PEMBARUAN.ID – Acara edukasi gizi yang digelar Muslimat NU di Bandar Jaya, Lampung Tengah, pada Sabtu (05/10/2024), tampak sarat makna dan penuh perhatian terhadap masa depan anak-anak Indonesia.
Di tengah-tengah suasana yang hangat, satu pesan penting bergema jelas: kental manis, yang sering kali disalahartikan sebagai susu, berbahaya bagi kesehatan anak-anak, khususnya mereka yang berisiko mengalami stunting.
Pernyataan ini disampaikan oleh Arief Hidayat SE MM, Ketua Harian Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI), dalam edukasi gizi dan penentuan peran kental manis dalam pola makan anak.
“Susu kental manis bukanlah susu dan tidak boleh diberikan sebagai pengganti ASI,” tegas Arief di hadapan para peserta.
Dalam diskusi yang berlangsung di Hotel BBC, Bandar Jaya, Arief menyebutkan bahwa 3 dari 5 anak stunting di Indonesia diketahui mengonsumsi kental manis di masa bayi atau anak-anak, berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan.
Fakta ini mengingatkan kita akan pentingnya pemahaman yang benar tentang gizi anak, terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan yang sangat krusial untuk pertumbuhan dan perkembangan mereka.
Acara ini juga menandai pengukuhan kader ibu asuh bagi anak-anak yang terindikasi stunting, yang diharapkan dapat membantu mempercepat penurunan angka stunting di wilayah Lampung.
Fita Nahdia, Ketua PW Muslimat NU Lampung, dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi antara berbagai pihak untuk menuntaskan masalah ini.
“Kami berharap kader ibu asuh stunting ini dapat berperan aktif dalam menurunkan angka stunting di Lampung,” ujarnya.
Di sisi lain, Ketua VIII PP Muslimat NU, Hj. Ariza Agustina, mengajak seluruh peserta untuk merenungkan mengapa stunting masih menjadi masalah di sekitar kita. Ia juga menekankan pentingnya peran ibu asuh dalam memberikan pendampingan kepada anak-anak yang membutuhkan.
“Kita harus bekerja keras agar anak-anak ini terhindar dari stunting, karena stunting berdampak pada kualitas hidup mereka, termasuk kemampuan kognitif dan kesehatan fisik,” jelas Ariza.
Kegiatan ini menghadirkan berbagai narasumber yang ahli di bidangnya, mulai dari Arief Hidayat SE MM, Zahro Mutmainah, S. Gz dari Dinas Kesehatan Lampung Tengah, hingga dr. Erna Yulia dari PP Muslimat NU.
Masing-masing memberikan pandangan mereka tentang pentingnya edukasi gizi dan peran masyarakat dalam memerangi stunting.
“Jangan pernah memberikan kental manis kepada bayi,” tegas Zahro, yang memaparkan materi tentang 1000 hari pertama kehidupan.
Dengan adanya acara ini, diharapkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya gizi anak semakin meningkat, sehingga generasi masa depan Indonesia dapat tumbuh sehat, cerdas, dan siap berkontribusi dalam pembangunan bangsa. (***)














