PEMBARUAN.ID – Hari yang dinanti akhirnya tiba. Senin (26/08/2024) Presiden Joko Widodo akan kembali melangkahkan kakinya ke tanah Lampung, membawa misi besar—meresmikan tiga Proyek Strategis Nasional (PSN).
Bukan sekadar kunjungan, ini adalah tanda tangan pemerintah pada pembangunan yang telah lama dinantikan. Namun, di balik gegap gempita penyambutan dan janji infrastruktur, ada sejumlah pertanyaan yang perlu kita ajukan.
Bendungan Marga Tiga di Lampung Timur, Proyek Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di Bandarlampung, dan revitalisasi Pasar Pasir Gintung menjadi sorotan utama.
Tiga proyek ini digadang-gadang akan membawa perubahan signifikan bagi masyarakat setempat. Namun, apakah semuanya benar-benar siap?
Mari kita lihat lebih dekat. Bendungan Marga Tiga, sebuah proyek ambisius yang diklaim akan mengatasi masalah irigasi dan penyediaan air bagi ribuan hektar lahan pertanian.
Tapi, pertanyaannya adalah: apakah manfaat ini akan benar-benar dirasakan oleh para petani kecil yang selama ini terpinggirkan? Apakah mereka dilibatkan dalam proses perencanaan? Atau ini hanya akan menjadi simbol pembangunan tanpa keadilan bagi mereka yang paling membutuhkan?
Lalu ada Proyek SPAM di Bandarlampung, sebuah inisiatif untuk mengatasi krisis air bersih di kota ini. Dengan peresmian ini, diharapkan akses air bersih akan semakin luas.
Tapi, di balik itu, apakah sistem ini akan mampu melayani kebutuhan seluruh warga tanpa terkecuali? Kita tidak boleh lupa bahwa persoalan mendasar dalam banyak proyek infrastruktur adalah distribusi yang tidak merata, yang akhirnya justru memperparah ketimpangan sosial.
Revitalisasi Pasar Pasir Gintung, yang juga menjadi bagian dari agenda Presiden, mengundang tanda tanya besar. Pasar, sebagai urat nadi ekonomi rakyat kecil, sering kali hanya menjadi korban dari modernisasi yang tidak memikirkan dampaknya bagi pedagang tradisional.
Apakah revitalisasi ini akan membawa kesejahteraan bagi mereka, atau justru menggusur kehidupan ekonomi mereka yang sudah terpinggirkan?
Polda Lampung, dengan sigap mengerahkan lebih dari 250 personel untuk memastikan kelancaran kunjungan ini.
Ironisnya, di balik kesiapan aparat, kita masih melihat banyak hal yang belum siap. Masyarakat dihimbau untuk tetap tenang dan mengikuti aturan, namun apakah mereka diajak untuk berpartisipasi dalam pembangunan ini, atau hanya menjadi penonton di tengah hingar-bingar acara peresmian?
Dalam setiap peresmian, di balik gunting pita dan sorotan kamera, ada banyak pertanyaan yang seharusnya diajukan. Apakah proyek-proyek ini benar-benar dirancang untuk mereka yang membutuhkan, atau hanya menjadi ajang pamer pemerintah?
Saat Presiden Jokowi melangkah ke Lampung, mari kita ingat, bahwa pembangunan yang sejati bukan hanya soal infrastruktur, tapi tentang bagaimana infrastruktur itu membawa perubahan nyata bagi kehidupan rakyatnya.
Ketika gemuruh peresmian tiga Proyek Strategis Nasional di Lampung mulai mereda, kita dihadapkan pada kenyataan yang tidak bisa diabaikan.
Janji-janji infrastruktur yang megah harus diimbangi dengan keberpihakan pada rakyat, bukan sekadar pembangunan fisik yang membungkus ketimpangan yang ada.
Di balik setiap proyek besar, ada harapan yang perlu dijaga, dan ada kepentingan yang harus diperjuangkan.
Kita perlu terus mengawasi, mengkritisi, dan memastikan bahwa pembangunan ini tidak hanya sekadar pencapaian administratif, tetapi benar-benar membawa perubahan positif bagi mereka yang paling membutuhkan.
Sebab, di ujung hari, yang kita butuhkan bukanlah bangunan megah atau sistem canggih, melainkan kesejahteraan yang dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. (red)














