk bisa mempersembahkan medali emas. Namun, hanya bisa memberikan medali perunggu.”
Kata-kata itu bukan sekadar ucapan, melainkan sebuah perasaan tulus yang ia bawa sejak menapaki karpet bandara.
Apresiasi dan dukungan dari KONI serta Pemprov Lampung, yang ia rasakan selama ini, menjadi bahan bakar bagi semangatnya. Namun, sambutan hangat ini membuatnya sadar bahwa setiap usaha tak selalu harus diukur dari hasil akhir.
“Terima kasih atas sambutan ini,” lanjutnya dengan senyum yang mulai mengembang, meski mata itu menyimpan cerita lelah yang hanya bisa dirasakan oleh mereka yang pernah berdiri di titik yang sama.
“Padahal, saya cuma memberikan perunggu dan ini sangat mengharukan.”
Dan pagi itu, di antara hiruk pikuk bandara, seorang atlet muda menyadari bahwa perjalanan ini bukan hanya tentang medali, melainkan tentang kebersamaan, dukungan, dan rasa syukur yang tak pernah pudar. (***)














