PEMBARUAN.ID — Seratus tahun setelah kelahirannya, Pramoedya Ananta Toer kembali dihadirkan ke ruang publik Indonesia. Bukan melalui monumen atau seremoni simbolik, melainkan lewat sebuah buku yang menghimpun seratus suara penulis lintas generasi. Di antara nama-nama terkurasi itu, tercantum Wahyu Iryana, sejarawan dan penyair dari UIN Raden Intan Lampung.
Buku Mengenang 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer diluncurkan di Kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta, Selasa (09/12/2025). Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, menulis pengantar buku tersebut, menegaskan posisi karya ini sebagai peristiwa kebudayaan nasional, bukan sekadar buku peringatan.
Peluncuran di BRIN menghadirkan ironi yang bermakna. Lembaga riset negara menjadi ruang diskusi bagi sosok sastrawan yang sepanjang hidupnya kerap berhadap-hadapan dengan kekuasaan negara. Di ruang itu pula, Pramoedya dibaca ulang—bukan sebagai figur masa lalu yang dibekukan, melainkan sebagai pemikir yang terus menantang zaman.
Seratus penulis yang terlibat dipilih melalui proses kurasi ketat dari ratusan naskah yang masuk. Mereka berasal dari beragam latar belakang—sejarawan, akademisi, sastrawan, peneliti, hingga jurnalis—serta datang dari berbagai penjuru Indonesia. Buku ini menjadi peta ingatan kolektif tentang bagaimana Pramoedya dipahami dan diperdebatkan hari ini.
Wahyu Iryana menyumbang esai berjudul “Pramoedya dalam Ekosistem Digital: Resonansi Kesusastraan dan Narasi Perlawanan di Era Siber.” Dalam tulisannya, Wahyu tidak terjebak pada nostalgia atau puja-puji.
Ia justru memindahkan Pramoedya ke ruang yang jarang disentuh: dunia digital, tempat ingatan bergerak cepat, wacana saling bertabrakan, dan kuasa bekerja melalui algoritma.
Wahyu menunjukkan bahwa karya-karya Pramoedya yang dahulu disensor, dilarang, dan disingkirkan, kini menemukan kehidupan baru di ruang siber. Arsip digital, diskusi daring, hingga kutipan di media sosial menjadi medium baru bagi narasi perlawanan yang dulu ditulis Pramoedya dengan mesin tik dan kertas terbatas.
Pendekatan tersebut mencerminkan latar Wahyu sebagai sejarawan sekaligus penyair. Ia membaca sastra sebagai bagian dari sejarah panjang perlawanan intelektual Indonesia, sekaligus sebagai bahasa kemanusiaan yang lentur menghadapi perubahan zaman. Dalam pandangannya, Pramoedya tidak pernah usang—yang berubah hanyalah cara membacanya.
Bagi UIN Raden Intan Lampung, keterlibatan Wahyu menjadi catatan penting. Kampus keagamaan negeri dari luar pusat turut menyumbang gagasan dalam percakapan kebudayaan nasional. Dari daerah, pemikiran bergerak ke pusat—sebuah alur yang justru sejalan dengan semangat Pramoedya sendiri.
Pengantar Fadli Zon memberi bingkai resmi atas upaya tersebut. Ia menempatkan Pramoedya sebagai figur kunci kebudayaan Indonesia modern, penulis yang karyanya tidak hanya membangun tradisi sastra, tetapi juga melatih keberanian berpikir kritis. Dalam bingkai itu, seratus penulis diposisikan sebagai pembaca aktif, bukan pengagum pasif.
Pada akhirnya, Mengenang 100 Tahun Pramoedya Ananta Toer tampil bukan sebagai buku kenangan yang sentimental, melainkan ruang tafsir. Setiap tulisan di dalamnya menegaskan bahwa Pramoedya masih hidup dalam perdebatan, ditafsirkan ulang, dan terus diuji relevansinya.
Bagi Wahyu Iryana, kehadiran di buku ini bukan sekadar capaian personal. Ia menjadi penanda bahwa tradisi menulis dengan keberanian moral—tradisi yang diwariskan Pramoedya—masih terus hidup.
Kini, tradisi itu tidak hanya berdiam di rak buku, tetapi bergerak di layar, jaringan, dan ruang siber, tempat generasi baru membaca, bertanya, dan melawan lupa. (***/red)














