Oleh: Ariyadi Ahmad
Kader Muda Nahlatul Ulama
DI Nahdlatul Ulama, ada sosok yang tak banyak bicara namun ketika bersuara, kata-katanya menancap. Ia datang dengan ketenangan, pulang dengan pemikiran—dan di tengah-tengahnya, ia menebarkan ilmu.
Dialah KH Zulfa Mustofa, ulama, akademisi, dan penyair Arab yang hari ini menduduki posisi strategis sebagai Wakil Ketua Umum PBNU.
Nama Zulfa mengendap pelan dalam percakapan publik, tetapi mengakar kuat di kalangan santri dan kiai.
Jejak hidupnya seperti jalan panjang yang ditempuh tanpa gegap gempita: konsisten, telaten, dan penuh usaha. Ia lahir di Jakarta, 7 Agustus 1977, dari keluarga yang memadukan keulamaan Pekalongan dan karomah ulama besar Nusantara.
Dari jalur ibunya, mengalir nasab Syekh Nawawi al-Bantani, ulama dunia yang juga menjadi leluhur dari KH Ma’ruf Amin.
Masa Kecil dan Pendidikan
Zulfa kecil memulai sekolah di SD Al-Jihad Jakarta, sebelum pindah ke Pekalongan mengikuti langkah keluarga. Ia melanjutkan pendidikan di MTs Salafiyah Simbangkulon, lalu merapat ke pusat emas fikih Nusantara: Pesantren Mathali’ul Falah, Kajen, tempat di mana kealimannya bertumbuh.
Di Kajen, ia bukan hanya belajar fikih, tetapi juga meresapi ruh kajian ushul fikih dari para masyayikh. Di sela-sela menghafal matan, matanya akrab dengan bait-bait syair Arab klasik. Dari sinilah bakatnya memahat kata dalam ritme arudl mulai tampak.
Dari Ansor Hingga PBNU
Tahun 1997, Zulfa memulai langkahnya di NU lewat GP Ansor. Bukan karier yang dibangun dengan lompatan, melainkan pendakian bertahap: mulai dari kader muda, naik menjadi pengurus, lalu dipercaya mengemban posisi keulamaan.
Ia pernah menjadi Ketua LBM PBNU, dilanjutkan menjadi Katib Syuriah PBNU, dan kini menduduki salah satu posisi tertinggi: Wakil Ketua Umum PBNU.
Semua dijalani tanpa ambisi berlebihan, seolah ia selalu tahu bahwa ilmu lebih penting daripada sorak-sorai jabatan.
Penyair yang Menalar Hukum
Dalam dirinya, logika hukum Islam berpadu dengan rasa bahasa Arab. Zulfa adalah ahli fikih, ushul fikih, sekaligus ahli arudl, satu kombinasi yang jarang ditemui.
Pada 2024, UIN Sunan Ampel Surabaya menganugerahkan Doktor Honoris Causa bidang Ilmu Arudl. Bukan karena ketenaran, tetapi karena ketekunan intelektualnya: kemampuan menganyam ilmu hukum Islam dengan keindahan syair.
Karya-Karya
Kiai Zulfa menulis sejumlah karya ilmiah yang menjadi rujukan santri dan akademisi:
- al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi Li al-Mutafaqqih Jahluhu
- Diqqat al-Qonnas fi Fahmi Kalam al-Imam al-Syafi’i
- Tuhfat al-Qashi wa al-Dani fi Tarjamat al-Syaikh Muhammad Nawawi ibn ‘Umar al-Bantan
Khusus untuk Syekh Nawawi, ia menyusun biografi leluhurnya dalam bentuk syair Arab—sebuah penghormatan yang hanya mungkin lahir dari tangan yang paham ilmu dan hati yang paham keturunan.
Ada ciri khas yang dikenali banyak orang dari seorang Zulfa: ketenangannya. Ia berbicara dengan terukur, logis, tanpa nada tinggi. Dalam banyak forum, ia kerap menyelipkan nadhom—syair Arab—sebagai jembatan antara pesan dan perasaan.
Pandangannya soal peran ulama jelas: Ilmu adalah pelayanan. Ulama bukan penonton, tetapi pelaku.
Karena itu ia mendukung program-program NU yang bersinggungan dengan umat: koperasi, rumah sakit, hingga penguatan ekonomi warga.
Ia tidak membagi dunia menjadi panggung dan penonton. Baginya, semua adalah gelanggang kontribusi.
Di tengah hiruk pikuk wacana keagamaan, Zulfa hadir sebagai figur yang menjahit tradisi dengan modernitas tanpa mencederai keduanya. Ia bukan tipe yang mengejar sorotan, namun cahaya ilmunya justru membuat orang memerhatikannya.
Sosok seperti ini jarang: tenang dalam gerak, dalam dalam berpikir,
dan tajam dalam meletakkan kata.
Ia bekerja dalam diam, tetapi diamnya penuh makna. Ia melangkah perlahan, tetapi jejaknya panjang.
Tabik














