PEMBARUAN.ID – Wacana penentuan lokasi Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) ke-35 semakin mengerucut pada dua opsi besar: tetap digelar di Pulau Jawa atau dipindahkan ke luar Jawa. Dalam beberapa pekan terakhir, dukungan terhadap penyelenggaraan di Nusa Tenggara Barat (NTB), khususnya di Pondok Pesantren Qamarul Huda Bagu, Lombok Tengah, semakin menguat.
Ponpes Qamarul Huda Bagu yang diasuh Tuan Guru Haji (TGH) Lalu Turmudzi Badaruddin dikenal sebagai salah satu pusat pendidikan Islam terbesar dan tertua di NTB. Berdiri sejak 1962, pesantren ini memiliki ribuan santri dan jenjang pendidikan lengkap mulai RA hingga perguruan tinggi.
Selain itu, TGH Turmudzi dianggap sebagai salah satu kiai sepuh NU yang memiliki karomah, dihormati para ulama, dan kerap disowani para petinggi nasional.
Wasekjen PBNU, H. Imron Rosyadi Hamid, menilai penyelenggaraan Muktamar di NTB merupakan bentuk penghargaan terhadap jasa besar TGH Turmudzi.
“Sejak 1962 beliau berjuang membangun pesantren dan NU di NTB. Sudah selayaknya beliau mendapatkan penghargaan dengan penyelenggaraan Muktamar di ponpes beliau. Mumpung beliau masih sugeng,” tegasnya.
Dukungan ini juga dipengaruhi dinamika internal NU menjelang Muktamar. Sejumlah tokoh menilai pemindahan lokasi ke NTB bisa menjadi langkah strategis untuk menciptakan suasana lebih kondusif. Sebab, jika tetap digelar di Jawa, potensi terjadinya gesekan antarkelompok dinilai cukup tinggi.
“Kalau di Jawa, potensi kisruhnya besar. Romli itu susah dikendalikan,” ujar Purwoto M. Ali, salah satu pengamat internal NU.
Ia juga menilai bahwa figur kiai sepuh menjadi faktor penting dalam penentuan lokasi. Pada Muktamar 1984 di Situbondo, kehadiran KHR As’ad Syamsul Arifin menjadi penopang utama stabilitas forum. Namun, saat ini ikon kuat seperti itu dinilai mulai berkurang di Jawa.
“Kalau di Sukorejo Situbondo, siapa kiai yang jadi ikon sekarang? Karomahnya sudah berkurang, pejabat pun jarang bersowan. Artinya, ponpes itu kini kurang diperhitungkan,” ujarnya.
Di sisi lain, Pemerintah Kabupaten Situbondo juga sebelumnya menyatakan kesiapan penuh apabila Muktamar tetap digelar di Jawa. Bupati Situbondo, Yusuf Rio Prayogo, menyebut daerahnya memiliki ikatan sejarah yang kuat dengan NU dan pernah sukses menjadi tuan rumah pada 1984.
Namun geliat dukungan terhadap NTB tetap terus menguat, terutama karena figur TGH Turmudzi yang dinilai sangat pantas mendapatkan penghormatan besar dari NU. Selain itu, suasana pesantren yang lebih tenang dan jauh dari potensi friksi antar-kelompok juga dianggap menjadi nilai lebih.
“Insyaallah, salah satu tempat versi Rais Aam untuk Muktamar adalah NTB, di pesantrennya TGH Turmudzi,” ungkap Purwoto.
Sejumlah pengamat bahkan membayangkan kemungkinan pengulangan sejarah. Pada 1984, Muktamar di Situbondo dibuka Presiden Soeharto di tengah turbulensi NU dan berhasil melahirkan Ketua Umum PBNU yang baru.
“Bisa jadi menantu Pak Harto yang sekarang menjadi Presiden akan membuka Muktamar di tempat yang sama—atau justru di NTB—dan muncul Ketua Umum PBNU yang baru,” ujar salah satu tokoh.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, opsi penyelenggaraan Muktamar NU ke-35 di NTB bukan hanya menguat, tetapi mulai menjadi pilihan realistis yang dinilai mampu menghadirkan keteduhan, penghormatan pada ulama sepuh, serta arah baru bagi perjalanan organisasi terbesar umat Islam Indonesia ini. (***/red)














