iklan
SUDUT PANDANG

Sebuah Refleksi Seabad Jami’ah NU

×

Sebuah Refleksi Seabad Jami’ah NU

Share this article

Oleh: Dr. H. Wahyu Iryana
Penulis Kader Muda NU

KH Saifuddin Zuhri dalam Guruku Orang-orang dari Pesantren merekam sebuah peristiwa sederhana yang justru membuka pintu refleksi besar tentang perjalanan Nahdlatul Ulama. Awal 1960-an ia menyaksikan pemuda NU berlatih drum band, mengenakan sepatu, dan berbaris rapi seperti organisasi modern.

Ia menangis, bukan karena terharu oleh kemajuan semata, melainkan karena teringat masa ketika santri NU hidup akrab dengan lumpur sawah, kulit legam terbakar matahari, berpakaian seadanya, bahkan menganggap sabun dan alas kaki sebagai kemewahan. Dari realitas agraris yang sederhana itulah NU lahir dan tumbuh.

NU sejak awal bukan organisasi elite. Ia dibesarkan oleh pesantren desa, oleh masyarakat kecil yang miskin secara ekonomi tetapi kaya keteguhan moral. Pesantren bukan sekadar lembaga pendidikan, melainkan pusat peradaban rakyat: tempat ilmu ditanam, akhlak disemai, solidaritas dipraktikkan, dan keberanian sosial dilatih. Tradisi keagamaan seperti tahlilan, pengajian kampung, istighatsah, dan musyawarah warga bukan ritual kosong, melainkan teknologi sosial yang menyatukan umat dalam kebersamaan.

Seabad kemudian, NU telah menjelma menjadi kekuatan sosial-keagamaan terbesar di Indonesia. Jaringan pesantrennya puluhan ribu, lembaga pendidikan Ma’arif tersebar luas, perguruan tinggi, rumah sakit, panti asuhan, hingga lembaga pemberdayaan umat berdiri di berbagai daerah. Kemajuan ini patut disyukuri. Namun justru di tengah kemapanan itu muncul kegelisahan yang layak disuarakan: jangan-jangan NU semakin besar secara institusional, tetapi semakin menjauh dari akar peradaban sosial yang dulu menghidupkannya.

Satirnya, NU kini sering tampil di gedung megah, forum prestisius, dan ruang kekuasaan, tetapi ruh surau lumpur yang melahirkannya kian terasa memudar.

Statistik lembaga kerap dirayakan, sementara keadilan sosial bagi umat kecil berjalan lamban. Padahal sejarah NU adalah sejarah kerja sunyi, bukan kerja seremonial. Resolusi Jihad lahir dari ruang sederhana para kiai pesantren, bukan dari hotel berbintang. Madrasah NU berdiri dari gotong royong jamaah, bukan dari anggaran raksasa. Harmoni sosial dibangun lewat tahlilan kampung dan musyawarah desa, bukan lewat seminar toleransi berjilid-jilid.
Justru di sinilah kekuatan sejati NU: pada tradisi sosial-keagamaan yang membumi.

Tahlilan bukan hanya doa untuk orang wafat, tetapi ruang solidaritas sosial. Pengajian kampung bukan sekadar ceramah, tetapi media pendidikan rakyat. Istighatsah bukan hanya permohonan spiritual, tetapi energi kolektif yang menumbuhkan harapan di tengah krisis. Musyawarah warga bukan ritual adat, tetapi praktik demokrasi lokal yang merawat kebersamaan. Tradisi-tradisi inilah yang selama puluhan tahun menjadi benteng sosial NU dalam menjaga harmoni bangsa.

Sayangnya, sebagian kalangan mulai memandang tradisi ini sebagai simbol keterbelakangan. Modernitas seolah harus identik dengan meninggalkan yang membumi. Akibatnya, NU berisiko kehilangan modal sosial terbesarnya. Padahal di tengah dunia yang makin individualistik, tradisi pesantren justru menawarkan model peradaban yang berbasis kebersamaan. Ketika masyarakat kota sibuk membangun komunitas artifisial demi solidaritas semu, NU telah lama memilikinya secara organik melalui ritual sosial-keagamaan.

Tema seabad NU, Menjaga Indonesia Merdeka Menuju Peradaban Mulia, semestinya dibaca sebagai amanah peradaban, bukan slogan perayaan. Peradaban mulia tidak lahir dari baliho besar atau panggung megah, melainkan dari keberanian membela yang lemah dan kesetiaan merawat yang kecil. Ia tumbuh dari kerja-kerja sunyi di desa, dari pendidikan rakyat sederhana, dari solidaritas sosial yang hidup di tengah masyarakat.

Namun tantangan NU hari ini tidak ringan. Kemiskinan struktural masih menggerogoti umat, ketimpangan pendidikan makin lebar, radikalisme menemukan ruang baru di dunia digital, dan politik identitas terus mengancam persatuan. Dalam situasi ini, NU tidak cukup hanya menjadi penyeimbang wacana. Ia harus kembali menguat sebagai gerakan peradaban rakyat yang nyata hadir di tengah kesulitan umat.

Kritik juga patut diarahkan pada sebagian elit jam’iyah yang larut dalam hiruk-pikuk politik praktis. Jabatan sering lebih diperebutkan daripada pengabdian. Forum kekuasaan kadang lebih menarik daripada pengajian kampung. Padahal NU bukan jam’iyah jabatan, melainkan jam’iyah umat. Ia bukan organisasi panggung, tetapi organisasi pengabdian. Tradisi pesantren selalu mengajarkan bahwa kemuliaan lahir dari khidmah, bukan dari posisi.

Menjaga ruh peradaban NU bukan berarti menolak modernitas. Yang dibutuhkan adalah menghidupkan nilai lama dalam konteks baru. Pertama, memperkuat kembali basis akar rumput melalui pesantren, madrasah desa, koperasi umat, dan layanan sosial murah sebagai prioritas utama. Kedua, memastikan kader NU yang masuk ruang kekuasaan membawa misi keberpihakan jam’iyah, bukan sekadar kepentingan pribadi. Ketiga dan ini yang paling penting merawat tradisi sosial-keagamaan sebagai modal peradaban utama NU. Keempat, bersikap lebih tegas dalam mengkritik ketidakadilan struktural yang menindas umat kecil.

Tradisi tahlilan, pengajian, dan musyawarah warga perlu terus diperkaya dengan isu-isu sosial aktual: kemiskinan, pendidikan, lingkungan, dan keadilan. Dari surau dan pesantren, kesadaran peradaban harus tumbuh. Inilah cara NU tetap relevan tanpa kehilangan jati diri. Modernitas NU seharusnya tidak menghapus akar sosialnya, tetapi memperkuatnya.

Islam rahmatan lil ‘alamin yang selalu digaungkan NU harus hadir tidak hanya dalam bahasa toleransi yang manis, tetapi dalam keberpihakan nyata kepada yang tertindas. Senyum keramahan harus disertai keberanian melawan ketidakadilan. Doa-doa kolektif harus berjalan seiring dengan kerja sosial konkret.

Seabad NU sejatinya adalah momentum muhasabah kolektif. Apakah jam’iyah ini masih setia pada lumpur sawah yang melahirkannya, atau justru mulai nyaman di karpet merah kekuasaan? Apakah NU masih menjadi rumah bagi kaum kecil, atau perlahan berubah menjadi institusi mapan yang sibuk mengurus dirinya sendiri?
Sejarah telah membuktikan bahwa NU mampu mengubah bangsa lewat kerja sunyi berbasis tradisi sosial-keagamaan. Tugas generasi hari ini adalah memastikan kerja sunyi itu tidak tergantikan oleh hiruk-pikuk seremonial. Peradaban tidak dibangun dari kemewahan, tetapi dari keadilan. Tidak lahir dari perayaan, tetapi dari pengabdian. Tidak tumbuh dari kekuasaan, tetapi dari keberpihakan.

Selama NU tetap merawat tradisi pesantrennya, setia pada umat kecil, dan berani mengoreksi diri, jam’iyah ini akan terus menjadi gerbang peradaban Indonesia. Dari pinggiran ia lahir, dan dari pinggiran pula ia seharusnya terus menjaga bangsa.

Wallahualam


Berlangganan berita gratis di Google News klik disini
Ikuti juga saluran kami di Whatsapp klik disini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *